Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Kau harus bertemu dengan ibumu!


Saat ini Jeslyn dan Queen tengah berbincang berdua di ruang rawat Alden, sedangkan Jonathan hanya duduk di samping brankar Alden menatap mereka yang sedang berbincang berdua di safa yang berada di sudut ruangan.


Sedangkan Alden, pria itu belum juga sadarkan diri. Masker oksigen masih menghiasi wajah tampannya dan juga masih ada beberapa alat medis lain yang menempel di tubuhnya.


"Aku tak pernah menyangka jika kamu adalah ibu dari pria yang telah membawa kabur putriku," canda Queen.


Jeslyn merasa tak enak, dia merasa bersalah pada Queen dan keluarganya. Namun, dia juga tak tahu apa alasan sang anak menyembunyikan Amora dari keluarganya.


"Maafkan putraku Queen, aku sungguh minta maaf ... jika dari awal aku tahu bahwa Amora adalah putrimu, maka aku akan langsung menghubungimu." ujar Jeslyn sambil menundukkan kepalanya.


Queen tersenyum, dia mengelus pelan punggung teman yang bisa dia sebut sahabat itu. Dia juga tak menyangka bahwa Jeslyn adalah besannya.


"Sudahlah, itu semua sudah berlalu. Tadinya aku akan membawa Amora pergi jauh dari pria yang telah menculiknya dari keluarga kami. Namun, saat aku tahu bahwa pria itu adalah putramu ... aku menimbangnya kembali." ujar Queen sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Jangan pisahkan mereka Queen, mereka memiliki anak yang harus mereka besarkan. Apalagi Amora yang sekarang tengah hamil kembali, dia butuh Alden di masa kehamilannya." ujar Jeslyn sambil menatap Queen.


Queen mengangguk, dia memang telah mengurungkan niatnya untuk memisahkan Alden. Akan tetapi, dia sedikit kecewa dengan Alden karena telah memisahkan dia dengan sang putri. Namun, saat ini dirinya hanya ingin kedamaian bagi putrinya. Apalagi saat Jeslyn memberitahu bahwa Alden telah melepaskan istri pertamanya demi Amora membuatnya yakin bahwa Alden akan membahagiakan putrinya.


"Aku merestui hubungan mereka, tapi tidak tahu bagaimana Arthur. Dia orang yang sangat keras kepala, aku tak yakin jika dia akan menerima Alden begitu saja," ujar Queen.


Jeslyn mengangguk, dia harus terima jika ayah kandung dari Amora akan memberikan hukuman pada putranya. Ini adalah kesalahan putranya yang harus di pertanggung jawabkan.


"Yah, aku mengerti," sahut jeslyn


"Sudahlah, lupakan itu. Aku ingin membahas hal lain. Apa kau tahu, perusahaan tas no 1 telah mengeluarkan tas model terbaru," antusias Queen.


Jeslyn yang tadinya sedih merubah raut wajahnya, mereka langsung berbincang mengenai tas tersebut.


"Benarkah? wah, berapa yang mereka keluarkan?" sahut Jeslyn tak kalah antusias.


Jonathan, pria itu hanya melihat perbincangan wanita itu. Kadang dia merasa aneh dengan mereka berdua yang kadang sedih dan kadang tertawa yang mana membuatnya bingung.


"Apakah perempuan cepat sekali berubah mood? kenapa mereka betah sekali mengobrol? apa bibir mereka tak lelah? hah ... awal pembahasan Alden, akhir jadi tas branded keluaran terbaru." ujar Jonathan sambil menghela nafasnya pelan.


Sedari tadi dia mendengar apa yang mereka bicarakan, dia memang sedikit bingung dengan para wanita.


Ponsel Jonathan berbunyi, dia segera merogoh jasnya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat kontak yang menelponnya.


"Zidan? kesambet apa dia sampai menelponku?" gumam Jonathan.


Jonathan menatap kedua wanita yang masih asik berbincang, dia bangkit dari duduknya dan pergi keluar ruang rawat itu untuk mengangkat telponnya.


"Ada apa dia menelponku?" gumam Jonathan dan langsung saja menggeser tombol hijau.


"Halo," sahutan dari Zidan.


"Hm," dehem Jonathan.


"Ck, tak usah seperti itu! aku hanya ingin mengabarimu bahwa aku akan kesana menjenguk Alden bersama putraku dan juga adikku! jadi, bawa pergi dulu istrimu itu agar tidak bertemu denganku," ujar Zidan.


Jonathan bingung, ada apa dengan Zidan sampai mau menjenguk Alden? dan lagi, mengapa Zidan tak ingin bertemu dengan Jeslyn yang merupakan ibunya sendiri?


"Kau tak ingin bertemu dengan ibumu? jika kau ingin kesini, kau harus bertemu dengan ibumu! mau tak mau, suka tidak suka ... kau harus bertemu dengan ibumu! ingat Zidan, tanpanya kau tak akan bisa lahir ke dunia ini!" sentak Jonathan dan langsung memutuskan sambungan telponnya.


Jonathan menghela nafasnya kasar, dia tak mengerti jalan pikir Zidan. Semua ini bermula dari Jacob, jika saja pria itu tak mendoktrin Zidan untuk membenci ibunya pastilah Zidan akan sangat menyayangi Jeslyn.


"Kau tak tau seberapa lembutnya ibumu, seberapa sayangnya dia padamu dan seberapa rindunya dia padamu. Setiap mengingat tanggal kelahiranmu, ibumu selalu berdiam diri dikamar tanpa keluar hanya untuk memeluk fotomu dengan erat karena terlalu rindunya dia padamu," gumam Jonathan


Sesayang itu Jeslyn pada putra pertamanya, putra yang tak pernah mengunjunginya. Putra yang selalu ada di hatinya, bahkan kasih sayangnya kepada Alden masih di bawah Zidan.


Tanpa Jonathan sadari, bahwa Jeslyn mendengarkan perbincangannya dengan Zidan. Dia memang tak mendengarkan apa yang di ucapkan Zidan, tapi mendengar balasan Jonathan membuatnya tahu bahwa Zidan tak ingin bertemu dengannya.


"Jes!" panggil Queen, dia bingung mengapa temannya hanya berdiam diri di pintu.


"Tadi kau bilang ingin menghampiri suamimu, kenapa sekarang kau malah menangis?" tanya Queen.


Jeslyn menggeleng pelan, dia mengibaskan tangannya pada matanya agar tak terlalu terlihat bahwa dia habis menangis.


"Ekhm, mas!" panggil Jeslyn sambil berjalan menghampiri suaminya.


Jonathan terkejut, dia berbalik menatap sang istri yang tengah tersenyum lebar terhadapnya. Tapi dia menatap keanehan pada wajah Jeslyn, dia takut bahwa istrinya mendengarkan percakapannya.


"Sa-sayang?" gumam Jonathan.


"Sudah selesai nelponnya?" tanya Jeslyn.


Jonathan mengangguk, dia menatap Queen seakan bertanya apa yang terjadi pada istrinya. Namun, Queen hanya mengangkat bahunya pertanda dia juga tahu.


"Sudah, kamu ngapain nyamperin mas? perlu sesuatu?" tanya Jonathan sambil mengelus lengan istrinya.


"Aku mau ke kamar Amora ya, aku mau lihat Elbert. Sekarangkan waktunya dia minum susu, kasihan sedari tadi nangis terus. Pasti anak itu lapar," jawab Jeslyn.


Jonathan mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan sang istri, suara istrinya terdengar bergetar. Ada apa dengan istrinya?


"Kamu kenapa? kok suaranya seperti habis nangis?" tanya Jonathan.


Jeslyn menggeleng, dia menatap suaminya dengan senyum di wajah cantiknya.


"Gak, aku gak papa. Mungkin aku mau flu makanya suara aku begini, yasudah ... aku akan ke ruangan Amora. Siapa tahu saja dia sudah sadar kan?" ujar Jeslyn, setelahnya dia berbalik dan menggandeng Queen ke ruang rawat Amora.


Jonathan hanya menatap sendu kepergian istrinya, dia menyadari bahwa sepertinya istrinya itu mendengarkan percakapan mereka.


Sedangkan di lain tempat, saat ini Zidan tengah menatap jendela kamarnya. Ucapan Jonathan masih terngiang di pikirannya, memang apa yang di ucapkan oleh Jonathan ada benarnya bahwa dia lahir karena sang ibu.


"Apa aku harus berdamai dengan keadaan? kemana dia saat aku sakit dulu? kemana dia saat aku butuh sosok ibu? Ayah tak pernah mengatakan apapun soal ibuku sendiri, dia hanya berkata bahwa ibuku telah memiliki keluarga baru." gumam Zidan sambil menatap gelasnya yang berada di genggamannya.


Zidan menghela nafasnya pelan, tangan satunya memijat pangkal hidungnya karena kepalanya yang terasa pening.


"Apa dia tahu bahwa aku merasa sakit hati saat melihat dirinya waktu pertama kali dengan keluarga kecilnya di berita, yah ... keluarga bahagia." lanjut Zidan sambil mencengkram gelas yang ada di genggamannya.


"Sampai kapan kau harus terus tersiksa seperti ini papa?" tanya Leon yang sedari tadi mendengar gumaman sang papa.


Zidan berbalik, dia terkejut melihat sang anak yang berada di kamarnya.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Zidan sambil menatap tajam Leon.


"Aku ngapain disini? aku hanya ingin menghampiri papa untuk mengajak pergi ke rumah sakit sekarang," ujar Leon sambil menghampiri sang papa.


Zidan memutar bola matanya malas, karena sebenarnya yang ingin menjenguk Alden ke rumah sakit adakah putranya. Dia memang menceritakan kepada putranya tentang hubungannya dan sang ibu karena putranya selalu menanyakan sang nenek.


"Kenapa tidak kau sendiri? kenapa harus bersama papa huh?!" kesal Zidan.


"Itu karena ...,"


"Aku yang mengajaknya, karena tunanganku juga berada disana kakakku yang tampan." sahut Eveline sambil berjalan memasuki kamar kakaknya.


Zidan mengerutkan keningnya, dia tak tahu siapa tunangan yang sang adik maksud. Karena memang dia tak pernah bertemu dengan tunangan Eveline.


"Siapa tunangan mu?" tanya Zidan heran.


"Siapa lagi kalau bukan putra pertama keluarga Miller," sahutnya dengan senyum manis di bibirnya.


Sementara itu, Arsel tengah menggerutu sambil berjalan masuk kedalam rumah sakit. Dia baru saja diberi tahu oleh kakak tertuanya kalau Alden kecelakaan.


"Dasar! mengapa mereka memberitahuku setelah 5 jam lamanya sejak kejadian itu," gerutunya.