Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Kelakuan El


Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Kini kandungan Amora sudah memasuki bulan ke empat, dan juga Alden telah melepas gipsnya dari beberapa hari yang lalu.


Saat ini di taman belakang mansion Alden tengah berusaha berjalan normal kembali walaupun masih memakai tongkat penyanggah.


"Sakit yang," ujar Alden.


Amora membantu Alden untuk duduk kembali ke bangku terdekat, dia melihat kaki suaminya yang masih kaku itu.


"Lanjut besok aja ya, dari tadi kamu ngeringis ngilu terus." pinta Amora sambil menyenderkan tingkat penyanggah Alden pada dinding.


"Gak yang, aku masih mau belajar. Kasihan kamu selalu ngurus aku ... jadinya, aku ngerasa kayak jadi suami gak berguna." ujar Alden sambil menatap kakinya.


Amora menatap suaminya, dia tak suka jika Alden mengatakan seperti itu. Namun, dirinya juga paham jika suaminya hanya ingin mandiri dan tak merepotkannya.


"Kalau kamu maksain, dan kesakitan seperti itu ... malah hal itu yang membuat kamu tambah ngeropotin aku," ujar Amora sambil menatap manik mata suaminya.


Alden mengangkat kepalanya menatap istrinya yang berdiri di depannya, dia mengerutkan keningnya mendengar penuturan sang istri.


"Kok gitu yang?" tanya Alden heran.


"Iyalah! coba kamu bayangin, kamu maksain buat jalan normal tapi sambil meringis ngilu. Bahkan kamu selalu jatuh yang mana membuat aku takut. Tau gak rasanya jantung aku kayak mau copot! kan ngebebanin hati aku jadinya!" kesal Amora.


"Kamu lagi protes apa ngegombal yang?" canda Alden.


Amora mengerutkan bibirnya sebal, dia membuang pandangannya ke arah lain. Sedangkan Alden menyadari istrinya tengah ngambek, ia pun memeluk pinggang sang istri. Sehingga wajahnya berhadapan pada perut buncit sang istri.


"Dek liat mommy kamu, masa marah sama daddy." ujar Alden sambil sesekali mencium perut sang istri.


"Kamu gak usah aneh-aneh! nanti kalau ni anak rewel minta ini minta itu, kamu lagi gak bisa gimana hah?!" kesal Amora.


"Iya ya yang, maaf." ujar Alden sambil mengangkat kepalanya menatap istrinya.


Amora memeluk kepala suaminya, sehingga saat ini Alden menyembunyikan wajahnya pada perut buncit sang istri.


"Mas," panggil Amora.


"Hm," sahut Alden.


"Kenapa Luna belum juga di tangkap? padahal ini sudah sangat lama, kenapa polisi belum bisa menemukannya?" tanya Amora.


Alden menghela nafasnya, dia melepaskan pelukannya dari pinggang sang istri. Netranya menatap istrinya yang tengah menunggu jawaban darinya.


"Keberadaannya susah di lacak, setiap polisi menemukannya pasti dia akan pindah ke tempat baru. Aku juga heran mengapa dia bisa bersembunyi dengan begitu mudah," ujar Alden.


"Apa ada sesorang yang membantunya?" curiga Amora.


"Aku rasa seperti itu, pasti ada seseorang yang membantunya untuk bersembunyi." ujar Alden sambil mengambil tangan kanan istrinya dan menciumnya.


Amora kembali berpikir, sehingga dia tak menghiraukan kelakuan Alden.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada alur ini, mengapa semuanya begitu diluar ekspetasiku? apa aku akan selamanya disini? ataukah aku kembali kedunia asalku? bagaimana yah keadaan tubuhku saat ini? sudah mati, ataukah masih ...,"


"Yang! kok melamun, aku lagi nanya sama kamu loh!" kesal Alden.


Amora terkejut, dia menatap Alden yang tengah menatapnya bingung.


"Haaa iya, apa?" kejut Amora.


"Kamu mikirin apa? aku tadi nanya loh kamu kapan jadwal USG nya?" tanya Alden.


"Oh, USG ... itu, besok jadwal aku USG," jawab Amora.


Alden mengangguk, dia mengambil tongkatnya yang berada tepat di sampingnya. Setelah itu dia berusaha bangkit dengan bantuan tongkat itu.


"Kamu mau ngapain?" tanya Amora sambil menyingkirkan tubuhnya.


"Mau masuk, udah panas. Kasian kamunya kepanasan," ujar Alden sambil berusaha berjalan menggunakan tongkat itu.


Amora menghampiri Alden, dia membantu suaminya yang sedang berusaha berjalan itu.


"Jangan yang, panggil Erwin aja. Nanti kamunya keberatan, di tambah lagi perut kamu nanti keram." ujar Alden sambil menolak halus bantuan istrinya.


Amora mengangguk, dia bejalan masuk terlebih dulu memanggil Erwin. Netranya mencari keberadaan pria itu yang entah sekarang ada dimana.


"Erwin!" panggil Amora.


"Iya nona,"


"Astaga!" kejut Amora sambil memegang dadanya.


Amora terkejut mendengar suara Erwin yang tepat berada di belakangnya, di menoleh menatap Erwin yang tengah menanti perintah darinya.


"Kamu itu jangan kayak jelangkung napa sih! kaget tau saya!" kesal Amora.


Erwin memegang lengannya yang tadi di pukul oleh Amora, dia hanya memandang datar ke arah istri tuannya ini.


"Mana ada jelangkung seganteng saya nyonya," ujar Erwin.


"Ada! kamu kan menenangkan rekor jadi jelangkung ganteng, nanti kamu pasti dapat penghargaan." ujar Amora sambil menahan tawanya.


Erwin mendengus kesal, dia tak mengira jika ada yang menjulukinya seperti itu. Bahkan setiap wanita yang melihatnya pasti akan berujar dirinya sangat tampan.


"SAYANG!" teriak Alden yang mungkin sudah lelah menunggu istrinya yang datang bersama Erwin.


"IYA IYA! SEBENTAR!" sahut Amora.


Amora mengajak Erwin untuk membantu Alden, sementara dia akan mengikuti mereka dari belakang.


"Pegangnya yang benar Win! kamu mau saya jatuh hah!" kesal Alden.


"Jatuh nanti tinggal di pungut lagi," sahut Erwin dengan datar.


Alden akan memarahi Erwin, tetapi bawahannya itu telah berkata lebih dulu.


"Jika tuan banyak bicara, saya lepasin pegangannya yah." ancam Erwin yang saat ini mulai jengah dengan ocehan Alden.


Alden menatap tak percaya apa yang Erwin ucapkan, dia adalah tuannya tetapi rasa bawahan yang di perintah.


"Erwin! jika saja kakiku tidak sakit, aku akan menendangmu!" marah Alden.


Amora hanya tersenyum geli, dia heran mengapa Erwin dan Alden nampak seperti adik-kakak yang tengah berantem.


"Sudahlah, aku akan melihat putraku dulu." ujar Amora sambil berjalan menjauh dari Alden dan Erwin.


Amora berjalan mencari keberadaan putranya, pendengarannya menangkap suara sang putra yang sepertinya tengah berada di dapur.


"Bibi, El mau cucu." ujar anak itu sambil mendongak menatap salah satu maid.


"Maaf tuan kecil, saat ini bukan jamnya tuan kecil minum susu." ujar maid itu sambil menjongkokkan dirinya agar sejajar dengan Elbert.


"Tapi El haus," bujuk anak itu.


"Kan ada air putih, tuan kecil mau minum air putih? biar saya ambilkan," ujar maid itu.


"Putih cucu?" tanya Elbert.


Maid itu tertawa, dia mengacak gemas rambut tuan kecilnya ini.


"Air putih, bukan susu pintar." ujar maid itu sambil bangkit dari jongkoknya dan mengambilkan Elbert air putih.


Amora terkekeh menatap anaknya yang ternyata masih berusaha mendapatkan susu. Dia yang memberi pesan pada seluruh maid tentang kapan jadwal Elbert minum susu dan larangan memberikan Elbert susu saat diluar waktu yang telah ia buat.


"Bibi, tapi El maunya cucu!" rengek Elbert.


"Elbert," panggil Amora.


Elbert terlonjak kaget, dia menoleh menatap sang mommy dengan takut.


"Mommy," gumam Elbert.


Amora menghampiri putranya, dia menggandeng sang putra untuk keluar dari ruang dapur. Sedangkan Elbert menatap maid tadi dengan tatapan melasnya.


Amora membawa Elbert ke ruang keluarga, dia menduduki putranya di sofa single ruangan itu.


"Mommy sudah bilang ke El kan kalau jadwal El minum susu hanya pagi siang dan malam, selebihnya tidak ada susu." ujar Amora yang menatap sang anak.


Elbert menunduk, dia tak berani menatap wajah sang mommy. Dia memilin tangannya saat sang mommy menceramahinya.


"El denger mommy?" tanya Amora.


"Dengel," sahut anak itu.


"Apa? tadi mommy bicara apa?" tanya Amora.


"Cucu," jawab Elbert.


"Susu? terus apa lagi?" tanya Amora kembali.


Elbert menggelengkan kepalanya yang mana membuat Amora menghela nafasnya. Sedari tadi dia banyak berbicara dan anaknya hanya menangkap kata susu.


"Hah ... El, El ...," gumam Amora sambil memijat pangkal hidungnya.