Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Musibah


17+


Bijak lah dalam membaca! Karena di part ini terdapat adegan kejahatan!


Hari ini Deon dan Gio tengah menangani kasus Gilang dan Luna bersama para anggota polisi setelah sebelumnya mereka menyerahkan semua bukti yang mereka punya, ternyata bukti rekaman itu cukup kuat untuk menangkap Gilang dan Luna.


Mereka kini pergi menuju apartemen Gilang untuk menangkapnya, baru setelah itu mereka mencari Luna.


"Deon kamu yakin Gilang ada di apartemennya?" tanya Gio ragu.


"Ck, yakinlah! gue udah suruh mata-mata buat mantau Gilang selama beberapa hari ini. Mereka juga bilang kalau hari ini Gilang sama sekali tidak keluar dari apartemennya," sahut Deon.


Gio menggaruk pelipisnya pelan, dia merasa ada yang aneh dengan perkataan Deon.


"Bukankah aneh jika dia tak keluar dari apartemennya beberapa hari ini? dia juga perlu makan bukan? memangnya dia tak punya urusan keluar?" tanya Gio heran.


Deon mencoba mencerna apa yang di ucapkan Gio, dia melihat sekeliling yang ternyata mereka telah sampai di parkiran apartemen Gilang.


"Bisa saja dia mempunyai stok makanan, atau dia malas keluar bukan?" balas Deon.


Mereka keluar dari dalam mobil diikuti para polisi yang sudah lebih dulu memasuki gedung Apartemen Gilang.


"Memangnya Gilang pria beristri yang selalu mempunyai stok makanan di kulkas?" gumam Gio.


Sesampainya mereka di depan unit Apartemen Gilang, para polisi segera mengetuk pintu. Akan tetapi tak ada sahutan, sehingga mereka mendobraknya.


BRAK!


para polisi masuk dengan senjata mereka, sementara Deon dan Gio akan mengikuti mereka. Namun, netra mereka menangkap sesuatu yang membuat mereka mengambilnya.


Sebuah benda yang mirip seperti kartu yang mengakses pintu apartemen. Mereka menatapnya dengan heran, mengapa kartu ini berada di luar.


"Loh, inikan kartu akses apartemen dan nomornya kamar ini kok," ujar Gio sambil melihat pintu Apartemen Gilang.


Deon mengambilnya, dia menatap noda merah yang berada di kartu tersebut. Noda darah yang mencetak sidik jari, dia mencurigai bahwa itu adalah darah.


"Darah?" gumam Deon.


Deon langsung saja masuk diikuti oleh Gio, mereka menatap ruangan minimalis yang banyak sekali berserakan sampah dan pakaian.


Mereka melihat para polisi sedang melihat sesuatu, Deon berjalan cepat melihat itu.


"Minggir!" titahnya pada salah satu orang polisi yang menghalangi pemandangannya.


Polisi tersebut memundurkan tubuhnya, sehingga Deon bisa melihat apa yang terjadi Netra Deon membulat sempurna, dia segera mendekati apa yang menjadi perhatian yang ada disana.


"Maaf tuan Deon, sepertinya sebelum kita kesini ada seseorang yang menemui tersangka." ujar pemimpin polisi tersebut sambil memakai sarung tangannya.


Deon melihat Gilang yang sudah tak bernyawa di atas tempat tidurnya, dengan luka yang berada di perutnya sehingga seprai Gilang yang tadinya berwarna putih kini berubah menjadi merah.


"Bagaimana bisa? siapa pelakunya?" ujar Gio yang syok saat melihat Gilang yang mati mengenaskan.


"Kami tidak tahu, tapi kami akan menyelidiki hal ini. Saya telah menghubungi detektif kepercayaan untuk menangani kasus ini," ujar kepala polisi tersebut.


Deon menatap tangannya yang memegang kartu akses tadi, dia berjalan mendekati kepala polisi untuk menyerahkannya.


"Tadi saat di depan pintu kami menemukan kartu akses ini, dan terdapat noda darah berbentuk sidik jari. Coba anda lihat siapa tahu ini bisa menjadi bukti untuk menemukan pelaku." ujar Deon sambil menyerahkan kartu itu.


Kepala polisi mengambilnya dan memasukkannya ke dalam kantung plastik. Tak lama setelahnya dua orang detektif datang dan mencari bukti lain di dalam kamar tersebut.


Sementara itu Gio dan Deon dan juga beberapa polisi pergi untuk mencari Luna, yang mereka tahu jika Luna menginap di sebuah hotel yang tak jauh dari sini.


Sesampainya mereka di depan hotel Luna, para polisi bergerak untuk masuk setelah Pegawai hotel membukakan pintu saat tau polisi akan menangkap tamu hotel mereka.


Cklek.


Mereka langsung masuk masuk dan mencari Luna di setiap ruangan, akan tetapi mereka tak menemui Luna dimana pun.


"Deon, apakah kau juga memantau Luna?" tanya Gio.


Deon menggeleng, dia tak memantau Luna karena dia pikir wanita itu tak akan kemana-mana. Berbeda dengan Gilang yang bisa saja kabur dan mencari tempat persembunyian.


"Apa kau bodoh? Gilang tak tau bahwa dia akan di tangkap, sedang Luna mengetahuinya. Kenapa kau memata-matai Gilang, sementara Luna kau bebaskan!" kesal Gio.


Deon mematung, dia melupakan hal itu. Dia berpikir bahwa Luna tak akan bisa kemana-mana sedangkan Gilang memiliki peluang untuk kabur.


"Gue lupa," lirih Deon.


Dertt.


Ponsel Deon berbunyi, tangannya bergerak untuk mengambilnya di saku jaket yang sedang ia pakai. Dia menatap nomor tak di kenal di layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Gio.


Deon mengangkat bahunya, dia langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Halo,"


"Kalian mencariku? ah, sayang sekali aku tak berada di sana ... kau tahu aku dimana Deon?"


Deon terdiam mendengar suara dari sana, dia sangat hafal suara tersebut. Itu adalah suara Luna, dia tak menyangka bahwa Luna menelponnya.


"Kau terkejut mengapa aku bisa menelponmu huh? apa kau tak tahu ini nomor siapa? yah, ini adalah ponsel milik kakak tersayang ku hahaha," ujar Luna.


"Luna! apa jangan-jangan kau yang telah membunuh Gilang?!" sentak Deon.


Luna tertawa, dia sudah seperti orang yang memiliki gangguan jiwa. Hanya ada tawa, tawa dan tawa yang keluar dari suaranya.


"Kau tahu apa yang sedang ku lihat?" tanya Luna.


Deon mengerutkan keningnya ketika sebuah notifikasi memasuki ponselnya, dia segera melihat apa yang Luna kirimkan.


"Alden?" heran Deon.


Deon melihat sebuah video Alden yang tengah memasuki mobil dengan Elbert yang berada di gendongannya, mobil mereka berjalan menjauhi Mansion Alden.


"Apa maksudmu dengan Video itu hah?!" teriak Deon.


Gio tak mengerti, dia hanya menatap Deon yang tengah menelpon Luna.


"Tak perlu terburu-buru, aku hanya ingin memberi tahumu bahwa sebentar lagi mobil mereka akan meledak." ujar Luna sambil mengeluarkan suara ledakan.


Deon membulatkan matanya, dia segera mematikan sambungan telpon itu dan segera mencari kontak Alden.


"Ada apa?" tanya Gio dengan heran, sementara para polisi hanya menunggu intruksi dari Deon yang saat ini tengah menahan gugup.


Gio yang merasa di cueki akhirnya menarik kerah Deon, dia sangat kesal dengan sahabatnya ini yang memegang ponsel dengan tangan yang bergetar.


"Sebenarnya apa yang terjadi Deon! beritahu aku!" sentak Gio.


Gio terdiam, dia mencerna apa yang Deon katakan. Dia menatap pada polisi yang juga sepertinya tengah terkejut.


Deon lari keluar sambil menelpon Alden, sementara Gio dam para polisi mengikuti kemana perginya Deon.


Sementara itu, sesuai janji Alden pada putranya, hari ini dia akan membawa sang putra ke pet shop. Amora tak ikut dengan mereka, dia sedang tak ingin kemana-mana. Sementara Aqila sudah berangkat sekolah.


"Ayo daddy kita pergi," ujar Elbert saat berada di pangkuan daddynya.


Alden tersenyum, dia memasang sabuk pengaman. Alden sengaja memakai supir untuk kali ini, dia hanya males saja untuk menyetir sendiri.


"Ok, kita pergi. Pak, kita berangkat sekarang." pinta Alden pada supirnya.


"Baik tuan," jawab sang supir.


Perjalanan mereka diiringi oleh ocehan Elbert, dia tak henti-hentinya menceritakan tentang kucingnya yang dulu hilang.


"Oh ya, pasti El sedih sekali." sahut Alden pada cerita anaknya sambil mengelus rambut tebal sang anak.


"iya El cedih, tapi selakang kita mau beli yang balu. Jadi El nda cedih lagi," ucap antusias anak itu.


Alden tersenyum, dia mendekap sang anak yang berada di pangkuannya. Hidupnya kini sudah terasa lengkap dengan adanya hal baru yang ia baru saja sadari. Yaitu, tentang putranya dan istrinya Amora.


Dertt


Ponsel Alden berbunyi, dia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon.


"Deon? bukankah dia sedang mengurus Gilang dan Luna untuk di jebloskan ke penjara? ada apa dia menghubungiku?" gumam Alden.


Alden mengangkatnya, dia mengerutkan keningnya bingung ketika mendengar suara berisik dari sana.


"Halo! Deon! kau mendengar ku? kenapa kau menelponku? apa penangkapannya sudah selesai?" tanya Alden ketika ia mendengar suara Deon.


"Al, lu dimana?!" ucap Deon dengan panik.


Alden mengerutkan keningnya, dia tak mengerti mengapa Deon secemas ini.


"lu kenapa hah!" kesal Alden.


"Jawab gue Al! lu dimana?!" tanya Deon lebih keras.


Alden heran, dia menatap Elbert yang juga tengah menatapnya bingung. Dia melihat daerah sekitar.


"Gue lagi bawa Elbert ke pet shop kenapa?" sahutnya.


Terdengar decakan dari sana, Alden semakin tang mengerti ketika mendengar suara mobil yang melaju kencang.


"Hentikan mobilnya sekarang Al!" sentak Deon.


Alden tak mengerti, dia mengerutkan alisnya ketika mendengar suara kelakson dari suara Deon.


"Kau ini kenapa hah?" tanya Alden yang merasa heran.


"Luna memasangkan bom di mobilmu! cepat hentikan mobilmu sekarang juga! aku tak tau berapa lama lagi bom itu akan meledak!" teriak Deon.


Alden membulatkan matanya, dia menatap bangku belakang mobil yang terdapat sebuah kain yang menutupi sesuatu. Alden langsung menarik kain tersebut, dia terkejut ketika melihat apa yang berada di dalam mobilnya.


"Pak! hentikan mobilnya sekarang pak! ada bom di dalam mobil!" sentak Alden.


Sang supir yang terkejut pun langsung menginjak rem, akan tetapi rem tersebut tak berfungsi sama sekali.


"Tuan, remnya blong!" panik Sang supir.


Alden terkejut, dia mengarahkan kakinya untuk menginjak rem. Namun, tetap saja mobil itu tak berhenti. Dia menatap putranya yang tengah menahan takut, dia bingung harus bagaimana.


Sang supir yang panik pun membelokkan mobilnya ke sebuah pohon. Mobil tersebut berhenti, Alden yang tadi mendekap putranya dengan erat mulai melonggarkannya.


"Hiks ... daddy hiks ... daddy," tangis Elbert.


Kaki Alden terasa sakit karena terjepit, dia menatap supirnya yang sudah tak sadarkan diri.


"Elbert," lirih Alden.


"Hiks huaaa," tangis Elbert.


Alden menoleh kebelakang menatap bom itu, dia membulatkan matanya saat melihat sisa waktu yang berada di bom itu.


"Lima menit lagi?!" kaget Alden.


Alden berusaha untuk membuka seatbelt mobil, setelahnya dia berusaha membuka pintu. Namun nihil, ia tak bisa membukanya.


"Bagaimana ini?!" panik Alden.


Tiba-tiba kaca mobilnya di ketuk, doa melihat seorang wanita paru baya yang tengah berusaha membuka pintu mobilnya.


Alden mengambil kepala jok mobilnya, dia memecahkan kaca tersebut menggunakannya.


Prang!


"Kau baik-baik saja?" tanya wanita itu khawatir.


"Nyonya, tolong selamatkan putraku. Didalam mobil ini terdapat bom dan pintu ini juga tak bisa terbuka," ucap Alden.


Elbert semakin takut saat melihat daddynya yang kesakitan, dia menatap wanita yang sedang berbicara dengan daddynya.


"El sayang, dengar daddy! El jangan nakal ya nak, turuti mommy ya sayang. Daddy sayang El, mommy dan adik. Jaga mommy dan adik untuk daddy ya sayang," lirih Alden sambil menahan tangisnya


Elbert semakin menangis, dia seperti akan kehilangan sang daddy. Tubuhnya di dekap erat oleh Alden, keningnya di kecup lama oleh sang daddy.


"Nyonya, tolong bawa putraku. Kita tak punya banyak waktu, ku mohon selamatkan putraku," ujar Alden sambil mengangkat Elbert keluar.


Wanita itu membawa Elbert ke gendongannya, dia melihat supirnya yang juga tengah berusaha membuka pintu mobil supir Alden.


Alden tersenyum melihat anaknya, dia memejamkan matanya saat merasakan sakit yang amat sangat.


Alden melihat jam tangannya, ternyata masih tersisa waktu 2 menit lagi untuk dirinya bertahan.


"Aku mencintai kalian," gumamnya.


Prang!


Amora yang sedang membuat susu hamilnya terkejut ketika gelas yang di pegangnya jatuh. Dia merasakan perasaan tak enak di hatinya, tangannya bergetar hebat yang dia tak tahu apa alasannya.


"Alden," gumam Amora.


Brak!


"Nyonya! tuan Alden ...,"