
Kini di ruangan Alden semua telah berkumpul termasuk keluarga Amora, mereka semua tengah menatap satu objek yang sama yaitu Alden.
Alden menjadi tontonan mereka, karena saat ini pria itu tengah disuapi makan oleh Amora. Tadi saat Zidan datang kebetulan keluarga Amora dan suster yang membawa Alden makan sorenya sehingga acara dia berdebat dengan Zidan harus di tunda.
"Lagi yang," pinta Alden sambil membuka mulutnya menghiraukan tatapan tajam dari para pria.
Amora kembali menyuapi Alden, dia dengan telaten mengurus suaminya walaupun tadi dia sempat pingsan. Tapi tak membuatnya menolak keinginan Alden yang ingin di suapi.
Arthur sudah resah dengan Alden, dia bangkit dari duduknya dan mendekati brankar Alden.
"Sini! biar papi yang suapi dia." ujar Arthur sambil mengambil paksa nampan di tangan Amora.
Amora yang tak siap pun hanya pasrah, dia berdiri untuk memberikan papinya duduk.
"Apaan sih pi, aku mau di suapi sama istriku!" kesal Alden.
"tvoya zhena moya doch'!" ujar Arthur sambil menyuapi Alden dengan paksa dengan tangan satunya mencengkram dagu Alden.
("Istrimu itu adalah putriku!")
Alden yang tak siap pun terbatuk, netranya menatap tajam Arthur yang tengah tersenyum puas mengerjainya.
Amora segera memberikan suaminya minum, dia tak tega dengan suaminya yang dikerjai oleh papinya.
"Pi, biar Amora aja yang suapin mas Alden yah." pinta Amora sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil nampan yang berada pangkuan sang papi.
Arthur menghalanginya, dia menggeleng karena dia masih belum puas mengerjai Alden. Rasanya mengerjai Alden tak sebanding dengan Alden yang membuat putrinya menderita.
"Udah ah yang! papimu itu kasar banget! males aku!" kesal Alden setelah batuknya mereda.
Arthur tak menghiraukannya, dia kembali menyuapi Alden dengan memaksa.
"Makan atau saya bawa pulang putri saya!" ancam Arthur.
Alden mau tak mau membuka mulutnya, dia menatap Amora meminta pertolongan. Kini, dia sudah menjadi seperti anak kecil yang minta di suapi oleh ibunya.
Amora hanya menatap suaminya dengan senyum terpaksa, dia juga tak bisa membantah ucapan Arthur. Dia masih sangat canggung dengan keluarga barunya.
"Mommy," panggil Elbert.
Amora menoleh menatap sang anak yang kini sedang duduk di pangkuan Queen. Semua keluarganya duduk di sofa, bahkan Zidan duduk di sebelah Arjuna.
"Iya sayang," sahut Amora sambil menghampiri sang anak.
"Lapel," ujar Elbert sambil merentangkan tangannya ke arah sang mommy.
Amora mengerti, anaknya memang sering lapar di jam segini. Tetapi anak itu tak mau makan nasi, bocah mungil itu hanya ingin makan cemilan.
Amora duduk di sebelah sang mami, dia memindahkan sang anak ke pangkuannya.
"El laper? makan nasi ya, soalnya disini gak ada cemilan." ujar Amora sambil membenarkan rambut sang anak yang nampak berantakan.
Elbert menggeleng, dia kembali menatap sang mommy yang sedang mencari sesuatu.
"Disini gak ada cemilan El, biskuit El kan di rumah sayang. Makan nasi aja yah, nanti malam om juna belikan El cemilan." bujuk Amora sambil mengelus punggung sempit itu.
Elbert menatap mommynya dengan melas, dia sangat ingin makan cemilan saat ini. Namun, tak ada cemilan sama sekali disini.
Cklek.
Atensi mereka mengarah ke pintu dan terlihat Gio yang sedang menggandeng tangan Aqila memasuki ruang rawat Alden.
"Wah, udah rame aja nih." ujar Gio sambil mendekati Deon yang sedang memainkan ponselnya di sofa yang berada di sudut lain.
Aqila menatap Elbert yang tengah melihat ke arah benda yang ia pegang, Aqila mengerutkan keningnya ketika Elbert menatap apa yang ia pegang tanpa kedip.
"Ada apa dengan permen kapasku?" gumam Aqila.
Aqila menghampiri brankar Alden, netranya menatap sang papa yang memandang tak suka pada orang yang ia tak kenal.
"Papa," panggil Aqila.
Alden menoleh, dia tersenyum menatap putrinya yang sepertinya tengah puas bermain.
"Putri papa sudah pulang," ujar Alden.
Arthur menatap Aqila dengan heran, dia memang tak melihat Aqila sedari tadi.
"Anak kamu?" tanya Arthur.
Alden mengangguk, dia mengelus rambut panjang putrinya. Sementara Gio hanya duduk di sebelah Deon sambil menatap interaksi mereka.
"Sama mantan mu?" tanya kembali Arthur.
"Iya, Aqila kenalkan diri kamu sama grandpa sayang." ujar Alden sambil mengelus kepala putrinya.
Tak mungkin Alden mengatakan bahwa Aqila bukan anaknya dengan Luna saat ini, dia harus menjaga perasaan Aqila. Belum saatnya dirinya memberitahu Aqila yang sebenarnya, apalagi Aqila baru di tinggal oleh Luna ibu kandungnya yang entah sekarang ada dimana dan saat ini telah menjadi buronan polisi.
Aqila menatap Arthur, dia melihat Arthur dari atas sampai bawah. Keanehannya dilihat oleh semua irang yang berada di sana.
"Kenapa sayang?" tanya Alden heran.
"Gak pa, aku kira dia seumuran papa. Ternyata sudah kakek-kakek," ujar Aqila tanpa melepas pandangan dari Arthur.
Arthur bingung, apakah dia harus senang ataukah kesal saat mendengar perkataan Aqila.
"Halo kakek, namaku Aqila Wesley." ujar Aqila sambil tersenyum manis menatap Arthur.
Netranya tak sengaja menatap Elbert yang sedang membuka mulutnya menatap suatu objek, dia mengarahkan pandangannya ke arah sesuatu yang menjadi pusat perhatian Elbert.
"sakharnaya vata?" gumam Arthur.
("Permen kapas?")
Arthur mengerti, ternyata cucunya itu menginginkan permen kapas. Arthur kembali mendekati Aqila dia menatapnya dengan datar.
"Boleh kakek minta permen kapasnya?" tanya Arthur dengan suara yang sedikit di lembutkan.
"Hah," heran Aqila.
Netra Aqila menatap permen kapas di tangannya, dia kembali menatap Arthur yang sedang berharap dia mengiyakannya.
"Kakek suka permen kapas?" heran Aqila.
Belum juga Arthur menjawab, Alden terlebih dahulu berbicara.
"Sadar umur pi, nanti diabetes loh?" ujar Alden meledek Arthur.
Arthur menatap tajam Alden, dia kesal dengan menantunya yang meledeknya. Padahal ia tak mempunyai diabetes.
"Hm, yasudah deh ... ini untuk kakek saja, tadi Qila sudah makan 2 bungkus sebelumnya." ujar Aqila sambil memberikan permen kapas itu kepada Arthur.
"Terima kasih, dan untuk kau! aku minta pada putrimu karena cucuku menginginkannya. Apa kau tak lihat mulut putramu sedari tadi terbuka melihat permen kapas ini? dasar ayah gak peka!" ujar Arthur sambil menatap tajam Alden.
Aqila mengerti, ternyata Elbert menginginkan permen kapasnya. Aqila menatap Arthur yang tengah berjalan menghampiri Elbert.
Sedangkan Alden, dia baru menyadari bahwa sang anak tengah menginginkan permen kapas yang berada di genggaman Arthur.
"El mau?" tanya Arthur.
Elbert mengangguk antusias, matanya berbinar melihat permen kapas itu. Sementara Amora yang juga menyadari Elbert menginginkan permen kapas menatap khawatir.
"Bilang sama kak Qila kalau El mau permen kapas," ujar Arthur.
Elbert turun dari pangkuan sang mommy, dia menghampiri Aqila yang sedang menatapnya.
"Kak Qila, El boleh minta pelmen kapasna?" ujar El sambil menggenggam tangannya berada di belakang tubuhnya.
Aqila mengangguk, dia tersenyum melihat kelucuan El. Netranya tak sengaja menatap Gio yang tengah tersenyum menatapnya.
Elbert kembali mendekati Arthur, dia menatap permen kapas itu dengan antusias.
"Mau! El mau," ujar anak itu.
Arthur mengangkat cucunya kepangkuannya, dia menduduki dirinya di samping Zidan karena hanya tempat itu yang kosong.
Arthur mulai membuka bungkus permen kapas itu, dia menyuapi sang cucu yang sepertinya sangat senang.
Amora menatap khawatir Elbert, dia sangat menjaga gigi sang anak. Sementara papinya malah memberi Elbert makanan manis yang bisa merusak giginya.
"Pi," panggil Amora.
"Ya," sahut Arthur tanpa lepas pandangan dari Elbert.
"Kasihnya jangan banyak-banyak, udah cukup segitu aja," ujar Amora.
Arthur menghentikan suapannya, dia mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Amora. Memangnya ada yang salah dengan permen kapas?
"Kenapa?" tanya Arthur bingung.
"Hemofilia, Elbert mempunyai hemofilia. Dia harus menjaga giginya agar tidak berlubang," ujar Arjuna memasuki percakapan mereka.
Arthur memandang Amora dengan lekat, dia tak menyangka bahwa sang cucu memiliki penyakit itu.
"Maaf pi, bukannya Amora melarang. Tapi Elbert harus menjaga giginya, bahkan susu yang Elbert minum di buat khusus mengandung sangat sedikit gula," ujar Amora yang merasa tak enak.
Arthur memberikan permen kapas itu pada Leon yang sedang duduk di samping Eveline yang sedari tadi menatap drama mereka.
"Ambillah, kau pasti juga suka." ujar Arthur sambil mengulurkan permen kapas itu pada Leon.
Leon hanya menatap datar permen kapas itu, dia tak pernah menyukai makanan manis. Bahkan dirinya tak pernah tau apa rasanya permen, karena setiap makan-makanan manis dia merasa aneh pada lidahnya.
"Ehm, maaf om. Putraku tak menyukai makanan manis," ujar Zidan dengan nada dinginnya.
Arthur merasa heran dengan Leon yang seperti aura pria dewasa, dia tak mengerti kenapa bocah itu sangat bersikap dewasa.
"Kau memiliki anak jadi-jadian yah," ujar Arthur yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.
Sedangkan Jeslyn dan Jonathan mereka hanya melihat adegan drama yang Arthur buat kali ini.
______________________________________________
Hai kakak pembaca, gimana nih part ini? seru gak? ππ.
oh iya, aku minta dukungan kalian ya ...,
Karyaku ini diikutkan untuk kontes you are writer season 6. Untuk itu aku minta dukungannya yah dengan cara beri like, vote dan hadiah pada karyaku yang berjudul Transmigasi Mommy.
Bantu novel Transmigarasi Mommy untuk berkembang yah π€π€.
Terima kasih banyak untuk kakak para pembaca yang sudah dukung karyaku ini hingga karyaku bisa menduduki rangking untuk saat ini.
Love untuk kalian dehπ₯°π₯°π₯°π₯°