Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Kembalilah!


Deghhh.


"K-kau ...,"


"Pftt ... hahahah, kau lucu sekali sayang. Lihatlah wajahmu yang ketakutan, apa aku membuat mu takut hm?" ujar Alden sambil menjauhi Amora dan menahan tawanya.


Amora masih tertegun, dia mengira jika Alden mengetahui segalanya. Ternyata ia salah, ternyata suaminya itu tengah bercanda. Dia mengelus dadanya pelan untuk menetralkan degup jantungnya.


"Kita akhiri bercandaan kita, sebaiknya kau istirahat. Sedari tadi kau belum istirahatkan? istirahatlah, nanti malam aku akan mengajakmu ke suatu tempat." ujar Alden sambil memasuki kamar mandi dan menutup pintunya


"Aku mengira dia tahu jika aku bukanlah Amora melainkan Keisya," ujarnya saat melihat pintu kamar mandi yang tertutup


Amora merebahkan dirinya di kasur, kehamilannya kali ini sungguh membuatnya lelah. Sangat jarang dia ngidam, dan itu membuatnya merasa bahagia karena tak akan merepotkan siapapun.


Amora mulai memasuki alam mimpinya, sementara Alden kini terpaku didepan cermin. Netranya menajam menatap bayangannya di cermin tersebut.


***


"AWAS!" teriak seorang perempuan terhadap seorang nenek yang hampir ketabrak mobil.


Perempuan itu berlari menghampiri sang nenek, dia membawa sang nenek ke tepi jalan.


"Nenek gak papa?" ujarnya.


"Nenek gak papa," ujar sang nenek yang sama sekali tak menatap wajah perempuan itu.


Perempuan itu semakin bingung ketika melihat sang nenek yang hanya terdiam, tangannya terulur hendak menyentuh bahu nenek tersebut.


"Berhenti!"


Perempuan itu semakin mengerutkan keningnya, dia menarik kembali tangannya ketika merasa aura yang berbeda pada nenek itu.


"Berhenti membuat dirimu nyaman disini, ingat!Jangan sampai kau tak bisa melepasnya dan berakhir jiwamu yang akan di tarik paksa. Kembalilah!" ujarnya.


Perempuan itu terkejut, dia menutup mulutnya tak percaya dengan ucapan si nenek.


"Apa maksud nenek? key gak ngerti?" tanya perempuan itu.


"Kau akan kembali ke dunia asalmu. jangan sampai dia menguasai tubuhmu dan berbuat seenaknya, dan dunia ini bukan dunia mu Arianha Amora!" ujar sang nenek dengan penuh penekanan.


Perempuan itu terkejut, dia segera menggelengkan kepalanya dengan brutal. Kepalanya sakit, telinganya berdenging. Bahkan pandangannya memburam. Perempuan itu menutup matanya dan telinganya yang mendengar ucapan nenek itu yang selalu terngiang di kepalanya.


"GAK! GAK! GAK MUNGKIN!" Teriak Keisya.


"AMORA!" teriak seseorang yang mana membuat perempuan itu membuka matanya.


"Sayang kau kenapa hei," panggilan halus dari Alden menyadarkan Amora dari mimpi buruknya.


Amora seperti orang linglung, dia menduduki dirinya dengan cepat. Netranya bergerak mencari seseorang, tetapi dia tak menemukannya. Di kamarnya hanya ada suaminya yang sedang menatapnya cemas.


"Kamu kenapa hm?" tanya Alden sambil membenahi rambut istrinya yang nampak berantakan.


Cklek!


"Alden! Ada apa dengan istrimu! kenapa dia teriak Ketakutan seperti itu hah!" sentak Jeslyn saat memasuki kamar Alden dan terkejut melihat menantunya yang nampak berantakan.


"Mommy tanya! kenapa dia sampai teriak! kau apakan menantuku!" sentak Jeslyn.


Alden menghela nafasnya, dia memeluk tubuh Amora yang bergetar. Tetapi, dia terkejut saat Amora menolak pelukan darinya.


"Hiks ... gak! hiks jangan! hiks ...," racau Amora.


Jeslyn mendekati menantunya, dia mengusir putranya untuk lebih leluasa menenangkan sang menantu.


"Hei, sayang ... lihat mommy hm." ujar Jeslyn sambil menangkup wajah Amora.


Amora yang tadi tertunduk mulai melihat Jeslyn, dia langsung menubruk tubuh ibu mertuanya dan mendekapnya erat.


"Hiks ... hiks ... mommy," tangisnya.


"Diam ya sayang, syuutt ...," ujar Jeslyn berusaha menenangkan Amora.


Pelukan Amora melemas yang mana membuat Jeslyn terkejut.


Alden yang tadinya menjauh segera mendekat, dia mengambil istrinya dari pelukan sang mommy dan membaringkannya secara perlahan.


"Hei, sayang! bangun! hei!" panggil Alden sambil menepuk pipi istrinya. Netranya jelas melhat bagaimana pucatnya wajah sang istri.


Alden menyentuh tangan sang istri yang nampak sangat dingin. Tanpa pikir panjang Alden langsung berlari keluar setelah menitip istrinya pada sang mommy.


"Erwin!" panggil Alden saat melihat Erwin yang sedang mengintrupsi bawahannya.


"Ya tuan?" tanya Erwin sambil mendekati tuannya yang sedang berlari ke arahnya.


"Panggil Dokter Abian dan juga Dokter Risa," ujarnya.


Erwin mengerutkan keningnya, dia nampak heran dengan permintaan Alden.


"Dokter Risa? bukankah dokter Risa adalah dokter psikiater?" tanya Erwin yang menatap Alden dengan bingung.


"Jangan banyak tanya bodoh! istriku sedang sekarat! jemput mereka dalam lima menit dari sekarang!" sentak Alden kemudian berbalik pergi ke kamarnya dan meninggalkan Erwin yang menatapnya bingung.


Erwin segera mengutus beberapa Bodyguard untuk membawa dokter Abian dan juga Risa. Dia segera memerintahkan bodyguard untuk menghampiri tempat yang berbeda.


Sedangkan Alden, dia kembali ke kamarnya. Dia terkejut ketika melihat sang mommy yang tengah menangis.


"Mom ada apa mom?" tanya Alden.


"Al hiks ... lebih baik kita bawa kerumah sakit saja hiks ... mommy takut putri mommy kenapa-napa," ujarnya.


Alden menghela nafasnya, dia memeluk sang mommy guna menenangkannya.


"Mom, waktu kita kerumah sakit itu setengah jam, Amora harus segera di tangani. Tiga menit ke depan dokter akan tiba," ujar Alden dan melepaskan pelukannya.


Alden menatap istrinya, dia memegang tangan istrinya yang sangat dingin. Tak ada rona di wajah istrinya, dia tak tahu mengapa sang istri bisa seperti ini.


"Permisi tuan,"


Atensi Alden mengarah ke pintu, dia melihat dua orang berbeda jenis kelamin dengan berpakaian jas dokter memasuki kamar tersebut.


"Cepat periksa istriku!" intrupsi Alden.


Dokter pria yang di yakini nama Abian itu segera mengeluarkan alat-alatnya dan memeriksa Amora.


Alden dan yang lainnya hanya mengamati apa yang dokter itu lakukan.


"Ekhm, maaf tuan ... Apakah sebelumnya nyonya memakan sesuatu yang aneh?" tanya sang dokter.


Alden menggeleng, dia tidak tahu apa yang istrinya makan hari ini. Tapi bisa dia pastikan jika sang istri tak mungkin makan yang aneh-aneh.


"Apa dia meminum obat tertentu?" tanya kembali sang dokter.


"Ya, dia meminum vitamin untuk kandungannya dan itupun saran dari dokter kandungan," ujar Alden.


Dokter tersebut mengangguk, dia segera memasangkan Amora infus dan menyuntikkannya sebuah cairan.


"Sepertinya nyonya syok, apa sebelumnya ada terjadi sesuatu? seperti ada hal yang membuatnya kaget sehingga membuat tekanan darahnya menurun," tanya kembali sang dokter.


Alden berusaha mengingat ala yang terjadi sebelumnya, tetapi bukankah tak ada pertengkaran apapun dengan dia dan Amora. Bahkan sepertinya biasanya, hanya saja dia tadi bercanda terhadap satu hal yang mana membuat istrinya begitu terkejut.


"Sebelum dia tidur aku sempat bercanda dengannya. Namun, saat aku mengatakan sesuatu raut wajahnya berubah drastis dan sangat syok. Setelah itu aku mandi, dan saat aku keluar dia sudah teriak dalam tidurnya," terang Alden.


"Maaf tuan menyela, tadi kata tuan dia sempat teriak dalam tidurnya ... apakah dia memiliki trauma atau apapun itu yang berhubungan dengan masa lalunya? ataukah ada hal yang terjadi belakangan ini?" tanya Dokter Risa yang berhadapan langsung dengan Alden.


Alden nampak berpikir, dia tak tahu apakah istrinya memiliki trauma terhadap perbuatannya dulu. Tapi jika iya, sungguh dia merasa sangat bersalah.


"Kalau trauma, sebelumnya saya tidak tahu jika istri saya memilikinya. Dia nampak seperti biasa dan tak terjadi hal aneh." jawab Alden.


"Begitu ya ... dan tadi tuan bilang jika sebelumnya tuan bercanda padanya sambil mengatakan sesuatu yang mengubah raut wajahnya secara drastis, perkataan apa yang tuan lontarkan padanya?" tanya kembali Dokter Risa.


Alden menceritakan kejadian tadi, dia menceritakan sedetail mungkin tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Intinya, dia merasa jika perkataan tuan adalah apa yang ada dipikirannya. Terbukti dari raut wajahnya yabg berbeda yang mana membuat saya yakin jika apa yang tuan katakan adalah yang terjadi pada dirinya," ujar dokter tersebut.


"Apa maksudmu istriku bertransmigrasi? begitu hah?!" tanya Alden dengan netranya yang menajam.