Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Selesainya konferensi pers


"Pernikahan saya dan dia karena jebakannya, kalian pasti tau mengapa saat ini dia di penjara bukan? Saya hanya manusia, saya juga berhak bahagia dengan pilihan saya," terang Alden.


"Wanita di sebelah saya ini adalah wanita hebat, wanita yang sabar terhadap perilaku saya dulu yang kurang baik terhadapnya. Wanita yang tulus mencintai saya, dan juga wanita satu-satunya yang merupakan ibu dari anak-anak saya," lanjut Alden.


Mereka semua mengangguk, walaupun Alden tak berkata kebenaran secara keseluruhan tetapi dia sudah berkata secara garis besar tentang pernikahan mereka.


"Di mana pertama kali anda bertemu dengan istri anda ini?" tanya yang lain.


"Di rusia, pada saat itu saya sedang ada proyek disana." jawab Alden sekenanya.


Mereka mengangguk kembali, tetapi fokus mereka kini beralih menatap Elbert yang memandang polos mereka.


"Wah, apakah itu putramu bersama istri keduamu ini?" tanya salah satu diantara mereka.


"Istri satu-satunya, karena saya dan Luna sudah bercerai. Kini hanya Arianha Amora Wesley istri saya satu-satunya dan yang saya cintai saat ini dan selamanya," bantah Alden.


Mereka terkejut, mungkin mereka belum mendengar perceraian Alden dan Luna karena Deon yang menekan berita itu untuk tidak bocor ke publik.


"Wah, siapa nama anak kalian dan juga aku sempat mendengar jika istri anda telah melahirkan kembali," tanya narasumber


"El, kenalkan dirimu," pinta Alden sambil mengelus pipi bulat putranya.


Elbert menatap mommy nya, dia melengkungkan bibir ketika sang mommy mengangguk.


"Tak apa, ayo bicara kepada mereka. Katanya mau jadi artis, ayo bicara," ujar Amora.


Elbert menoleh kepada mereka, dia melihat Alden yang mengarahkan mic itu tepat di depan bibirnya.


"Na-nama El, El ... umul ...," ujarnya dengan nada bergetar.


Seketika tawa mereka pecah melihat kelucuan Elbert saat memperkenalkan dirinya. Tetapi berbeda dengan bocah itu yang mengira dirinya salah.


"Hiks ... daddy tenapa di tawai," isak Elbert.


Alden tersenyum, dia membalikkan tubuh anaknya sehingga Elbert menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Alden.


Alden mengarahkan mic itu tepat pada, bibirnya, dia tersenyum tipis melihat mereka tertawa karena kelucuan putranya.


"Maaf, putraku memang pemalu. Tapi dia mudah dekat dengan orang. Nama putra sulung kami ini adalah Elbert Leon Wesley, dan kedua bayi kembar kami ... Zanna Liana putri Wesley dan Zyan Lionard putra Wesley. Mereka tidak kami ikutkan karena umurnya yang baru saja sebulan," ujar Alden.


"Wah ... kembar! selamat untuk tuan dan nyonya. Baiklah tuan, sekarang giliran anda nyonya, Bagaimana perasaan anda saat tahu jika tuan Alden memiliki istri selain anda," tanya narasumber.


Amora tampak gugup, dia menatap Alden meminta untuk mengganti pertanyaan.


"Ehm, maaf ... bisakah hal seperti itu di ganti, karena istri saya sensitif mengenai pertanyaan itu. Tolong di mengerti," pinta Alden.


Narasumber mengangguk, mereka sibuk bertanya dan Alden hanya menjawab seperlunya saja. Hingga saat ini akhir penyelesaian mereka.


"Baiklah, waktunya sudah habis dan mohon untuk tidak bertanya kembali," pinta MC.


***


Alden dan Amora akan pulang dalam keadaan lelah, bahkan Elbert sudah tertidur dalam gendongan Alden. Namun, saat Alden akan memasuki mobilnya dia terkejut ketika ada seseorang yang menahannya.


"Maaf tuan, minta waktu anda sebentar. Saya dari Modeling Agency ingin merekrut putra anda untuk menjadi model di fashion kami." ujarnya seraya menatap Alden dengan penuh harap.


Alden menatap istrinya yang juga tengah menatapnya, dia kembali menoleh kepada pria itu.


"Saya belum bisa mengiyakan, saya juga harus bertanya pada putra saya. Karena saya tak ingin memaksa anak saya pada sesuatu yang tidak dia sukai, jika nanti ternyata dia mau ... asistenku akan langsung menghubungi mu," ujar Alden.


Pria tersebut mengangguk dan tersenyum, dia menatap Alden beserta istrinya yang masuk kedalam mobil hingga mobik itu berjalan dan meninggalkan tempat itu.


"Bagaimana? apa tuan Alden mau?" tanya temannya yang baru saja menghampiri pria itu.


"Belum, kita harus menunggu kabar darinya. Semoga dia tidak menolak, putranya mempunyai wajah yang tampan bahkan bakat membuat orang tertarik terhadapnya. Jangan sampai lepas, aku ingin dia menjadi model anak-anak di agency kita," ujarnya.


Sementara itu, Elbert terbangun karena terkejut akibat kepalanya terbentur jendela. Dia melihat daddynya yang sedang memeluk mommynya yang sedang bersandar pada sang daddy. Bahkan kini mereka berdua tertidur dan tak menghiraukan Elbert yang meringis.


"Paman! macih lama nda?" tanya Elbert.


"Tidak tuan, sebentar lagi kita sampai," ujar sang supir.


Elbert mengangguk, dia menatap jalanan yang ramai. Tetapi netranya tak sengaja menatap seorang perempuan yang tertabrak truk hingga terpental ke mobil mereka sehingga Elbert bisa melihat jelas keadaan wanita itu.


BUGH!


"AAAAA!" histeris Elbert.


Amora dan Alden terbangun, mereka menatap Elbert yang sedang mengatur nafasnya. Alden segera memindahkan sang anak ke pangkuannya sementara Amora langsung melihat situasi yang ada.


"Ada apa pak?"


"Kecelakaan non, tapi orangnya malah terpental ke mobil kita pas dengan pintu mobil yang tuan Elbert sandari.


Amora mengangguk, dia menatap Alden yang tengah membuka tuxedo Elbert dan juga kancing celana anak itu.


"Di belakang ada tabung oksigen gak pak?" panik Amora.


"Gak ada non, apa kita kerumah sakit aja?" tanya supir itu dengan panik.


"Dekat gak pak?" tanya Amora.


"Jauh non," sahutnya.


"Dengar daddy, tarik nafas pelan-pelan ... hembuskan," titah Alden dan diikuti oleh Elbert.


"Gimana mas?" tanya Amora sembari melihat putranya yang sudah sedikit tenang.


Alden memberi isyarat untuk diam, dia menidurkan Elbert dengan cara menyamping. Setelahnya dia mengusap kening Elbert supaya anak itu tertidur.


Tak lama kemudian dengkuran halus terdengar, Alden langsung membuka jendela dan melihat keluar yang sudah ramai orang yang mengerubungi korban itu.


"Masih hidup gak pak?" tanya Alden.


"Hah ... dah mati pak, ini lagi manggil ambulan." ujar seorang pria yang menoleh ke arah Alden.


Alden berbalik menatap istrinya, dia tahu jika sang istri tengah khawatir.


"Kamu mau keluar?" tanya Alden.


"Iya, aku mau lihat yah, kasian ... tadi nabrak mobil kita kenceng banget," pinta Amora.


Alden mengangguk, dia hanya melihat istrinya yang berjalan keluar dari mobil dan menghampiri mayat yang sudah di tutupi oleh koran.


Dengan tangan bergetar Amora menyingkap koran itu, seketika dia menutup mulutnya ketika melihat bahwa orang itu adalah orang yang ia kenal.


"Luna," gumam Amora.


Amora langsung kembali kedalam mobil, dia menyuruh Alden keluar tanpa memperdulikan Elbert yang tengah tertidur.


"Apa sih yang," heran Alden.


"Mas! itu Luna mas!" sentak Amora.


Alden membulatkan matanya ketika melihat wajah Luna yang sudah di penuhi oleh darah, dia menatap sekeliling dan menemukan dua pria yang berbaju hitam melihat ke arah mereka.


"Siapa mereka?" gumam Alden.


"Kasian sekali, dia tadi lari seperti di kejar orang dan berakhir tertabrak truk hingga terpental." ucap orang yang berada di samping Alden.


Alden menoleh, dia mendengar apa yang di katakan orang yang disebelahnya ini. Dirinya curiga jika dua pria tadi yang telah mengejar Luna.


"Kemana mereka?" gumam Alden ketika melihat ke arah tempat dua pria yang berdiri tadi tetapi sayangnya mereka sudah menghilang.


Polisi datang dan langsung menghampiri jenazah, dan juga setelahnya mereka mendekati Alden.


"Apa ini mobil anda?" tanya polisi itu.


"Ya, tapi mobil saya gak salah apapun. Dia yang terpental dan nabrak mobil saya," bela Alden.


"Tapi bapak juga ikut terlibat sebagai saksi,"


Alden merasa tak terima, dia malas mengurusi persidangan seperti itu. Dia menyuruh Amora masuk dan setelahnya dia juga ikut masuk.


"Pak, anda mau kemana?" tanya polisi itu.


"Pulanglah?! memangnya hanya dia yang jadi korban hah?! putra saya juga jadi korban karena terkena serangan panik, dia tadi kaget dan berakhir sesak nafas. Saya gak ada urusan lagi dengan wanita itu," ujar Alden dan menutup jendelanya.


Mobil mereka berjalan meninggalkan tempat kejadian kecelakaan itu.


"Al, gimana pun juga dia pernah jadi istri kamu. Seenggaknya ada sedikit rasa kemanusiaan," pinta Amora.


Alden terdiam, dia melihat spion mobilnya dan menghela nafas ketika yang ia takutkan tidak terjadi.


"Tadi ada dua orang yang menatap Luna dari kejauhan, mungkin mereka ingin lihat siapa yang mengenal Luna. Kita tidak tahu apa masalah dia dengan Luna, tetapi kita harus berpura-pura tidak peduli agar mereka tak juga mengincar kita," terang Alden.


Amora terkejut, dia mengangguk kemudian menoleh kebelakang karena takut ucapan Alden.


"Sudahlah yang, gak usah kamu pikirkan. Lebih baik kamu istirahat. Oh iya, tadi malam Deon nelpon katanya kita di suruh ke bali untuk menghadiri acara pernikahannya dengan Aira dua bulan lagi. Tepat juga si kembar umur tiga bulan," ujar Alden.


"Em ... kenapa dua bulan? kenapa gak bulan depan aja gitu?" heran Amora.


"Orang tua Aira yang mau, kalau Deon pasti maunya besok hahaha," canda Alden.


Amora ikut tersenyum, dia melirik putranya yang sudah pulas tertidur.


Cup!


"Kenapa melamun?" heran Alden.


Amora terkejut ketika Alden mengecup pipinya, dia menatap Alden yang tengah tersenyum menatapnya.


"Tidak, aku hanya bingung. Umur Elbert sebentar lagi empat tahun, tetapi cadelnya juga belum hilang. Apa kau juga menyadari jika Elbert mempunyai kemampuan berpikir seperti anak yang berumur lebih darinya," heran Amora.


"Maksudmu, apa kau ingin aku memasukkan Elbert sekolah?" tanya Alden yang di balas anggukan oleh Amora.


"Iya, masukkan dia ke play group," pinta Amora.


Alden mengangguk, dia membawa istrinya untuk bersandar di dadanya.


"Apapun untukmu, I love you more," gumam Alden.


"To," sahut Amora.