
"Kenapa sepi gini tumben?" tanya Jonathan pada mereka yang ada di hadapannya.
Saat ini mereka berada di ruang makan, setelah selesai sarapan Jonathan yang sedari tadi bingung dengan keadaan yang tampak sepi akhirnya bertanya.
"Daddy tanya, kenapa kalian diam-diaman begini? mommy juga tumben diam, biasanya juga ngoceh terus?" ujar Jonathan yang mulai kesal.
Elbert yang sedang meminum susu botolnya melepaskan sedotannya, dia menatap sang mommy dan bergantian menatap sang daddy.
"Mommy tama daddy lagi malahan opa," adu Elbert.
Jonathan mengerutkan keningnya, dia menatap cucu laki-lakinya yang duduk tepat disamping Aqila.
"Marahan? memangnya kalian ada masalah apa? kenapa juga mommy ikutan diam?" tanya kembali Jonathan sambil menatap tajam Alden.
"Kamu buat kesalahan lagi terhadap istrimu Alden?" tanya Jonathan mencoba untuk sabar.
Tak mendapat jawaban dari Alden membuat Jonathan kesal, dia memukul meja dengan keras sehingga membuat mereka terlonjak kaget.
Brak!
"Bisu kalian hah?!" sentak Jonathan.
"Opa janan malah-malah, daddy nda calah ... yang calah om pembinol ya kan daddy? kan kata daddy kalo mommy malah pacti kalna om pembinol," ujar Elbert.
"Pembinol?" tanya Jonathan yang heran dengan ujaran cucunya.
Elbert mengangguk, dia turun dari bangkunya dan mendekat ke arah sang opa.
"Opa, ndong." ujar Elbert sambil merentangkan tangannya.
Jonathan dengan sigap memangku cucunya, dia membiarkan sang cucu banyak bertingkah untuk hari ini.
"Ekhem, daddy dan mommy yang sayang El paling," celoteh Elbert dengan susunan kata tak beraturan.
"El paling sayang, bukan sayang El paling," peringat Jonathan.
"Opa belisik deh, El mau ngomong cucah ini." kesal Elbert sambil menutup telinganya.
Jonathan menghela nafasnya, dia hanya menatap Alden yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"Daddy, pacti pelbuatan om Deon kan?" tanya Elbert yang saat ini mengintrogasi daddynya.
Alden mengangguk yang mana membuat Amora melototkan matanya.
"Deon ngajak kamu ketemuan sama selingkuhan kamu?! itu maksudnya hah?" sentak Amora.
"Gak yang! bener deh yang, aku gak ketemu perempuan sama sekali semalem." ujar Alden sambil mengangkat jarinya yang berbentuk V.
Jonathan bertambah bingung, dia melihat istrinya yang ternyata sedang memvideokan pertengkaran mereka.
"Kamu ngapain sih mom?" tanya Jonathan heran.
"Aku lagi videoin kayak yang lagi viral itu loh," ujar Jeslyn.
"Mom! anak kamu loh itu yang kamu videoin, kamu mau anak kamu nanti jadi bahan tontonan hah?" kesal Jonathan.
Jeslyn akhirnya menyimpan ponselnya, dia kesal dengan suaminya yang tak mengizinkan dia memvideokan apa yang ia lihat secara live.
"CETOOOPP!!!"
Mereka semua terdiam mendengar teriakan melengking Elbert, mereka semua menatap Elbert yang tengah ngos-ngosan dengan wajah memerah.
"Mommy tenapa malah sama daddy?" tanya Elbert setelah mengatur nafasnya.
"Daddy kamu itu selingkuh! tengah malam dia pergi tanpa bilang pada mommy, pulang-pulang sudah hampir pagi dan bajunya wangi perempuan!" jelas Amora.
"Astaga, gak yang ... ngapain aku selingkuh, gunanya buat aku apa? Deon yang ngasih parfum wanita ke bajuku, dia yang ngerjain aku yang karena ngajarin Elbert kata pebinor." terang Alden sambil mengacak rambutnya frustasi.
Mereka akhirnya mengerti, Amora pun paham. Dia mengurangi wajah kesalnya terhadap suaminya itu.
"Tapi aku tetep kesel sama kamu! semalem kamu keluar tanpa bilang sama aku hiks ... kan kamu tau kalau kamu bangun aja aku ikut kebangun, kalau mau tidur aja harus peluk kamu hiks ... semalem setelah kamu pergi aku gak bisa tidur hiks ...," isak Amora.
Alden bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri yang tengah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Maaf yang, aku lupa kalau kamu gak bisa tidur kalau gak ada aku disamping kamu. Maaf," sesal Alden.
Alden memeluk Amora, dia menyesal karena telah meninggalkan istrinya.
"Oh, gitu ceritanya. Mommy kira dia udah belok," ujar Jeslyn yang salah mengira.
"Hah?!" kaget semuanya.
***
"Aira!"
Wanita yang bernama Aira menoleh, dia tersenyum ketika melihat pria yang sempat menolongnya.
"Kak Deon? kakak kok ada disini?" tanya Aira.
"Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain jualan disini? panas tau, apa kamu gak capek?" tanya Deon.
"Kalau aku gak jualan, aku gak bisa makan kak," jawab Aira dengan sedikit tertawa.
Deon menatap jualan Aira, hanya sebuah kue-kue yang biasa dijual di pasaran. Deon tak tega melihat Aira yang berusaha menjual dagangannya.
"Ayah kamu gak nyakitin kamu lagi kan?" tanya Deon.
"Gak kak, udah lama aku gak ketemu sama pria itu." ujar Aira sambil tersenyum hangat menatap Deon.
Deon mengerutkan keningnya bingung, mengapa Aira menyebut ayahnya pria itu.
"Pria itu?" tanya Deon.
"Iya, pria itu. Kalau kakak sebut dia ayahku kakak salah besar, nyatanya aku tak mengenal dirinya sama sekali. Aku masih ingat keluargaku tapi bukan dia, aku juga gak tau siapa dia yang mengaku sebagai ayahku ... aku seperti terbangun di tempat yang asing kak," lirih Aira.
"Di tempat yang asing?" gumam Deon.
"Kak, ini sudah sangat siang. kalau begitu aku permisi kak." ujar Aira mengalihkan pembicaraan sambil beranjak pergi. Namun, Deon segera mencegahnya.
"Tunggu!"
Aira berbalik, dia mengerutkan keningnya bingung saat melihat Deon yang menatapnya.
"Kue kamu aku beli semua," ujar Deon yang mana membuat Aira membulatkan matanya.
"Yang bener kak?" ragu Aira.
Deon mengangguk dengan senyum tipisnya, dia senang melihat kebahagiaan Aira yang sangat sederhana.
Aira dengan semangat membungkus kue itu, setelah itu dia memberikannya kepada Deon.
"Nih kak jadi 150.000," ujar Aira.
Deon mengeluarkan beberapa uang bewarna merah dari dompetnya, dia menyodorkan uang itu pada Aira.
"Loh kak, ini banyak banget. Aku kan cuma minta 150.000." ujar Aira sambil mengembalikan uang itu kembali pada Deon.
Deon menolaknya, dia mengacak gemas rambut Aira dan berlalu dari sana meninggalkan Aira yang sedang mengontrol detak jantungnya.
"Bisa baper Aira kalau terus begini." ujarnya sambil memegangi dadanya.
Sedangkan Deon mengendarai mobilnya dengan hati yang senang, senyumannya tak pernah luntur dari bibir tipisnya.
"Pepet terus sampai gelar jomblo karatan kamu hilang De," ujar pria yang berada di sebelahnya.
"Sirik aja lu Gio, cari pengganti sana!" ujar Deon.
Gio yang tadi memang mempertontonkan adegan pendekatan itu dari dalam mobil, dia tersenyum melihat Deon yang sepertinya sudah mendapatkan tambatan hatinya.
"Itu urusan belakangan, aku mau membahagiakan putriku. Lalu setelah itu biar putriku sendiri yang menunjuk siapa calon ibunya." ujar Gio sembari tersenyum membayangkan kehidupan dia dengan sang putri.
Deon menggelengkan kepalanya, setelah itu dia fokus mengendarai mobilnya.
Sesampainya di Mansion Wesley, Deon dan Gio langsung masuk dengan plastik kue di tangannya.
"Belhenti," titah seorang bocah kepada mereka berdua.
Deon dan Gio saling menatap, mereka bingung berasal dari mana suara itu. Mereka juga menoleh kesana kemari mencari orang yang mengajaknya berbicara.
"Denger gak lu? kok kayak ada suara yah?" tanya Deon yang Mendapat Anggukan dari Gio.
"El dibawah!" sentaknya.
Deon dan Gio menolehkan kepala mereka ke kanan, mereka menundukkan sedikit kepalanya dan melihat Elbert yang tengah bersedekap dada menatap mereka.
"Gala-gala om pembinol, daddy tama mommy jadi malahan! om tenapa cih datel banet cama mommy El? nda laku di lual yah jadi cali istli daddy?" ujar cadel bocah itu.
Deon dan Gio menjatuhkan rahang mereka, mereka terkejut mendengar apa yang Elbert ucapkan.
Sedangkan seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh tersenyum puas.
"Bagus nak, pertahankan keahlianmu." ujarnya sambil menahan tawa.
"Papa, nanti kalau mommy Amora marah lagi gimana?" tanya seorang anak perempuan yang tak lain adalah Aqila.
"Syutt, Aqila jangan bilang sama mommy yah. Ini rahasia kita okey?" jawabnya dengan tenang.
Sementara Aqila menatap belakang Alden yang telah berdiri seorang wanita yang tengah menatap Alden tajam. Aqila sudah meneguk ludah kasar saat melihat wanita itu yang sudah akan meledak.
"Kalau aku boleh taukan? kan aku juga termasuk kita, iya kan sayang?" ujar nya sambil berkacak pinggang.
Alden terlonjak kaget, dia membalikkan tubuhnya dan mendapati sang istri yang sedang menatapnya tajam.
"Emang kamu yah ... bener-bener daddy minim akhlak kamu!" kesal Amora menatap tajam suaminya.
"A-ampun yang ...," takut Alden saat melihat wajah tak bersahabat sang istri.