Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Terungkap


Flashback.


"Lihat, disini ada namamu hanya saja aku tak tau apa maksud lambang K ini." ujar Alden sambil menunjuk ke arah nama yang berada di pojok kain tersebut.


Alden menunggu jawaban istrinya, tetapi Amora tak kunjung menjawabnya hingga sang istri memejamkan matanya. Tubuh Amora oleng dengan sigap Alden lun menangkapnya.


"Sayang! yang!" panggil Alden sambil menepuk pipi istrinya itu.


Dengan pelan, Alden menidurkan istrinya. Dia segera mengambil ponselnya dan menelpon sang Paman.


"Halo,"


"Halo paman istriku pingsan kembali, bagaimana ini?" ujar Alden dengan panik.


"Tenanglah, paman akan segera kesana,"


Alden langsung mematikan ponselnya, dia bangkit dan menuju sang putra untuk memindahkan ke kamar sebelah.


Cklek.


Alden terkejut melihat mertuanya yang berada di depan pintu kamarnya.


"Aku ingin menemui putriku!" pinta Arthur.


Alden menghalanginya, dia memberikan Elbert yang tertidur dan meminta Queen untuk melihat Amora.


"Mami, Amora kembali pingsan." ujar Alden sambil menarik lengan ibu mertuanya.


Queen terkejut, dia menatap putrinya yang sedang pingsan. Queen melepaskan tarikan Alden, dia segera menepuk pipi putrinya.


"Sayang, bangun dong!" pinta Queen.


Tak lama Jeslyn dan Jonathan memasuki kamar Alden, mereka bingung melihat Queen yang berusaha membangunkan Amora.


"Mengapa kau membangunkannya?" tanya Jonathan.


"Karena putriku pingsan bodoh!" sentak Arthur mewakili istrinya.


Jonathan dan Jeslyn terkejut, mereka langsung mendekati Queen yang sedang berusaha membangunkan Amora.


"Bagaimana bisa pingsan?" tanya Jeslyn menatap tajam sang anak.


"Ta-tadi aku me-menanyakan tentang sebuah sapu tangan, sebelum kejadian kelam itu aku sudah mengenalnya saat sapu tangannya terjatuh. jadi ... aku berusaha untuk membuat Amora mengingatnya." ujar Alden sambil menundukkan kepalanya.


Arthur dan Queen mengerutkan keningnya, mereka tak mengerti dengan apa yang Alden ucapkan.


"Mengingatnya?" tanya Arthur.


"Amora amnesia, dia tak mengingat apapun setelah ia berusaha bunuh diri saat itu." ujar Alden sambil mendongakkan kepalanya.


Arthur dan Queen terkejut saat tahu bahwa putrinya amnesia karena berusaha bunuh diri, jika saja Arthur tak menggendong Elbert. Pasti saat ini dia telah membogem wajah menantunya yang telah membuat putrinya amnesia.


"Kau harus menjelaskan tentang ini padaku Alden!" tekan Arthur dengan wajah dinginnya.


Alden mengangguk pasrah, nanti dia akan menceritakan semuanya tentang Amora.


"Papi! A-amora pi! panik Queen.


Atensi mereka mengarah ke Amora yang sedang bergerak gelisah, keringat telah membasahi kening wanita itu.


Alden menepuk keras pipi istrinya, dia sungguh kalut hingga tak sadar dia berteriak.


"AMORA!"


Flashback off.


Alden melamun memikirkan apa yang terjadi tadi, hingga lamunannya terhenti saat mendengar suara pintu yang terbuka.


Cklek.


"Alden paman ...,"


Ucapan Hans terpotong karena pria itu langsung masuk begitu saja. Dia mendengus kesal saat Alden menyingkirkan tubuhnya dengan paksa.


"Ponakan minim akhlak!" gerutu Hans.


"Hans!" sentak Jeslyn yang menatapnya tajam.


Hans menghembuskan nafasnya kasar, dia menatap mereka yang tengah menanti jawabannya.


"Kita bicara di ruang tamu saja, aku lelah berdiri." ujarnya sambil beranjak dari sana.


Semua yang ada disitu akhirnya mengikuti Hans, bahkan Arthur yang tengah menggendong cucunya yang sedang tidur pun terpaksa mengikuti Hans.


Sementara Alden tengah merebahkan dirinya disamping sang istri, dia memeluk istrinya itu dengan erat.


***


"Bagaimana keadaannya Hans?" tanya Jeslyn dengan menatap serius kakaknya itu.


"Ekhm, begini ... maaf sebelumnya, kalian orang tua Amora bukan?" tanya Hans sambil menatap Queen dan Arthur secara bergantian.


"Amora mengatakan tentang mimpinya tadi, dia berkata jika dirinya hanya mengingat jika seorang anak kecil meminta namanya di ganti menjadi Arianha. Selebihnya dia tak mengingat apapun," terang Hans.


Raut wajah Arthur dan Queen mendadak berubah, mereka terlihat bingung dengan apa yang Hans jelaskan.


"Amora memimpikan kejadian 15 tahun lalu?" gumam Queen yang terdengar oleh semuanya.


"Iya, itu adalah kejadian saat Amora berumur delapan tahun. Dia meminta padaku agar namanya di ganti menjadi Arianha karena menurutnya Keisya terlalu pasaran akibat banyaknya teman dia yang memakai nama itu," terang Arthur


Hans mengangguk, sudut bibirnya terangkat. Dia tersenyum menatap keluarganya secara bergantian.


"Jadi, Arianha adalah nama dari Amora? mengapa wanita itu tak menyadari mimpinya? apa karena takut, jadi dia melupakannya?" ujar Hans yang mana membuat mereka bingung.


"Apa maksudmu Hans?" tanya Jonathan.


"Amora berkata bahwa dirinya mengalami amnesia setelah ia berusaha bunuh diri. Alden berkata jika Amora melukai tangannya bukan kepalanya. Sifat, sikap dan kepribadian Amora berubah secara drastis setelah dia sadar. Bahkan Alden seperti melihat orang yang berbeda." ujar Hans sambil melipat tangannya didepan dada.


Arthur dan Queen saling pandang, mereka mengerutkan keningnya karena merasa bingung dengan apa yang Hans katakan.


"Tapi, menurut kami sifat, sikap dan kepribadian Amora tak ada yang berubah. Sejak dulu dia memang seperti itu." heran Queen sambil kembali menatap Hans.


"Amora menganggap dirinya dari dunia lain," ujar Hans.


"Maksudmu?" tanya Jonathan.


Hans mengambil sesuatu didalam saku jaketnya, dia menunjukkan apa yang ia pegang pada Queen.


"Alden memberi sapu tangan ini sebelum Amora pingsan, sebelumnya dia berkata jika dia merasa tak asing dengan sapu tangan ini. Kalian orang tuanya tak merasa adanya perubahan pada diri Amora, sedangkan Alden merasakan perubahan itu. Dia bertemu Amora saat empat tahu lalu, menikahinya dan kembali menemuinya saat Amora koma setelah melahirkan Elbert." terang Hans sambil memberikan sapu tangan itu pada Queen.


"Benar pi, ini sapu tangan kesayangan Amora. Dia tak berhenti menangis saat tau sapu tangan ini hilang," ujar Queen dengan senyum tipisnya.


"Yang Alden ketahui jika Amora memiliki kepribadian antagonis, apalagi Amora yang sering menyiksa Elbert. Putri kalian berusaha bunuh diri, dan saat tersadar dari pingsannya secara mengejutkan Amora merubah semuanya. Dari cara bersikap, berbicara dan juga cara dia menyayangi Elbert. Alden sudah menjelaskan bagaimana dulunya sikap Amora pada Elbert yang terbilang sangat jahat." terang Hans sambil menatap dalam Arthur.


Queen dan Arthur tentu saja terkejut, berbeda dengan Jeslyn dan Jonathan yang memang sudah tahu tentang Amora dari Ningsih. Berbeda dengan Queen dan Arthur yang tak pernah bertemu cucu mereka sebelumnya.


"Jadi apa maksudmu! jelaskan pada kami jangan bertele-tele! putriku tidak mungkin menyakiti putranya sendiri" sentak Arthur.


Hans mengangkat satu sudut bibirnya, dia menatap Elbert yang tengah bangun akibat sentakan Arthur.


"Apa kalian percaya adanya transmigrasi?" tanya Hans.


"Tidak! jangan buat lelucon dalam keadaan seperti ini Hans!" sentak Jonathan.


Hans tertawa, seperti dugaannya jika mereka tak percaya. Memang hal seperti itu harusnya tak dapat di percaya. Namun, Amora mengalaminya.


"Amora, dia mengalaminya," ujar Hans.


Mereka terkejut, bahkan tangisan Elbert tak membuat Arthur menenangkannya.


"Hiks ... mommy hiks ... hiks ... mommy," tangis anak itu saat tersadar sang mommy tidak ada disini.


Akhirnya Hans menjelaskan tentang apa yang Amora ceritakan, mereka tambah di buat terkejut saat Hans menceritakan apa yang Amora jelaskan padanya tadi tentang dia yang menyangka bahwa jiwanya di raga orang lain padahal itu adalah raganya sendiri.


"Tenangkan dia!" pinta Hans.


Queen mengambil cucunya dari pangkuan sang suami, dia segera menggendong sang cucu dan menenangkannya.


"El diam dulu ya sayang, mommy lagi istirahat kasian cape." nasehat Queen sambil menepuk punggung sempit sang cucu.


Akhirnya Elbert berhenti nangis, hanya tersisa sesenggukannya yang masih terdengar.


"Cepatlah!" geram Arthur.


"Dugaanku, Amora memang mengalami transmigrasi sebelumnya saat dia koma tetapi aku tidak tahu dimana jiwanya berada setelah itu. Namun dia kini telah kembali ke raganya. Itu artinya, setelah Amora Koma ... yang menempati tubuhnya bukan dia melainkan jiwa asing. Kita perlu menanyakan kemana perginya Amora setelah raganya diambil alih oleh jiwa lain," jelas Hans.


"Maksudmu ... raga putriku direbut? dan saat ini jiwa putriku kembali ke dalam raganya lagi begitu?" ujar Queen dengan hati-hati.


Hans mengangguk mantap. Dugaannya tentang Amora, mimpi Amora membuatnya yakin jika mimpi sebelumnya akan menguatkan kecurigaannya.


"Ini masih dugaan, kita harus menanyakan Amora tentang mimpinya tadi siang. karena itu salah satu kuncinya," ujar Hans.


"Tapi, sepertinya dia melupakannya Hans. Bahkan dia tak mengingat jati dirinya yang sebenarnya kecuali yang dia yakini bahwa dunia ini adalah dunia novel menurut pandangannya." ujar Jeslyn sambil menatap ragu Hans.


Hans mengangkat satu sudut bibirnya, dia menyeringai sambil menatap Arthur.


"Kamu! harus menahan emosimu saat Alden kembali melukainya untuk terkahir kali!" titah Hans sambil menunjuk Arthur.


"Apa maksudmu! tentu saja aku tak akan membiarkan Alden melukai putriku!" geram Arthur.


"Karena Alden yang bisa membuat Amora kembali mengingat mimpinya siang tadi, dan itu merupakan kunci yang bisa kita pegang tentang masalah ini!" sentak Hans.


Mereka merasa bingung dengan usulan Hans. Maka dari itu Hans menjelaskan rencananya.


"Aku akan meminta Alden untuk mengulang kejadian siang tadi yang telah membuat Amora histeris saat esok hari, begitu pula dengan yang lain. Kalian harus mengulang apa yang kalian lakukan di mansion ini," terang Hans.


"Tapi ... bagaimana jika Amora kenapa-napa? dia lagi hamil," ujar Jeslyn.


Hans menghembuskan nafasnya kasar, dia menatap dalam adiknya itu.


"Tenang saja, aku akan menyuntikkan vitamin penguat janin. Aku akan memberikan itu untuk sementara agar tak terjadi masalah dengan kandungan Amora," ujar Hans.