
Sudah lima hari terhitung semenjak kepulangan mereka dari London, keadaan Elbert pun sudah membaik walaupun suhu tubuhnya masih terasa hangat.
"Aku ke kantor dulu yah, mungkin pulangnya agak telat. Gak papa kan?" tanya Alden sambil memakai kemejanya.
Amora yang tengah tertidur akibat tidak enak badan pun membuka matanya, ia menatap Alden sejenak lalu mengangguk dan menutup matanya kembali.
Alden yang tak mendapat respon dari istrinya segera mendekat dengan kancing kemeja yang sudah terpasang, tangannya terulur untuk menyentuh pipi sang istri.
"Kenapa hm?" tanya Alden.
"Gak papa, badannya gak enak aja." lirih Amora sembari membuka kembali matanya.
"Apa aku gak usah berangkat aja? kamu lagi sakit begini malah mommy sama daddy lagi gak ada di rumah," ujar Alden.
"Gak papa, kamu berangkat aja. Lagi pula ada banyak bodyguard dan juga maid," ucap Amora menenangkan kepanikan Alden.
Alden mengangguk pasrah, dia menarik selimut hingga sampai sebatas leher Amora. Kemudian dia mendekatkan dirinya pada istrinya itu dan mengecup pucuk kepalanya lama.
"Aku berangkat dulu yah, kalau ada apa-apa langsung telpon aku," pinta Alden.
Amora mengangguk, dia kembali memejamkan matanya sementara Alden langsung memakai jasnya yang berada di kasur. Dia menatap sejenak sang istri kemudian beranjak dari sana.
***
"Tuan kecil mau ngapain lagi? kemarin tuan besar sudah marah, jangan buat tambah marah." kesal Erwin sambil menarik Elbert menjauhi kandang burung itu.
Elbert menatap sinis Erwin, dia berusaha melepaskan dirinya dari Erwin yang tengah menarik lengannya erat.
"El tuma mau liat, nda di lepas kok!" kesal Elbert.
"Tuan kecil itu kalau ngomong pasti ada maksud lain, memangnya saya tidak tahu huh?" balas Erwin.
Elbert kesal, dia menarik tangannya dan berjalan menjauhi Erwin. Kaki mungilnya melangkah masuk mansion kembali dengan wajah kesal.
"Dasal! El kan tuma mau liat, pelit amat!" gerutunya sembari memasuki ruang dapur.
Netra Elbert berbinar ketika melihat tidak ada satupun maid di dapur yang mana membuatnya lebih leluasa untuk menemukan apa yang ia inginkan.
"Waah, kecempatan! bibi lagi gak ada, jadi El bica ambil cucu. Dimana yah mommy biaca cimpan?" gumamnya sembari melihat meja dengan menjijitkan kakinya.
"Nda ada, di lemali ada pacti!" ujarnya.
Elbert menatap lemari yang berada di atasnya, dia menatap sekeliling dan menemukan kursi. Dengan gerakan cepat, tubuh mungilnya menghampiri kursi itu dan mendorongnya hingga di depan lemari yang ia maksud.
Kaki mungilnya berusaha untuk menaiki kursi itu, setelah berhasil dirinya segera membuka lemari itu dan menatap sebuah kaleng susu yang tersusun rapih.
"Wah ... cucu El ada banak, ambil catu mommy nda tau kan?" gumamnya sembari menaruh telunjuk tepat pada dagunya.
Elbert berusaha mengambil kaleng itu, tetapi tangan mungilnya malah tak sengaja menjatuhkannya yang mana membuat bubuk susu itu jatuh berhamburan.
BRAK!
"Yah ... jatoh ... daddy gak iklac ngacihnya nih!" gerutunya sembari berusaha untuk turun.
Elbert mendekati kaleng susu itu yang ternyata hanya tersisa setengah, dia menatap susu yang berhamburan itu dengan miris.
"Nda pala lah, daddy kan punya dolal. Buat beli cucu El pacti macih bica," gumamnya dan membawa kaleng susu itu menjauh.
Elbert berjalan ke ruang tengah, selama perjalanan dia menyendokkan susu bubuk itu dengan tangannya. Elbert asik memakan susu bubuk itu tanpa menghiraukan pandangan bingung dari bodyguard yang berjaga tepat di ruang tengah.
"Paman napa liatin El? paman mau cucunya?" ujar Elbert sembari menyodorkan kaleng susu itu.
Bodyguard tersebut menggeleng, dia bingung mengapa bocah itu memakan susu bubuk dan tak ada yang mencegahnya.
"Yacudah," cuek Elbert dan lanjut berjalan.
Elbert menduduki dirinya di sebuah sofa, dia menaruh kaleng itu tepat di tengah-tengah kedua kakinya. Wajahnya kini sudah cemong akibat susu bubuk itu, dirinya pun melupakan bahwa saat ini suhu tubuhnya masih terasa hangat.
PRANG!
Elbert tersentak kaget, dia menoleh dan mendapat beberapa bodyguard berlari menuju kamar . Elbert langsung melepaskan kaleng susunya dan ikut berlari ke kamar tersebut yang ternyata adalah kamar Amora dan Alden yang memang sudah di pindah ke bawah.
Elbert masuk, dia mendapati salah satu bodyguard sedang menelpon dan yang lainnya membopong tubuh sang mommy. Netranya membulat sempurna ketika melihat darah yang berada di baju sang mommy.
"Hiks ... mommy El tenapa hiks ...," tangisnya ketika berpapasan dengan para bodyguard yang membopong tubuh mommynya.
"Tuan kecil sebaiknya ikut, kita akan membawa nyonya kerumah sakit." ujar bodyguard yang sedang menelpon tadi sembari menggendong Elbert.
Mereka langsung memasukkan Amora yang sudah tak sadarkan diri kedalam mobil, begitu pula dengan Elbert yang duduk tepat di samping sang mommy.
"Hiks ... mommy!" panik Elbert.
Mobil berjalan meninggalkan mansion dengan kecepatan tinggi, bahkan salah satu bodyguard mengawal mereka dari depan guna membuka jalan agar cepat sampai.
Selang beberapa menit, mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di rumah sakit Wesley. Para suster yang memang mengenal mobil keluarga Wesley segera membawa brankar dan langsung membantu Amora yang sedang dipindahkan ke brankar oleh para bodyguard.
Brankar Amora segera di dorong, para bodyguard pun langsung membawa Elbert menyusul para suster tersebut.
Saat Amora masuk ruang oprasi, mereka harus menunggu sementara Elbert yang sedari tadi menangis membuat mereka tak tega.
"Tuan kecil berdoa saja, semoga nyonya tidak papa. Tadi saya sudah menghubungi tuan muda, pasti sebentar lagi datang." bujuk salah satu dari mereka sambil mensejajarkan dirinya dengan Elbert.
Tap!
Tap!
Tap!
Mereka menoleh saat mendengar suara ketukan sepatu menggema di lorong tersebut. Ternyata itu adalah Erwin yang mendekati mereka sembari berlari.
"Kalian bisa pulang, aku akan menjaga Elbert dan menunggu nyonya." titah Erwin sambil mengambil alih Elbert.
Para bodyguard mengangguk ketika mendengar perintah atasan mereka. Mereka pergi dari sana sedangkan Erwin segera duduk dan memangku Elbert.
"Tenang lah, mommy dan adik pasti baik-baik saja." ujarnya sembari mengambil sapu tangan dan membersihkan wajah Elbert yang cemong karena susu dan aur mata.
"Mommy cama dedek gak papa?" ujar Elbert.
Erwin mengangguk, tak lama dia mendengar suara langkah mendekati mereka. Dia menoleh dan mendapati Alden dengan wajah paniknya menghampiri Erwin.
"Gimana win? Istri gue gimana? kandungannya gimana?" tanya Alden dengan beruntun. Dia datang setelah bodyguard tadi menelponnya dan mengatakan bahwa sang istri tak sadarkan diri.
"Masih di tangani dokter, saya gak tau kandungannya gimana. Kata bodyguard nyonya pendarahan, mereka udah nemuin nyonya pingsan dengan darah," terang Erwin.
Alden terduduk lemas, seharusnya dia tidak berangkat ke kantor dan menunggu istrinya yang sedang sakit itu. Tangannya mengacak-acak rambutnya, dia juga tak menghiraukan putranya yang menangis.
OEEKK
OEEKK
Seketika Alden berdiri, dia menatap Erwin dengan pandangan haru. Tangannya menangkup pipi nya ketika suara kedua bayi itu terdengar.
"Erwin ... anak gue hiks ... anak gue ...," lirih Alden.
Erwin tersenyum, sementara Elbert menghentikan tangisnya dan menatap bingung suara yang memasuki gendang telinganya.
Cklek!
Dokter keluar dati ruang oprasi, dia menatap Alden yang juga tengah menunggu jawabannya.
"Anda suaminya?" tanya dokter tersebut yang di balas anggukan oleh Alden.
"Selamat pak, kedua bayi anda lahir secara selamat dan sehat tanpa kekurangan apapun. Walaupun begitu, bayi anda harus di taruh di inkubator karena lahir prematur. Nyonya segera saya pindahkan ke ruang rawat, kemungkinan nyonya akan terbangun malam nanti." terang dokter tersebut sambil tersenyum.
Alden tak dapat menahan rasa bahagianya, doa menutup wajahnya sambil menangis bahagia. Walaupun istrinya melahirkan prematur, tetapi mereka selamat dan itu sudah cukup bagi Alden.
"Anak pertama tuan adalah perempuan dan anak terakhir adalah laki-laki. Tetapi berat badan bayi laki-laki lebih ringan dari bayi perempuan. Untuk itu kami akan memberikan perawatan yang lebih insentif. Kalau begitu saya permisi," jelas kembali sang dokter.
Alden mengangguk, dia sangat bersyukur karena istri dan anaknya selamat. Netranya beralih menatap Elbert yang sesenggukan karena menangis tadi.
"El sini nak," panggil Alden.
Elbert menghampiri daddynya, dia langsung mengangkat tangannya pertanda ingin di gendong.
"Mau liat adek?" tanya Alden.
"Adekna udah kelual dali Goa ya daddy?" tanya Elbert di sela-sela sesenggukannya.
Erwin menatap Alden bingung karena ucapan Elbert, sementara Alden menahan tawanya.
"Iya, adek dah keluar dari Goa. Adek El ada dua loh," ujar Alden.
"Laki-laki cemua ya daddy!" seru Elbert.
"Tidak sayang, satu laki-laki dan satu perempuan." ujar Alden sembari mengecup pipi bulat sang anak yang tercium bau susu.
"Kenapa nda laki-laki cemua aja daddy? kok pelempuan cih!" kesal Elbert.
Alden menatap Erwin, dia bingung bagaimana menjelaskannya pada Elbert. Sementara Erwin sudah tertawa.
"Itu ... daddy juga gak tau, kan sudah takdirnya sayang," jelas Alden.
"Kalo di macukin lagi bica daddy? nanti kelualna ciapa tau laki-laki," tanya Elbert.
Alden melongo mendengar pertanyaan Elbert, sementara Erwin tengah tertawa.
"Tuan, lebih baik anda memberi tahu keluarga istri anda dan tuan beserta nyonya besar. Jika mereka tau terlambat, nasib anda hanya hitungan jam saja," ledek Erwin.