Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
pertemuan kembali


Amora terbangun dari tidurnya, dia menatap sekeliling ruangan kamar yang asing. Amora menduduki dirinya, setelahnya di menurunkan kakinya. Telinganya menangkap suara gaduh dari luar kamar, dia yang penasaran akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.


Cklek.


Perlahan Amora keluar dari kamar tersebut, dia berjalan menjauhi kamar menuju asal suara. Sesampainya dia di sebuah ruangan yang terdapat seorang pria pari baya dan seorang wanita yang memeluk kaki pria itu.


"Gugurkan! Papi memintamu untuk mengugurkan bayi itu Amora!" sentak pria paru baya tersebut.


Amora mengerutkan keningnya, dia mendengar namanya di sebut oleh pria itu. Netranya menatap wanita yang menangis sambil memeluk kaki pria tersebut.


"Gak pi! Amora gak akan gugurkan kandungan Amora hiks ... anak ini gak bersalah hiks ...," sahut wanita itu.


"Amora?" lirih Amora saat mendengar kembali namanya tersebut.


Amora terkejut ketika melihat wajah wanita tadi, wajah yang mirip dengan raga yang ia tempati. Amora berpikir apakah wanita itu adalah Amora asli?


"Amora! Masa depanmu akan terancam! menjadi ibu tunggal tidak mudah, turuti perkataan papi." ujar pria itu sambil menarik lengan Amora untuk berdiri.


Jiwa keisya memandang aneh pria itu, dia menebak bahwa pria itu adalah ayah kandung dari Amora asli.


"Kenapa pria itu tega sekali ingin membunuh cucunya sendiri?" lirih Keisya.


Amora di tarik kasar oleh pria tersebut ke luar ruangan, mereka melewati Keisya yang menatapnya khawatir.


"Mau di apakan Amora? jangan! jangan!" teriak Keisya sesaat sebelum cahaya putih menghampirinya.


***


"Eungh," lirih seorang wanita.


Mata indah yang tadinya tertutup perlahan terbuka, dia menatap sekelilingnya yang tak asing baginya.


"Alden," gumam Amora.


Amora menduduki tubuhnya, kepalanya berdenyut sangat sakit. Dia tak tahu mimpi apa yang membayangi tidurnya.


Cklek.


Atensi Amora mengarah ke pintu, dia menatap seorang pria yang tengah menggendong putranya. Keningnya mengerut ketika melihat seseorang yang berada di belakang pria itu adalah pria paru baya yang ada di mimpinya.


"Kau sudah sadar?" tanya pria yang menggendong Elbert.


Elbert, mata anak itu memerah dan bengkak. Amora prihatin melihat sang anak yang nampak lelah, dia tak tahu apa yang terjadi pada sang anak.


"Mommy hiks ... El mau tama mommy hiks ...," lirih anak itu.


Amora merentangkan tangannya, dia sangat merindukan sang anak. Entah mengapa rasanya ada yang berbeda, tapi dia tak mengerti.


Elbert masuk kedalam pelukan sang mommy, dia dibawa oleh sang mommy kepangkuannya.


"Kalian siapa?" tanya Amora.


pria itu terkejut, dia menatap pria paru baya di samping dengan wajah seakan-akan bertanya.


"Kau melupakan kakak dan papimu?" ujar pria paru baya itu dengan bingung.


Amora semakin tak mengerti, dia memang tak mengenal pria di hadapannya ini.


"Aku tidak mengenal kalian," ucap Amora dengan pelan.


"Huft ... ternyata benar, kau lupa ingatan. AKu adalah Arjuna Miller dan di sampingku adalah papimu Arthur Miller." ujar pria yang bernama Arjuna sambil duduk di tepi brankar Amora.


Amora menyadari dirinya yang tengah berada di dalam kamar rawat, dia menatap putranya yang ternyata sudah tertidur di pelukannya.


"Akhirnya anak itu tidur, ternyata dia merindukanmu." ujar Arjuna sambil mengelus kepala Elbert.


"Benarkah? berapa lama aku pingsan? karena seingatku, sebelum aku pingsan ada seorang wanita paru baya yang mengatakan bahwa aku adalah anaknya. Kalian ... kalian juga berkata bahwa aku keluarga kalian." ujar Amora sambil menatap Arjuna.


Arthur, pria itu mendekat ke sang putri. Dia memeluk putrinya menyalurkan rasa rindunya, dia sangat merindukan putrinya ini.


"Kau sudah tak sadarkan diri selama 4 jam, kami khawatir. Dokter mengatakan bahwa tubuhmu lemah begitu pula dengan kandunganmu." ujar Arthur sambil melepaskan pelukannya.


"Gugurkan!"


Suara itu menghampiri pendengaran Amora, dia menggelengkan kepalanya. Namun, suara itu tetap terngiang di kepalanya. Kini, Amora sudah menangis. Kata-kata itu seperti menghantuinya.


"Gak hiks ... gak hiks ... bayiku," lirih Amora.


Arthur menatap aneh putrinya, sedangkan Arjuna mengambil Elbert karena khawatir bocah itu akan terbangun.


"Kau kenapa sayang? hey ... tenanglah." ujar Arthur sambil memeluk sang anak yang semakin histeris.


"Hiks ... jangan hiks ... Aku tidak mau menggugurkan kandungan ini hiks ... aku tidak mau!" sentak Amora dengan histeris.


Arthur tertegun, dia tak menyangka bahwa putrinya akan mengingat kejadian 4 tahun silam saat dirinya memaksa putrinya untuk menggugurkan sang cucu. Bukankah tadi putrinya bilang bahwa dia tak mengingat apapun? mengapa kejadian menyakitkan itu putrinya ingat?


"Hey ... papi tidak akan mengulang hal bodoh itu lagi sayang. Papi menyesal, maafkan papi." ujar Arthur sambil menitikkan air matanya. Dia tak kuasa melihat sang putri yang begitu takut terhadapnya.


Amora sudah mulai tenang, dia melepaskan pelukan Arthur dan menatap Arjuna.


"Kak, di-dimana Alden? apa dia sudah sadar?" tanya Amora dengan isak tangisnya.


Arjuna menghela nafasnya kasar, tangannya masih setia menepuk punggung Elbert yang berada di gendongannya.


"Belum, mungkin nanti malam dia sadar." ujar Arjuna sambil menidurkan Elbert tepat di sebelah Amora.


Amora berusaha untuk turun dari brankar, dia ingin menghampiri suaminya. Namun, Arthur menghalanginya.


"Kau mau kemana?" tanya Arthur.


"Amora, Amora mau ke kamar Alden. Amora pengen tahu kondisinya seperti apa," lirihnya.


"Kau istirahat saja dulu, Alden sedang di temani oleh orang tuanya dan mamimu juga sedang berada di sana mengobrol dengan mertuamu. Jadi, jangan paksakan dirimu sendiri ... ingat! kandunganmu juga perlu perhatianmu," ujar Arthur.


Amora menyentuh perutnya, dia menganggukkan kepalanya pelan. Amora kembali merebahkan dirinya dengan di bantu oleh Arthur


"Papi, papi tidak marah dengan mas Alden kan? papi tidak akan menghukumnya kan? papi tidak akan memisahkan kami kan?" ucap Amora.


Ketakutannya selama ini jika dia kembali ke keluarganya, maka keluarganya akan membenci Alden dan memisahkan dia dengan Alden.


Alden memang pernah menyakiti Amora asli, tapi bukan Keisya. Semenjak jiwa Keisya berada di tubuh Amora asli, Alden tak pernah bersikap kasar padanya. Bahkan Alden berubah menjadi pria yang baik untuknya.


Arthur menghela nafasnya, karena jujur dia sangat marah dengan Alden yang membawa putrinya kabur. Tapi, dia juga tau mengapa alasan Alden membawa putrinya adalah karena mempertahankan kandungan Amora. Dia juga ikut andil dalam masalah sang anak, dia yang menyebabkan hal itu bermula.


"Kita akan bahas setelah laki-laki itu sadar," jawab Arthur dengan datar.


Amora menatap papinya, dia khawatir bahwa sang papi tak membiarkannya bersama kembali dengan Alden.


"Pi ...," panggil Arjuna dengan pelan.


"Huft, aku hanya akan memberi pelajaran sedikit padanya. Aku adalah ayah kandung Amora, seharusnya dia tak membawa putriku begitu saja." sahut Arthur.


"Tapi ini semua bermula karena papi! jika saja papi tidak mengancam Amora untuk menggugurkan Elbert, pasti Alden akan meminta baik-baik padamu!" kesal Arjuna.


Arthur menatap tajam sang putra, dia juga masih memiliki hak karena dia adalah orang tua Amora. Sedangkan Amora hanya memandang kakak dan papinya yang saling berdebat.


"Papi mengakuinya, hal itu adalah kesalahan papi! tapi, papi tak terima jika dia menjadikan putriku istri simpanan!" kesal Arthur.


Amora memandang papinya dengan senyum tipis, dia mengira bahwa sang papi akan memisahkannya dengan Alden.


"Pi, Alden telah berpisah dengan istri pertamanya. Kini aku menjadi istri satu-satunya," ujar Amora.


Arthur menatap tak suka pada putrinya, dia berusaha menormalkan emosinya di hadapan sang putri.


"Tidak! papi tidak akan menerimanya sampai publik tahu bahwa kau adalah istri sahnya, istri satu-satunya dan menantu keluarga Wesley!" kesal Arthur.


Amora menatap papinya tak percaya, sedangkan Arjuna memutar bola matanya malas.


"Mulai lagi," gumam Arjuna.