
Setelah keluarga Miller memutuskan untuk pulang, kini mansion itu terasa sangat sepi. Hanya ada para maid dan bodyguard yang bertugas.
"Mommy!" seru Elbert sambil berlari kecil menghampiri sang mommy yang akan masuk ke dalam lift.
Amora menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya dan tersenyum menatap sang anak. Dia mengulurkan tangan kanannya agar segera di sambut oleh sang anak.
"Mommy mau ke kamal? El ikut yah." pinta El sambil menggenggam tangan kanan mommynya.
Amora mengangguk, dia menuntun sang anak untuk memasuki lift. Dia merasakan cengkraman putranya pada tangannya yang mana membuat Amora menatap kebawah.
"El kenapa?" tanya Amora.
"El tadet mommy," ujar anak itu.
Amora baru ingat jika biasanya Elbert akan digendong jika memasuki lift, dan sekarang anak itu merasakan dengan kakinya sendiri.
"Hahaha ... Benarkah? apakah kau suka naik lift?" ujar Amora.
"El cuka, selu." ujar anak itu sambil mengangguk antusias.
Amora tersenyum, tangan kirinya mengacak rambut tebal sang putra dengan gemas.
Pintu lift terbuka, mereka segera keluar menuju kamar Alden. Amora membuka pintu, dia menggandeng tangan Elbert memasuki kamar suaminya.
"Daddy!" seru El.
Alden yang sedang memainkan ponselnya mengalihkan pandangannya ke sang putra. Dia tersenyum menatap putranya, dia menaruh ponselnya dan merentangkan tangannya.
Elbert masuk ke dalam pelukan Alden, tangannya ia kalungkan ke leher sang daddy.
"Mas, sedari tadi aku tidak melihat Aqila. Apa dia memiliki kamar disini?" tanya Amora.
Alden melepaskan pelukannya pada Elbert, dia menatap istrinya yang berjalan menghampirinya.
"Ya, dia memiliki kamar disini karena sebelumnya kami tinggal di mansion ini. Hanya saja, Luna dan mommy selalu ribut. Aku pusing mendengar teriakan mommy dan Luna yang menangis. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah mansion, dan lagi pula saat itu aku telah menikahimu." ujar Alden sambil membawa sang anak ke pangkuannya.
"Agar kau tak ketahuan oleh daddymu iya?" curiga Amora.
Alden mengangguk dengan entengnya, rasanya Amora ingin mencakar wajah suaminya yang terlewat santai.
Elbert turun dari pangkuan Alden, dia menatap kedua orang tuanya yang asik berbincang. Dia melangkahkan kaki mungilnya ke arah kamar mandi, setelahnya dia memasuki kamar mandi itu.
"Waah, besal kolamna." ujar Elbert sambil mendekati bathtub.
Dia berusaha untuk masuk kedalam bathtub itu, dengan sekuat tenaga dia memasukkan tubuh gempalnya ke dalam bathtub.
"Yey, main ail." ujarnya sambil menyalakan keran dan mulai bersenang-senang dengan air.
Sementara itu, Amora dan Alden belum menyadari bahwa sang anak masuk kamar mandi. Mereka terlalu serius berbincang tentang rencana kedepannya.
"Jadi kamu maunya gimana? mau pulang ke Mansion Miller itu kan maksud kamu," ujar Alden.
"Bukan! siapa yang bilang mau pulang ke mansion papi?! aku bilang kalau kayak gini terus mending kita pindah aja selama Luna belum ditangkap!" kesal Amora.
"Yang! emang kamu pikir pindah-pindah rumah itu gampang hah?! aku itu CEO bukan tukang keliling yang seenaknya pindah rumah, lagian juga di sini aman kok." ujar Alden dengan wajah di tekuk karena kesal.
Amora mengepalkan tangannya, dia merasa geram dengan Alden yang seenaknya.
"Punya suami yang gak pengertian begini nih! emang minta di hajar kali ya!" ujar Amora dalam hati.
Alden bergerak gusar, dia mencari keberadaan putranya setelah tersadar bahwa sang putra tiada di dekatnya.
"Elbert mana yang?" tanya Alden.
Amora mengerutkan keningnya, netranya mencari keberadaan Elbert. Tapi, dia juga tak menemukannya.
"Tadikan sama mas! mas sih jaga anak gak bener, ilang kan! kalau keluar gimana coba, apalagi ke tangga," ujar Amora sambil mencari keberadaan putranya di sekeliling kamar.
"Ya mana aku tahu dia kemana, tadi kan kamu ajak aku ngobrol. Malah salahin aku," gerutu Alden.
Amora akan membuka pintu, tetapi pendengarannya menangkap suara gemercik air. Amora mengurungkan niatnya, dia menoleh menatap kamar mandi yang terbuka.
Amora membulatkan matanya, dia langsung berlari ke kamar mandi dan melihat sang anak yang sedang bermain air.
"Elbert!" sentak Amora.
Elbert yang kaget mendengar sentakan Amora langsung terpeleset karena tak menjaga keseimbangan tubuhnya.
Amora terkejut melihat anaknya yang terjatuh, dia segera menghampiri Elbert yang ternyata anak itu tenggelam di bathtub dengan air yang penuh.
Amora mengangkat tubuh sang anak, dia menepuk punggung sang anak agar air yang tak sengaja diminum Elbert keluar.
"Uhuk! Uhuk!"
Amora masih setiap menepuk punggung sang anak, dia khawatir dengan Elbert karena saat ini wajah bocah itu memerah.
"Hiks ... huaaaa uhuk!"
"Kan! bandel sih! untung mommy cepet nemuin El, coba kalau lama!" marah Amora.
Elbert hanya menangis, dia memeluk leher Amora dan membiarkan baju mommynya itu basah. Tubuhnya bergetar karena kedinginan, ditambah dengan omelan sang mommy.
"Hah ... untuk sayang," ujar Amora.
Amora melepas baju Elbert dan memakaikan dia handuk, setelahnya Amora menggendong putranya untuk keluar dari kamar mandi.
"El kenapa yang? kok kamu tadi teriak?" tanya Alden yang bingung melihat anaknya yang memakai handuk.
"Anak kamu nih! seneng banget buat mommynya khawatir heran deh, gak bapaknya gak anaknya sama aja!" kesal Amora.
Alden menggaruk pelipisnya pelan, dia hera kenapa juga dia yang di bawa-bawa. Dia menatap sang istri yang berjalan menuju ranjangnya dan menaruh Elbert.
"Daddy hiks ...," adu Elbert.
Alden memeluk putranya yang masih menangis, dia tahu bahwa sang putra terkejut mendengar kemarahan Amora. Dia juga mengerti istrinya begitu khawatir dengan putra mereka apalagi keadaannya sedang sensitif, tetapi dia tak senang jika Amora berkata dengan nada tinggi pada putranya.
"Lain kali jangan seperti itu lagi yah, izin dulu sama mommy. Kalau mommy sudah izinkan berarti tandanya El sudah di izinkan, jadi tak lagi di omeli mommy." ujar Alden sambil mendekap erat tubuh anaknya yang bergetar.
Amora mengambil pakaian Elbert, doa langsung menuju ranjang untuk memakaikan pakaian itu ke putranya agar sang putra tidak masuk angin.
"Sini El, pakai baju dulu." pinta Amora sambil menarik anaknya dari dekapan Alden.
Elbert hanya menurut, dia tak berani menatap mommynya yang mungkin sekarang masih marah. Dia hanya menuruti ketika mommynya akan memakaikan celana padanya.
"Nah, selesai juga. Nurut kan enak, pintar anak mommy." ujar Amora sambil menyisir rambut putranya.
Alden mendelik tak terima, dia menatap istrinya ingin mengajukan protes.
"Tadi EL nakal dibilang anak aku, sekarang EL nurut di bilang anak kamu. Emang ya, suami selalu jadi tempat salah!" kesal Alden.
Amora menatap suaminya dengan datar, dia mengacungkan sisir itu di depan Alden.
"Mulut kamu mau aku sisir hah! dari tadi ngeluh terus, heran deh!" ujar Amora.
Alden meneguk ludahnya kasar, dia heran mengapa hormon wanita hamil sangat sensitif. Bahkan Amora kini selalu marah-marah hanya karena hal kecil, Alden harus memaklumi itu. Dia harus pintar mengatur kondisi hati istrinya.
"Iya yang, iya ...," takut Alden.
Amora membereskan perlengkapan Elbert, sedangkan Elbert membaringkan tubuhnya. Matanya sudah mulai mengantuk, dia merengek kepada sang mommy.
"Hiks ... mommy hiks ... hiks ...," rengek Elbert.
Alden menepuk paha anaknya, dia tahu jika sang putra mengantuk. Netranya menatap sang istri yang tengah membereskan barang Elbert.
"Yang, El ngantuk nih. Susunya mana?" tanya Alden.
Amora menghampiri putranya, dia menepuk paha sang putra dan mengelus keningnya Tak lama Elbert tidur dengan pulas dan menyisakan Alden yang heran dengan perlakuan Amora.
"Tidurin anak aja kok pake susu. kalau El apa-apa dikasih susu lama-lama anak kamu makin bulet. Kalau terlalu bulet dia bakal susah ngangkat badannya," ujar Amora.
Alden menggelengkan kepalanya, dia salut dengan Amora yang telaten mengurus Elbert. Alden membaringkan tubuhnya, dia menatap istri dan anaknya yang berada di sampingnya.
"The power of mommy," takjub Alden dengan suara lirih.
"Apa kamu bilang?" tanya Amora yang mendengar lirihan Alden.
"E-enggak kok, aku cuma bilang ngantuk. iya ngantuk," gugup Alden.
Amora memejamkan matanya, dia sepertinya juga mengantuk sama seperti sang putra. Setelah beberapa menit, akhirnya Amora tertidur dengan mendekap sang putra.
Alden tersenyum melihat istri dan anaknya, dia berusaha untuk memiringkan tubuhnya agar mendekap keluarga kecilnya.
"Terima kasih buat segalanya sayang, I love you more," ujar Alden. Dia mencium kening istrinya, setelah itu dia mencium kening sang putra dan setelah itu dia ikut menyelami mimpi bersama keluarga kecilnya.
Cklek.
"Al mommy sama dad ...," ucapan Jeslyn terputus saat dia melihat anak dan menantunya beserta cucunya tidur. Dia mengangkat kedua sudut bibirnya membuat sebuah senyuman.
"Ouhh, manis sekali." ujar Jeslyn sambil menahan pekikannya.
"Mom!" panggil Jonathan yang berada dibelakang istrinya.
Jeslyn menoleh, dia memberi tahu Jonathan tentang apa yang ia lihat.
"Dad, lihat dad!" bisik Jeslyn.
Jonathan melihatnya, dia tersenyum melihat keluarga kecil itu.
"Hm, semoga keluarga mereka bahagia selalu dan akan bersama selamanya." ujar Jonathan sambil tersenyum.
Setelah puas melihat, Jeslyn dan jonathan kembali menutup pintu itu. Mereka tak ingin menggangu keluarga kecil itu beristirahat.
___________________
Hai kakak pembaca.
Makasih banget buat kalian yang sudah support aku, sorry aku belum bisa bales semua komenannya. Tapi, makasih banget yang sudah support aku.
Support kalian membantuku untuk mengembalikan semangat. Jujur, terkadang aku ngerasa capek, bosen, dan bingung gimana lagi ngelanjutin alur ini. Tapi, karena komenan semangat kalian yang menunggu untuk up ... aku jadi semangat lagi.
Terima kasih semuanya, dan mohon dukungannya🥰🥰🥰🥰