
"Mommy!" seru Elbert saat melihat sang mommy yang baru saja memasuki mansion.
Amora yang tengah menahan kesal langsung merubah raut wajahnya menjadi senang ketika melihat betapa antusiasnya sang anak dalam menyambutnya.
"Mommy kok lama?" tanya Elbert sembari menekuk wajahnya.
"Kan mommy periksa adek dulu sayang," bujuk Amora.
Amora menggandeng lengan sang anak membawanya masuk ke dalam ruang keluarga. Pinggangnya sudah pegal karena lelah dalam perjalanan.
"Mommy periksa adek El?" ujarnya.
Amora mengangguk, dia menduduki dirinya di sofa sementara Elbert berada di hadapan sang mommy.
"Adek El pelempuan kan mommy?" tanya Elbert.
Amora yang tadinya akan memejamkan mata seketika melebarkan matanya, dia menatap Alden yang baru saja menghampirinya.
"Mas! kita lupa nanya jenis kelaminnya loh! kamu sih pake acara ngalihin pembicaraan!" kesal Amora.
Alden nampak mengerutkan keningnya, dia baru tersadar saat sang istri mengingatnya. Alden menghela nafasnya kasar setelah itu dia duduk tepat disamping sang istri.
"Udah sih yang, nanti juga bulan depan USG lagi. Atau sekalian aja kita gak usah tau biar jadi kejutan nanti kan," bujuk Alden.
Amora nampak menimbang, kemudian dia tersenyum membenarkan ucapan sang suami.
"Benar juga, tumben kamu pintar mas." ujar Amora seraya tersenyum.
"Ck, kamu itu muji kalau aku benar doang. Kalau aku salah pasti marahin aku," kesal Alden.
"Ya namanya juga perempuan mas," sahut Amora.
Elbert menatap mommy dan daddynya secara bergantian, dia ingin menanyakan sesuatu kepada sang mommy.
"Mommy, adek El dicini ada catu?" tanya El sambil menunjuk perut sang mommy.
"Ada dua sayang, jadi ... El punya banyak teman bermain nanti." ujar Amora sembari mengacak rambut anaknya gemas.
Elbert terlihat memikirkan sesuatu, dia mengetuk dagunya menggunakan jarinya. Netranya menatap langit-langit seraya mencari sebuah ide.
"Telus, kalau dua kacian dong pada cempit. Nanti kelualna gimana?" tanya Elbert seraya menatap sang mommy.
"Gak sempit sayang, adek kan sudah terbiasa. Bentar lagi juga keluar jadi gak sempit lagi," jawab Amora.
"Telus kelualna lewat mana?" tanya Elbert kembali.
Sontak saja Amora terdiam, dia menatap Alden yang tengah menyenderkan dirinya sambil memejamkan mata. Dia kembali menatap sang anak yang sepertinya sangat ingin tahu.
"Adek itu nanti keluar ada jalan khususnya sayang," jelas Amora.
"Jalan kucuc itu apa mommy?" bingung Elbert.
Amora menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia menepuk lengan suaminya dengan keras.
"Mas! bantu jelasin napa!" kesal Amora.
"Hm." gumam Alden seraya membuka matanya.
"Jelasin! anak kamu itu rasa ingin tahunya lagi besar. Gimana aku ngejelasinnya coba? bantuin dong," rengek Amora.
Alden tersenyum, dia menegakkan tubuhnya dan membawa sang anak pada pangkuannya.
"El mau tau adek keluar dari mana?" tanya Alden yang di jawab anggukan dari Elbert.
"El tau Goa kan?" tanya Alden yang kembali di balas anggukan oleh sang anak.
"Adek keluarnya dari Goa," jelas Alden.
Amora melototi suaminya, sementara Elbert tampak kembali berpikir yang mana membuat kedua orang tuanya tampak was-was.
"Dali Goa mana?" bingung Elbert.
"Hahaha itu ...," ragu Amora.
"Goa kenik ...,"
Plak!
Alden memegangi bibirnya yang tadi dipukul oleh sang istri, dia menatap dengan wajah melasnya kepada istrinya yang tengah menahan kesal.
"Kamu kalau ngomong disaring dulu napa mas! ini Elbert belum genap empat tahun loh, kamu udah ngomong begitu!" kesal Amora.
"Ya maaf yang, lagian juga dia malah ngerti." bela Alden.
"Ngerti gak ngerti, Elbert belum bisa denger begitu!" kesal Amora.
Elbert menatap bingung kedua orang tuanya, dia menggaruk pelipisnya ketika melihat sang daddy yang mengelus bibirnya.
"Nah kan! tanggung jawab kamu! aku gak mau tau! kesal Amora.
***
"Kamu mau kemana Leon?" tanya Zidan ketika melihat anaknya yang sudah rapih dengan jaketnya.
"Leon mau kerumah tante Amora," singkatnya seraya menyisir rambutnya.
Zidan nampak mengerutkan keningnya, dia berjalan memasuki kamar sang anak yang berantakan karena banyak baju yang keluar.
"Apa ini Leon? kamu mau obral baju hah?!" ujar Zidan.
"Papa saja, cita-cita Leon jadi dokter bukan jadi pengobral barang." ujarnya seraya menaruh sisirnya.
Zidan menatap kesal ke arah sang anak, dia mengambil satu persatu baju Leon yang berserakan di bawah.
"Kamu mau ketemu istri orang mau jadi pebinor kamu! dandanannya aja kayak udah ABG mau ketemu pacar," heran Zidan.
"Papa sirik aja, Leon begini supaya masuk calan mantu idaman." ujarnya seraya tersenyum tipis.
Zidan yang akan mengambil salah satu baju mengurungkan niatnya, dia menatap sang anak yang tengah memakai topinya.
"Mantu? kamu belok? kan anaknya om mu kan laki-laki," heran Zidan.
"Emang papa kira aku belok hah?! papa lupa kalo tante Amora hamil?" kesal Leon.
"Emang kamu udah pastiin kalau bayi yang di kandung tantemu itu perempuan? kalau laki-laki gimana?" ledek Zidan.
Leon memicingkan matanya, dia memakai sepatunya tanpa menghiraukan pertanyaan sang papa. Dirinya yakin jika Amora memang mengandung bayi perempuan.
"Lagi pula, apa kakekmu mengizinkan? secara dia dan nenekmu itu sampai sekarang belum akur." ujar Zidan sembari menahan tawa.
"Aku butuh restu dari om Alden, bukan kakek tua itu. Lagi pula, dia sudah tua dan tak perlu aku takutkan." ujarnya sembari menatap sang papa yang kini duduk di tepi kasurnya.
Zidan tersenyum, dia bangga dengan sang anak yang percaya dengan pendiriannya. Todak sepetinya uang selalu menuruti semua perkataan sang ayah.
"Baiklah, kau hati-hati di jalan. Bilang sama pak supir untuk jangan ngebut," ujarnya.
"Aku tidak naik mobil," ujarnya yang mana membuat Zidan tertawa.
"Ayolah Leon, jangan bercanda. Apa kau akan jalan kaki? kau bukan hanya berbeda rumah, tapi juga berbeda kota hahaha," ledek Zidan.
Leon tak terima, dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo paman, apa helikopternya sudah siap?" tanya Leon pada seseorang yang dia telpon.
Zidan menghentikan tawanya, dia bingung mengapa sang anak ingin disiapkan Helikopter.
"Jangan bilang kau akan ke Mansion Wesley dengan Helikopter," ujar Zidan dengan pelan.
"Tentu saja, untuk apa aku naik mobil duduk berjam-jam padahal aku memiliki helikopter. Ayolah papa, kita memiliki otak untuk berpikir bukan? kalau memakai Heli lebih cepat sampai, untuk apa kita memakai mobil," terangnya.
Zidan menggelengkan kepalanya, dia bingung mengapa sang anak memiliki kepintaran yang lebih dari dirinya.
"Aku akan berangkat sekarang, sampai jumpa papa." ujarnya seraya memeluk sang papa dan beranjak dari sana.
Zidan hanya menatap kepergian sang anak dengan tersenyum tipis, dia menyeka air matanya yang berada di ujung matanya.
"Sayang, lihatlah anak kita. Dia akan beranjak dewasa, sangat pintar dan juga tampan. Rasanya baru kemarin aku menggendongnya, memandikannya, dan mengajaknya bermain. Kini bahkan dia sudah berani untuk mendatangi keluarga calonnya yang bahkan belum lahir," gumamnya.
Sementara itu, setelah perdebatan masalah bayi. Kini Elbert tengah bermain ikan di kolam sang granpa, dia nampak antusias menangkap ikan tersebut tanpa menghiraukan bajunya yang basah.
"Tuan kecil, naik yah ... jangan ditangkap ikannya, ayo saya bantu naik." bujuk Erwin seraya menjulurkan tangannya.
Elbert menggeleng, dia masih ingin menangkap ikan dan tidak memperdulikan permohonan Erwin.
"Nanti ikana El balikin lagi kok paman," bujuk Elbert.
"Itupun kalau ikannya masih hidup tuan kecil," lirih Erwin yang merasa kasian terhadap ikan-ikan yang sepertinya stres akibat ulah majikannya itu.
Elbert mengambil satu ikan berukuran kecil, dia memegang ikan itu dengan keras yang mana membuat ikan tersebut mengeluarkan isi perutnya.
"Yah ... kok mencelet cih paman," ujarnya.
Erwin menatap miris ikan yang seharga mobil sport itu, bahkan gajinya harus ia kumpulkan dulu baru bisa membeli ikan tersebut. Itupun kalau dirinya kurang kerjaan membeli ikan dengan harga yang fantastis.
"Tuan kecil, sebaiknya naik yah ... kalau tuan besar pulang bisa marah besar." bujuk Erwin seraya menarik anak itu untuk naik dati kolam.
Elbert menurut, dia membuang ikan yang telah mati itu begitu saja. Dia menatap Erwin yang tengah menatap ikan itu dengan pandangan mirisnya.
"Paman cuka yah cama ikana? El duga, tapi sudah mencelet paman," ujarnya.
Erwin menghembuskan nafasnya kasar, dia beralih menatap Elbert yang sibuk mengoceh. Ikannya sidah tak dapat di selamatkan, sesuai perkataan anak itu yang menyebut mencr*t menjadi menceret.
"Yasudah ayo tuan kecil bersih-bersih keburu tuan besar pulang." ujarnya seraya menggandeng tangan Elbert.