
"Gimana dok kondisi bayinya?" tanya Alden.
Alden dan Amora tengah berada di ruang USG, mereka sepakat ingin mengetahui jenis kelamin sang bayi.
"Kondisi bayinya sehat, tak ada yang perlu di khawatirkan. Jenis kelamin keduanya pun sudah terlihat, apakah tuan dan nyonya ingin mengetahui jenis kelaminnya?" tanya sang dokter sambil menggerakkan alat USG yang berada di perut Amora.
Alden dan Amora mengerutkan keningnya, mereka saling tatap kemudian kembali menatap sang dokter.
"Dua?" beo Alden.
"Iya tuan, bayi kalian kembar. Apakah sebelumnya kalian belum mengetahuinya?" heran sang dokter.
Alden menggeleng kaku, dia tak tau jika anaknya kembar berbeda dengan Amora yang masih terdiam.
"Yang, waktu kamu periksa kandungan bulan kemarin kamu USG gak?" tanya Alden sembari menoleh menatap istrinya.
"Gak, kan kata mas jangan di USG dulu gimana sih! mas bilang kan bilangnya nanti aja sayang USG nya kalau udah tujuh bulan. Lupa hah!" kesal Amora.
Alden hanya menggaruk tengkuknya, dia melupakan itu. Sementara sang dokter hanya tersenyum tipis saat melihat kelucuan mereka.
"Berarti sebelumnya nyonya hanya pemeriksaan kesehatan aja yah? gak di USG?" tanya sang dokter.
"Iya dok, salahin dia nih! kalau aku tau bayiku ada dua, jadinya kan aku makan dua porsi!" kesal Amora sambil memukul bahu Alden pelan.
Alden memegang bahunya, walaupun tidak sakit tetapi dia tetap mengusap bahunya.
"Ehm begini dok, sebenarnya kami ingin melakukan perjalanan ke London. Apakah kondisi istri saya memungkinkan untuk melakukan perjalanan ke sana?" tanya Alden.
Sudah dua bulan Aqila tinggal di London bersama Gio, keluarga Lawrance juga sangat menyambut Aqila dengan senang. Apalagi dalam keluarga Lawrance jarang sekali anak perempuan.
"Boleh tuan, keadaan kedua bayi sangat kuat dan juga kondisi nyonya sangat sehat. Tapi saya sarankan untuk menjaga pola makan, berisitirahat dengan cukup, dan juga nyonya tidak boleh stres untuk menghindari bayi lahir prematur." terang sang dokter seraya tersenyum tipis.
Alden dan Amora mengangguk, mereka menunggu dokter yang sedang membersihkan perut Amora yang di oleskan Gel.
"Mas, kok kamu gak bilang sama aku kalau kita ke London?" tanya Amora sambil menatap suaminya yang tengah bermain ponsel.
"Ha, oh itu ...Aqila akan memasuki asrama, dia berkeinginan masuk sekolah seni. Gio memintaku untuk menemui Aqila sebelum masuk asrama," ujarnya tanpa melepas pandangan dari layar ponselnya.
"Loh, Aqila baru genap enam tahun bulan lalu loh mas! masa umur segitu sudah di masukkan ke asrama. Apa Gio tega?" heran Amora.
Alden menghembuskan nafasnya pelan, dia mematikan ponselnya dan kembali menaruhnya di saku jaketnya. Setelah itu dia menatap istrinya dengan lembut.
"Aqila yang memintanya sendiri, dia tak terlalu suka dengan sepupu-sepupunya. Ya, kau taulah kehidupan anak luar negri seperti apa. Sementara Aqila tak terbiasa dengan itu semua ... dari cara berpakaian sampai cara berteman sangat berbeda dengan disini," terang Alden.
"Aqila kan bisa beradaptasi mas," heran Amora.
"Sudahlah sayang, kau terlalu banyak bertanya. Lebih baik sekarang kita pulang." ujar Alden seraya menurunkan baju istrinya yang tadi tersingkap saat USG.
"Bajumu sempit yang?" heran Alden.
Amora tersenyum malu, dia memang sudah merasa bajunya semakin sempit dia pakai. Cuma dia pikir tak apa untuk kandungannya, lagian dia juga tidak merasakan sesak pikirnya.
"Pulangnya kita mampir ke mall buat beli baju kamu, kasian yang ... mereka dua loh bukan cuma satu. Sesak mereka, aku juga lebih suka kamu pakai dress dari pada pakai rok begini." ujar Alden sambil membantu istrinya untuk bangkit dari brankar.
Amora hanya pasrah, dia mengikuti suaminya itu untuk berbelanja baju. Sekalian juga dia ingin membeli baju Elbert yang sepertinya tubuh anak itu sudah semakin gemuk.
***
Sesampainya di mall, Alden langsung turun dan membukakan pintu untuk istrinya. Dia membantu sang istri yang kesulitan untuk sekedar bangun.
Mereka memasuki mall terbesar itu dengan Amora yang menggandeng lengan Alden, dan tangan yang lain mengelus perutnya.
"Kita beli baju kamu dulu," ujar Alden saat melihat sang istri yang selalu melirik pakaian anak.
Mereka memasuki toko baju ternama, tujuan Alden adalah membelikan sang istri baju yang longgar tak harus dress yang penting bayinya tidak sesak.
"Dress ini bagus yang, kamu suka gak?" tanya Alden sembari menatap istrinya.
"Suka, semua yang kamu pilih aku suka." jawabnya sambil melirik ke arah lain.
Netra Amora terhenti pada satu objek, dia menarik ujung jaket Alden tanpa melepas pandangannya.
"Mas!" panggil Amora.
"Hm," dehem Alden.
"Mas lihat itu! aku mau beli itu!" kesal Amora sembari menarik lengan suaminya menuju tempat yang menjadi sasarannya.
Alden mengerutkan keningnya, dia menoleh menatap sang istri yang tengah menatapnya berbinar. Dia kembali menatap benda tersebut dan mengambil salah satunya.
"Kamu mau ini?" tanya Alden.
"Ihh! jangan di jembreng juga! malu aku!" kesal Amora sembari menurunkan tangan suaminya.
Alden kebingungan, atensinya menatap pengunjung yang tengah memperhatikan mereka.
Pipi Amora semakin memanas, dia menaruh kembali benda yang ada di tangan suaminya. Setelah itu dia menggeret Alden untuk keluar dari sana.
"Kenapa sih yang? kalau kamu mau beli br4 ya gak papa, kenapa harus malu?" heran Alden.
"Kamu tau gak sih! kalau benda itu adalah benda kramat bagi perempuan mas! ih pokoknya aku kesal sama kamu! mana br4 aku udah pada sempit!" kesal Amora.
Alden menghela nafasnya, dia membawa Amora ke sebuah restoran untuk menenangkan istrinya itu.
"Kamu pesen aja, aku ke ATM sebentar." ujar Alden sambil mengecup kening sang istri.
Amora mengangguk, dia memesan apa yang ia ingin makan. Sementara Alden kembali ke toko tadi untuk membeli yang tadi sudah istrinya pilih.
"Mbak, saya mau baju itu, itu dan itu. Sama yang di pojok paling depan itu, oh iya ... sama satu lagi bungkuskan juga br4 yang berkualitas bagus." ujar Alden tanpa melihat wajah pegawai toko tersebut.
"Br4 nya ukuran berapa mas?" tanya pegawai itu.
"Memangnya ada ukurannya yah?" ujar Alden heran.
Pegawai wanita itu terlihat bingung, dia mengarahkan Alden untuk melihat ukuran apa saja yang ada di toko mereka.
Alden melihat br4 itu, tetapi dia menggeleng dan menatap pegawai tersebut.
"Kecil semua mbak, istri saya sedang hamil anak kembar. Katanya dia ... br4 nya sudah sempit, tapi saya gak tau ukurannya berapa. Tapi emang sih makin gede, kira-kira segini lah mbak. Saya minta sepuluh yah." ujar Alden sembari menunjukkan sepuluh jarinya dan agak di tekuk ke kepan.
Pegawai wanita tersebut langsung tertunduk malu, apalagi saat ini mereka tengah menjadi pusat perhatian.
"Eh, maaf tuan ... jangan seperti itu, ya saya paham berapa ukurannya. sebentar, dan mohon turunkan tangan tuan." ujarnya sembari beranjak mencari ukuran yang Alden maksud.
Alden menatap tangannya, dia mengerutkan keningnya bingung. Memangnya ada yang salah dari petunjuknya?
Pegawai tersebut segera membungkusnya sesuai permintaan Alden, dia menaruh benda tersebut di kasir.
Alden mengeluarkan dompetnya, dia mengeluarkan kartu debitnya dan segera menggeseknya. Tak lama dari itu, Alden segera menyusul istrinya yang tengah menunggunya di restoran.
***
"Yang!" ujar Alden seraya duduk di samping Amora.
Amora mengerutkan keningnya bingung, dia melihat banyaknya paper bag yang di bawa oleh suaminya.
"Kamu abis dari mana? itu apa?" heran Amora sambil menyuapkan sup ke mulutnya.
"Oh ini, tadi aku balik ke toko tadi buat beliin kamu baju sama br4." ujar Alden sambil menaruh paper bag itu di sebelahnya.
Amora sontak saja terkejut, dia langsung mengambil paper bag itu dan melihat isinya.
"Mas! kamu beli br4 kok bisa sesuai ukuranku, mas tau ukuran br4 aku emangnya?" heran Amora sembari melihat ukuran br4 tersebut.
Alden menggeleng, dia meminum jus istrinya yang sedang sibuk dengan belanjaannya tadi.
"Nggak tau? oh aku tau, pasti kamu pilih pake filing kan? suami romantis emang kamu," puji Amora.
Alden melepaskan sedotannya, dia menatap sang istri yang masih melihat isi paper bag itu.
"Aku gak pake filing, tapi pake petunjuk." ujar Alden yang mana membuat Amora menghentikan aktifitasnya.
"Pake petunjuk?" heran Amora seraya menatap suaminya.
Alden mengangguk, dia menunjukkan sepuluh jarinya yang sedikit di tekuk ke depan di hadapan istrinya.
"Aku bilang ukurannya segini," ujar Alden.
Netra Amora membulat sempurna, dia menjatuhkan rahangnya sambil menatap tangan Alden tak berkedip.
"Ka-kamu tunjukin begini di depan mbaknya?" gugup Amora.
"Iya lah, kan aku taunya begini. Benarkan? terakhir kali aku ukur kan malam tadi. Pasti akurat dong," ujar Alden yang mana membuat Amora terdiam dengan wajah merah.
Amora menutup wajahnya, dan itu membuat Alden panik. Dia memeluk istrinya yang tengah terisak, dia pun tak mengerti mengapa istrinya menangis hanya karena sebuah br4.
"Sayang kamu kenapa? aku salah beli yah? apa ukurannya gak muat? tapi aku yakin kok yang ... kalau ukuran kamu punya segitu," panik Alden.
"Hiks ... hiks ... mas hiks ....," isak Amora.
Amora mengangkat wajahnya yang telah do banjiri oleh air mata. Dia menatap Alden dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Hiks ... kamu polos apa bodoh sih mas!" sentak Amora sembari menarik dirinya dari pelukan Alden dan keluar dari restoran dengan menghentakkan kakinya kesal.
Alden bingung, dia menatap paper bag itu dengan heran. Dia bertanya-tanya apa yang salah dari dirinya, mengapa istrinya mengatakan itu?
"Perasaan gue salah mulu deh ... mau nyenengin istri salah, nangisin istri salah. Gue mau pindah ke mars aja dah kalau kayak gitu, heran gue ... punya bini satu aja susahnya minta ampun. Apa kabar laki-laki yang istrinya banyak yah ...," gerutu Alden