
Semua orang tengah berpakaian dengan warna yang sama. Hitam, warna yang selalu banyak orang pakai jika mengunjungi sebuah gundukan tanah.
Terlihat seorang pria tengah menjongkokkan dirinya dan memberi bunga pada gundukan tanah yang sudah dipenuhi rumput tersebut. Air mata pria itu jatuh saat mengingat kembali kenangan indah bersama seseorang di balik gundukan tanah itu.
"Al, sudahlah. Tak baik jika terus menangisinya, istrimu tengah menunggu di rumah." ujar seorang wanita sambil menepuk bahu pria tersebut yang ternyata adalah Alden.
Alden menoleh, mendapati mommynya yang sedang memayunginya. Dia berdiri dan kembali memakai kaca mata hitamnya.
"Cepatlah pulang, ini sudah gerimis. Elbert menangis mencarimu, kau taukan seberapa takutnya anak itu sejak kejadian beberapa waktu lalu. Dia bahkan takut pada orang lain selain kamu!" ujar Jeslyn sambil merangkul lengan sang anak.
Mereka beranjak dari sana, saat sampai gerbang pemakaman Alden menyempatkan dirinya untuk menoleh.
"Selamat jalan kekasih hatiku, terima kasih kau sempat berada di hati ini walau hanya sesaat." lirihnya.
Semuanya kembali ke dalam mobil masing-masing menuju mansion meninggalkan gundukan tanah yang tertulis nama Vani selvia Mentari pada nisan tersebut.
Flashback on.
Alden dan yang lainnya asik berbincang, mereka menyusun rencana agar Vani tak bertindak apapun pada Amora.
"PAPA!"
Dugh! Dugh!
Atensi mereka mengarah ke pintu, suara gedoran pintu begitu keras. Alden bangkit dari duduknya dan langsung membuka pintu tersebut.
Cklek.
"Aqila ada apa?" tanya Alden.
Alden heran menatap wajah putrinya yang sudah di banjiri air mata.
"Elbert hiks ... hiks ...," isak Aqila.
"Tenangin diri Aqila dulu, baru cerita ada apa?" ujar Alden yang melihat Aqila yang kesulitan akibat nafasnya yang tersenggal-senggal.
Setelah beberapa detik, Aqila mulai menceritakan apa yang terjadi tadi. Dia juga menceritakan apa yang dia dengar dari Vani yang berada di raga Amora.
"AMORA! JANGAN GILA KAMU!" teriak Gio.
Alden dan yang lainnya terkejut, dia segera lari menuju ruang tengah. Dia mengadahkan kepalanya ke atas dan betapa terkejutnya dia saat melihat Elbert yang akan di jatuhkan.
"Elbert!" histeris Queen.
Alden menempelkan hari telunjuknya pada yang lain, dia akan mengambil ancang-ancang untuk menyelamatkan Elbert.
"Mundur! jangan sampai dia melihat kita," ujar Alden.
Mereka semua mundur termasuk Alden, mereka juga mendengarkan apa yang Vani ucapkan tentang mengapa ia berada di tubuh Amora.
Alden mengadahkan kepalanya kembali, dia menghitung kapan Vani akan menjatuhkan putranya.
"Perkiraanku dia akan menjatuhkan Elbert dalam lima detik lagi," bisik Alden pada Arsel.
Arsel mengangguk, mereka semua bersiap untuk menangkap Elbert. Alden mulai menghitung mundur.
"SA ... TU!"
HAP!
BUGH!
Alden berhasil menangkap sang anak tetapi mereka semua histeris akibat Arsel yang akan menangkap Elbert malah terpeleset dengan kepala yang menghantam lantai.
"HAAAA." teriak para wanita sambil menutup mata mereka Karena mereka mengira bahwa Elbert yang jatuh.
Hans segera mengambil Elbert yang sepertinya sudah pingsan di gendongan Alden, dia segera memeriksa keadaan Elbert.
"Nathan, bawa cucumu ke rumah sakit. Aku akan menangani Amora." ujarnya sambil memberikan Elbert.
Jonathan mengangguk, dia segera membawa Elbert diikuti oleh Jeslyn, sementara yang lain langsung bergerak ke lantai dua.
Sesampainya di lantai dua, Alden langsung menarik Gio yang masih menjongkokkan dirinya.
"Bangun!" titah Alden.
"Al hiks ... aku gagal menyelamatkan Elbert hiks ...," isaknya.
Alden kesal, dia menarik paksa Gio untuk bangun.
"Bangun bodoh! aku berhasil menangkapnya, suara jatuh tadi karena Arsel yang terpeleset!" sentak Alden.
Gio menghentikan tangisannya, dia sangat malu karena seperti orang tidak waras kali ini.
Alden mengalihkan pandangannya pada Amora yang tengah di papah oleh Hans dan juga Erwin.
"Al, kita harus segera membujuk Vani agar mengembalikan jiwa Amora. Aku tau ini hal gila, tapi jika di biarkan terlalu lama ... jiwa Amora tidak bisa lagi kembali kedalam raga ini. Keputusan ada padamu, jujurlah pada hatimu siapa yang lebih kau cintai." ujarnya sambil menepuk bahu Alden pelan.
Arthur mendekat pada Alden, dia menarik kerah baju Alden sehingga pria itu bertatapan langsung pada wajah menantunya.
"Jika sampai kau tak rela jiwa itu keluar dari tubuh putriku ... aku akan melenyapkanmu saat itu juga!" marah Arthur.
Queen menenangkan suaminya, dia membawa suaminya untuk menjauhi Alden yang tampaknya sedang berpikir.
"Jangan bodoh hanya karena masa lalu, kita hidup untuk masa depan bukan untuk masa lalu. Penyesalan selalu datang terlambat, jangan sampai lu menyesal untuk kedua kalinya!" tekan Arjuna dan berlalu dari sana.
***
Di kamar Amora, Hans dan Erwin langsung merebahkan Amora di tempat tidur. Mereka mengelilingi tempat tidur itu sambil melihat apa yang Hans lakukan.
"Hans, apa kau adalah paranormal?" tanya Queen.
"Tidak, aku bukan paranormal." elak Hans sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka melihat Amora yang tersadar dari pingsannya, dia langsung memberontak tetapi Hans telah mengikat tangannya.
"Lepaskan paman! apa yang kau lakukan!" sentak Amora.
Alden memasuki kamar itu, dia berjalan seraya tertunduk. Dia mendekati ranjang sang istri dan menatap istrinya yang dikuasai oleh jiwa Vani.
"Hai Vani, bagaimana kabarmu?" tanya Alden.
Vani tersentak kaget, dia tersenyum ternyata Alden tahu jika dia adalah Vani. Betapa bahagianya hati Vani saat ini.
"Alden, aku memenuhi janjiku untuk bersamamu. Aku kira kau tak akan percaya dengan ini semua, tapi akhirnya kau mempercayai bahwa aku adalah Vani." ujarnya sambil tersenyum lebar.
Alden mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, dia menatap benda itu dengan lama.
"I-itu cincin pertunangan kita kan, kau masih menyimpannya? itu artinya kau masih mencintaiku kan?" ujar Vani.
Alden memasuki kamar mandi, dia menuju toilet untuk membuang cincin itu.
"ALDEN! APA YANG KAU LAKUKAN HAH!" teriak Vani.
"Tentu saja membuangnya!" sahut Arsel yang mewakili Alden.
Vani berusaha lepas dari ikatan yang Hans ikatkan tadi, dengan wajah marahnya dia menatap Alden yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"KENAPA KAU BUANG CINCIN ITU HAH!" teriak kembali Vani.
Alden tak menjawab, dia mengambil kursi dan duduk tepat di samping Vani. Dia menatap Vani yang tengah menatapnya marah.
"Katamu ... cincin adalah lambang cinta seseorang, tetapi aku telah membuangnya. Itu artinya tidak ada lagi cinta antara kau dan aku!" ujar Alden.
"BOHONG!" marah Vani.
"Aku tidak berbohong Van, sebelumnya kamu memang pernah singgah di hatiku. Tapi itu dulu, sebelum tempatmu tergantikan oleh istriku saat ini." terang Alden sambil membuang pandangannya.
Vani semakin marah, dia memberontak sehingga Arsel harus memegangi kaki Vani yang tidak diikat.
"Van, kamu wanita baik. Aku tahu kamu pasti tidak tega melenyapkan seseorang apalagi memisahkan anak dari ibunya. Obsesimu membuatmu menjadi jahat, aku mohon ... kembalikan istriku," lirih Alden sambil mengatupkan tangannya.
"KAU PASTI DI PAKSA MEREKA KAN!" teriak Vani.
Alden menggeleng, dia mengelus wajah istrinya yang terdapat jiwa Vani itu. Netranya begitu teduh saat memandang Vani.
"Aku tidak ingin seperti ini, aku tidak bisa bahagia jika kau terus begini. Tolong, keluarlah dari raga ini dan kembalikan istriku. Tempatmu bukan disini Van," lirih Alden.
"Hahaha, istrimu sedang bahagia di dunia ilusi itu! dia menjalani apa yang dia impikan, menjadi perawat, hidup tanpa kekangan, melupakan segalanya dan memiliki banyak teman! itu yang dia mau selama ini! aku hanya membantunya untuk mewujudkan mimpinya, itu saja!" ujar Vani.
Arthur dan Queen sontak terkejut, mereka saling menatap kemudian beralih menatap Alden yang juga tengah menatap mereka.
"A-amora memiliki cita-cita menjadi perawat, tetapi papi melarangnya karena papi menginginkan dia untuk menjadi CEO. Papi juga sering mengekangnya, dan melarangnya berbuat ini dan itu. Begitu pula dengan teman, papi membatasinya bermain dengan temannya." terang Queen sambil menatap Alden. Sementara Arthur tampak sangat menyesal.
Alden tentu saja terkejut, Vani memanfaatkan impian Amora untuk merebut raganya dan membuat Amora berada di dunia ilusi yang dia yakini bahwa dunia itu adalah dunia nyata.
"Aku baik Al, aku memberikannya apa yang ia inginkan," ujar Vani.
Alden kembali menatap Vani, dia menatap tajam Vani berbeda dari yang tadi.
"TAPI AKU MAU ISTRIKU! BUKAN MASA LALUKU! KEMBALIKAN ISTRIKU! AKU SUDAH TIDAK MENCINTAIMU VANI! teriak Alden.
Vani sontak terkejut, dia menggelengkan kepalanya secara brutal. Dia tampak sangat histeris yang mana membuat mereka mengerutkan keningnya bingung.
" TIDAK! TIDAK! AKU MASIH BISA MEYAKINKANNYA! JANGAAAAN!" teriak Vani setelah itu dia tertidur.
Kini ruangan sudah senyap, mereka menatap satu sama lain. Berbeda dengan Hans yang langsung mendekati tubuh Amora dan segera ia periksa.
"Apa maksudnya tadi paman?" ujar Alden.
"Cinta menguatkan segalanya, sedangkan cintamu sudah kosong sehingga jiwa Vani tertarik dengan sendirinya. Aku tidak tahu pada siapa dia berkata sepeti itu, mungkin dia memiliki perjanjian dengan jiwa lain. Lebih baik kau pastikan bahwa yang bangun nanti adalah Amora bukan jiwa lain lagi. Aku dokter tapi seperti dukun, oh ayolah aku benci itu!" ujar Hans dan berlalu dari sana.
"Hahaha bukan dukun paman, tapi paranormal." ujar Arsel sambil terkekeh.
"Sama aja bodoh!" kesal Hans.
Arthur membawa istrinya keluar, begitupula dengan Arjuna dan Arsel. Sementara Alden masih menunggui istrinya sadar.
"Eunghh," lenguh Amora.
"Sayang," panggil Alden.
Amora mengerjapkan matanya, dia menatap sekeliling ruangan dan tatapannya kembali terjatuh pada Alden.
"Mas," lirih Amora.
Alden tersenyum senang, dia memeluk istrinya dengan erat. Alden menangis pada pundak istrinya itu, dia sangat merindukan istrinya.
"Mas aku telah mengingat semuanya, Vani ... dia ... dia,"
"Syuttt, jangan kembali ucapkan nama dia. Sekarang hanya ada aku kamu dan kita, bukan dia," lirih Alden tepat di telinga Amora.
Amora membalas pelukan suaminya dengan erat, dia bersyukur kembali ke dalam raga ini.
"Mas, Elbert? Elbert mana? apa dia menyakitinya? dia ... dia sering pukul El mas! dia yang sering menyiksa putraku!" histeris Amora.
"Gak sayang, El gak papa. Dia sudah di bawa kerumah sakit mungkin dia pingsan karena syok. Sudahlah dia gak papa," tenang Alden.
Amora mengangguk, dia menatap langit-langit kamarnya. Kegiatannya tak lepas dari pandangan Alden.
"Dia membohongiku, dia berkata jika dia menyayangi Elbert. Ternyata dia ingin aku membuatmu mencintaiku setelah itu dia akan merebut kembali raga ini hiks ... aku takut ...,"
Cup!
Amora membelalakkan matanya terkejut, dia menatap Alden yang tersenyum menatapnya.
"Apa yang kau lakukan!" sentak Amora sambil menutup mulutnya.
"Tidak, aku hanya mencium istriku." ujar Alden sambil mendekatkan dirinya pada Amora.
Plak!
"Awshh sakit yang!" ringis Alden sambil mengusap pipinya pelan.
Amora mengerucutkan bibirnya, dia kesal dengan suaminya itu. Dia mengabaikan ringisan Alden akibat tamparannya.
"Sakit ... tapi aku suka," gumam Alden.
Flashback Off.
"HIKS ... DADDY," rengek Elbert.
Alden yang baru saja memasuki mansion tersenyum melihat anaknya yang berada di gendongan Deon.
"El mau daddy, nda mau cama om pembinol hiks ...." ujarnya sambil merentangkan tangan pada sang daddy.
Alden mengambil anaknya, dia menghapus air mata sang anak pada pipi gembul itu. Netranya tak sengaja menatap coretan pada pipi Elbert.
"Pipi anak gue lu apain Deon!" sentak Alden.
"Cuma gue coret pakai lipstik punya ayang gue," entengnya.
Alden menatap kesal ke arah sahabatnya, dia berusaha menghapus bekas itu.
"Eh kambing! ini waterproof dodol! kesal Alden.