
"Arsel! jangan mengganggunya tidur, jika EL terbangun dia akan menangis!" kesal Amora sembari menatap Arsel yang masih saja mengganggu tidur Elbert.
Pagi sekali Arsel dan Arjuna datang, bahkan baru saja Amora kembali dati ruang bayinya selepas menyusui si kembar kedua saudaranya itu sudah duduk manis di dalam ruang rawatnya.
"Hiks ... hiks ... mommy," isak Elbert.
"Kan! kan! tanggung jawab kamu sel!" kesal Amora.
Alden langsung menghampiri putranya yang baru saja bangun tidur, dia menggendong putranya dan menepuk pelan punggung sempit sang putra.
"Mas, kamu mending mandiin El. Bentar lagi mommy sama daddy kesini bawain sarapan," pinta Amora.
Alden mengangguk, dia segera membawa Elbert ke kamar mandi sementara Arjuna duduk tepat di tepi brankar Amora.
"Gimana keadaan kamu dek? maaf saat kejadian itu kakak lagi di Rusia karena cabang disana mengalami masalah yang tidak dapat di tinggalkan," ujar Arjuna.
"Kabarku baik kak, tidak apa aku mengerti. Lagi pula saat itu kau juga sudah dalam perjalanan pulang kan?" sahut Amora.
"Maaf saat itu aku juga tak datang menemuimu, mereka semua tak memberitahuku tentang keadaanmu," sesal Arsel.
Amora tersenyum, dia tahu mengapa orang tuanya tak mengabari adik bungsunya ini adalah karena sang adik yang cepat panik jika dirinya kenapa-napa. Bisa dikatakan jika Arsel sangat dekat dengan Amora sedari dulu.
"Tak apa, semuanya sudah berlalu. Tapi ... Lio, warna mata dia berubah menjadi abu-abu pekat. Apakah keluarga kita memiliki keturunan seperti itu?" tanya Amora.
"Apa kakak lupa? mata kakek buyutkan berwarna abu-abu pekat," heran Arsel.
Arjuna menyenggol lengan adiknya itu, mulut Arsel yang terlalu bocor membuat Amora menjadi murung.
"Maaf, memoriku sebagian hilang. Aku bahkan tak mengingat kakek buyutku, tapi ... ini berbeda! warna matanya berubah ketika terang, maksudku ketika cahaya remang warna matanya berwarna cokelat. Tetapi saat terang kembali warna matanya menjadi abu-abu gelap. Apa kalian tau mengapa bisa seperti itu?"
Seketika Arjuna dan Arsel merubah raut wajah mereka menjadi datar, keduanya saling tatap hingga mereka kembali menatap Amora yang terheran akibat ekspresi mereka.
"Ada apa? mengapa wajah kalian menjadi seperti itu?" heran Amora.
Cklek!
Atensi mereka beralih menatap Alden yang sedang menggendong Elbert keluar dari kamar mandi. Sementara Alden tengah bingung karena tatapan mereka seperti terkejut.
"Ada apa dengan kalian?" heran Alden sambil menghampiri mereka.
"Tidak ada," sahut Amora.
Alden mengangguk, dia berjalan menuju sofa untuk memakaikan Elbert baju. Sementara Amora kembali menatap saudaranya.
"Bisa kalian beri tahu aku?" pinta Amora.
"Haah ... kami tidak berhak untuk menjelaskan, dan juga kami tidak tau persis seperti apa. Tetapi ini merupakan genetik keturunan dari buyut kita. Perubahan warna mata akibat pantulan cahaya, dan hal ini bisa saja terjadi. Bahkan istri buyut bisa merubah warna matanya hanya dengan berkedip," terang Arjuna yang mana membuat Amora syok.
"Bagaimana bisa mereka menikah dengan ciri khas seperti itu?" kaget Amora.
"Tidak tau, papi dan mami hanya memceritakan seperti itu. Tetapi tak ada satupun keturunannya sebelum si kembar lahir yang mengikuti mereka. Bahkan seluruh keluarga besar Miller tak memilikinya, dan kini anakmu penerus dari mereka yang memiliki mata seperti itu," ucap kembali Arjuna.
Alden yang mendengar pembahasan mereka seketika membalikkan tubuhnya, dia langsung mendekat dan menatap tajam Arjuna.
"Kau sedang mengarang cerita hah?!" kesal Alden.
"Kita tidak sedang mengadakan opera, kenapa kau mengatakan kalau penjelasan kami cerita hah?!" kesal Arsel.
Atensi mereka mengarah kepada Arjuna, mereka bingung dengan perkataan Arjuna mengenai Lia.
"Apa maksudmu? putriku tak mengalami hal yang sama?" bantah Alden.
"Bukan tidak, tapi belum. Amora apa kau ingat siapa yang menolong mu ketika kau berada di dunia ilusi? seorang nenek yang menyuruhmu kembali itu apa kau ingat wajahnya?" ujar Arjuna.
Amora tampak berpikir, dia terdiam cukup lama hingga akhirnya Amora menunjukkan raut wajah terkejut.
"Hijau! yah, saat gelap datang menghampiri kami. Matanya berubah menjadi hijau! ta-tapi matanya bercahaya, a-aku ...," gugup Amora.
Seketika Alden berlari keluar diikuti oleh Arjuna, mereka berlari menuju ruang bayi dan masuk tanpa menghiraukan larangan dari suster.
Alden mematikan lampu ruangan tersebut, netranya terjatuh pada putrinya yang tengah terlelap. Kakinya melangkah mendekat diikuti oleh Arjuna.
Alden memasukkan tangannya, dia menyentuh pipi sang putri. Seketika kelopak mata yang tadinya terpejam itu perlahan terbuka. Sontak Alden dan Arjuna membelalakkan mata mereka ketika melihat warna hijau emerald tepat pada warna mata sang putri.
"A-al, be-benar! putrimu menuruni buyutku! buyutku telah membantu Amora keluar dari dunia ilusi, aku tak menyangka bahwa putri kalian yang mendapatkannya," takjub Arjuna.
Alden menoleh menatap putranya yang ternyata tengah terbangun, mata sang putra berwarna coklat pekat. Alden kembali menyalakan lampu dan terlihat mata sang putra yang kembali berwarna abu-abu pekat.
"Alden, mungkin menurut kebanyakan orang ini merupakan keajaiban. Tetapi keunikan ini akan membuat putra putrimu ada dalam bahaya, mereka pasti di incar oleh banyak orang karena mata mereka yang langka. Untuk itu aku sarankan jangan sampai ada yang tahu kecuali keluarga kita." terang Arjuna sembari memegang pundak Alden.
"Benarkah?" heran Alden.
"Kedua buyutku meninggal karena di bunuh oleh para penculik yang menginginkan mata mereka yang langka, bahkan saat itu keluarga Miller belum sehebat sekarang. Dulunya buyutku hanya seseorang dari kalangan biasa, untuk itu jangan sampai kejadian dulu terulang lagi," nasehat Arjuna.
Alden mengangguk, dia masih terkejut dengan apa yang terjadi pada putra dan putrinya. Apa ini ada hubungannya dengan Transmigrasi itu? pikir Alden.
"Apa mungkin Transmigrasi Amora memengaruhi si kembar?" tanya Alden.
"Bisa jadi iya bisa jadi tidak, sudahlah ... ini sudah keturunan. Kau harus bersyukur anakmu memiliki keunikan seperti ini," ujar Arjuna menangkan Alden yang gelisah.
Alden mengangguk, dia beranjak keluar dati ruangan itu diikuti oleh Arjuna. Mereka juga meminta maaf padaa sister sebelum keluar dati ruangan itu.
***
"Mas, anak Amora merupakan keturunan ketujuh keluarga Miller. Kau ingat kan apa yang ayahmu katakan waktu itu?" tanya Queen sembari menatap lekat suaminya.
"Aku ingat, tetapi Amora tak mengatakan apapun itu tandanya bukan pada keturunan ketujuh," bantah Arthur.
Queen mengambil sebuah kertas, terlihat kertas itu sudah sangat lama bahkan tulisannya pun tulisan bersambung.
"Lihat? kertas ini sudah sangat lama dan tulisannya pun hampir pudar, siapa tahu kita salah meneka tulisannya. Lagi pula buyut hanya berkata jika keturunannya yang ketujuh akan menuruni warna mata mereka itu saja, dan itu hanya harapan sayang." terang Arthur sembari menatap kertas itu.
"Iya sih ... tapi aku takut mas, gimana mereka jadi incaran orang karena keunikan mereka itu?" takut Queen.
"Sayang, jangan samakan saat ini dan dulu. Sekarang keluarga Miller sudah kuat di tambah keluarga Wesley kini menjadi sekutu kita. Aku yakin, cucu kita akan timbuh menjadi anak yang kuat dan bisa melindungi diri mereka sendiri," tenang Arthur.
Queen menghela nafasnya pelan, ini merupakan hal yang ia takutkan. Keunikan itu akan menjadi bahaya untuk cucunya karena banyak orang yang menginginkannya.
"Mas, kalau ada penculikan anak gimana?" takut Queen.
"Kau berpikir terlalu jauh, kita saja belum tahu bagaimana keadaan mereka. Yang aku takutkan, jika mereka bisa merubah warna mereka hanya dengan kedipan. Jika dengan perubahan cahaya warna mereka berubah itu masih mending dari pada yang sebelumnya. Seenggaknya tak akan ada orang yang menyadarinya jika kita tak memberitahukannya," jelas Arthur