
Malam ini Alden membawa Elbert pulang, karena bocah itu memaksa untuk pulang dan berakhir Alden harus meminta izin kepada sang dokter untuk memperbolehkan anaknya pulang.
Dan teruntuk siang tadi, Alden sudah membelikan makanan yang Amora idamkan. Walaupun pria tadinya pria itu tidak mau, tetapi Amora menakutinya dengan berkata bahwa jika tidak menuruti ngidamnya anak mereka bisa ileran. Maka dari itu Alden langsung membelinya, dan menuruti ngidam istrinya itu.
"Iya udah, dokternya tadi bilang El boleh pulang kan? sudah jangan menangis lagi," ujar Amora pada anaknya yang berada di gendongan Alden.
Saat ini mereka tengah berjalan menuju parkiran rumah sakit, akan tetapi Elbert masih saja sesenggukan akibat menangis tadi.
"Daddy nda bawa El kecini lagi kan?" tanya anak itu di sela-sela sesenggukannya.
"kalau El nurut, daddy gak bawa El kesini lagi. Tapi, kalau El gak nurut daddy bakal bawa El kesini lagi biar di jait lagi sama dokternya." ucap Alden sambil mengelus punggung sempit sang anak.
"Nda! El nulut nanti tama mommy," ujar anak itu.
Alden menghentikan langkahnya, dia menatap sang anak dengan heran.
"Kok sama mommy aja, sama daddy?" tanya Alden heran.
"Nulut tama mommy EL dapet cucu, Kalo nulut tama daddy El dapet apa?" tanya anak itu sambil memiringkan kepalanya.
Alden mendatarkan wajahnya, sedangkan Amora tertawa mendengarkan ucapan sang anak. Elbert memang kelewat pintar hingga memanfaatkan situasi yang ada.
"Sudahlah, sebaiknya kita cepat pulang. Sudah malam," ucap Amora di sela tertawanya.
Mereka akhirnya pulang menuju mansion dengan Alden yang menyetir dan Amora yang duduk di sebelahnya dengan memangku Elbert.
Sesampainya mereka di mansion, Alden langsung keluar dengan Elbert di gendongannya diikuti juga oleh Amora. Sedangkan para bodyguard membuka bagasi Alden dan mengambil barang-barang milik tuannya.
"Apa Aqila sudah pulang? tadi kau bilang kalau Aqila sedang bermain dengan temanmu?" tanya Amora saat memasuki mansion yang terlihat sepi.
"Entah, Gio belum bicara apa-apa padaku. Kita lihat langsung ke kamar Aqila, siapa tahu Gio sedang menidurkannya." ujar Alden sambil menggandeng tangan sang istri.
Alden memasuki kamar, dikarenakan Elbert yang tidur di perjalanan membuat Alden akan menidurkan anaknya itu di kamar. Setelahnya dia ingin melihat Aqila di kamarnya.
"Kau mau ke kamar Qila?" tanya Amora.
Alden mengangguk singkat, dia dengan perlahan merebahkan Elbert di kasur king size itu. Tangannya terulur untuk menarik selimut guna menyelimuti Elbert, sedangkan Amora hanya melihat apa yang suaminya lakukan.
"Iya, kamu mau ikut ke atas?" tanya Alden.
Kamar utama yang mereka tempati berada di bawah, Alden sengaja mengambil kamar utama yang berada di bawah untuk Amora. Dia takut jika Amora lelah jika kamarnya berada di lantai atas.
"Mau, aku mau menanyakan sesuatu pada Aqila." ujar Amora sambil melepas tas selempangnya.
Alden mengangguk, dia menggandeng tangan istrinya keluar kamar menuju kamar Aqila. Namun saat Alden menekan lift, teriakan seseorang membuatnya mengurungkan niatnya.
"ALDEN!"
Alden dan Amora menoleh, mereka terkejut melihat Luna dengan penampilan acak-acakan berada di belakang mereka.
"Kamu habis mulung dimana sampe berantakan begitu." ucap Alden sambil membalikkan badannya.
Luna menggeram marah, dia melangkah menghampiri Amora dengan wajah yang marah. Tangannya terangkat akan menampar Amora, akan tetapi sebuah tangan mencekalnya.
"Seujung kuku saja kau menyentuh wajahku, akan ku buat kau tak bisa lagi merasakan tanganmu!" ucap Amora yang tengah mencengkram erat tangan Luna.
Amora menghalangi tangan Luna yang akan menampar dirinya, jiwa bar-barnya bangkit saat melihat tangan itu hampir melayang ke wajah mulusnya.
"Lepas!" sentak Luna.
Amora menghempaskan tangan Luna, jangan salahkan dia jika berlaku kasar terhadap sesama wanita. Di dunianya, Amora termasuk wanita yang yang berani. Dia tak takut jika melawan orang semacam Luna.
"Gara-gara kau, Alden menceraikanku! kau memang perebut suamiku Amora!" marah Luna.
"Oh iya? Sayang, kau menceraikan dia? kenapa kau tak bilang padaku huh?" rengek Amora.
Alden yang sedari tadi mematung karena tindakan Amora, sekarang di buat takjub dengan respon istrinya itu.
"Sayang!" rengek Amora.
"Oh, itu ... aku mau buat kejutan untuk mu." ucap Alden sambil mengelus rambut panjang istrinya.
Amora menoleh ke arah Luna dengan senyum kemenangan, dia berhasil membuat Luna semakin panas. Sebenarnya dia tak tahu bahwa Alden telah menceraikan Luna, rasa bahagia yang hatinya rasakan membuat dirinya merasakan sangat senang.
"Alden! aku ini istri pertamamu, kamu bilang kamu mencintaiku kan!" marah Luna.
"Mencintaimu? hm, sebenarnya itu hanya omong kosong yang aku ucapkan. Jadi, jangan berharap kalau aku akan mempertahankan wanita seperti kamu!" sentak Alden.
Luna menangis, dia tak menyangka bahwa Alden akan menceraikannya secepat ini. Dia mengira bahwa pernikahannya akan bertahan jika dia menyembunyikan kejahatannya.
"Alden kenapa kau melakukan ini padaku hiks ...," tangis Luna.
Alden tertawa, dia tak menyangka bahwa Luna tak menyadari kesalahannya. Dia menatap benci wanita di depannya ini, dia heran mengapa Luna tak menyadari apa yang telah dia perbuat pada Angel.
"Ck, kau lupa akan kesalahanmu? apakah Deon tak memberitahu apa alasanku membencimu?" tanya Alden dengan menatap tajam Luna.
"Hiks ... aku terpaksa Al, kakak memaksaku untuk menjebak Angel ke apartemennya hiks ... ini bukan salahku!" teriak Luna.
Amora mengerutkan keningnya, dia tak mengerti arah pembicaraan mereka dan apa masalah Alden dengan Luna.
"Oh, terpaksa yah? jadi, kau akan menyakiti orang demi keamanan mu sendiri begitu? yasudah sekarang nikmatilah kejahatanmu itu yang kau anggap terpaksa." ucap Alden sambil menggenggam tangan Amora dan pergi dari hadapan Luna.
Amora yang tak siap hanya mengikuti suaminya, dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Namun, dirinya tak berani tanya tentang masalah tersebut pada suaminya.
"ALDEN!" teriak Luna.
Alden menutup telinganya, suara mantannya itu begitu keras. Dia memanggil salah satu bodyguard yang berjaga dan menyuruhnya untuk mengusir Luna.
"Kau, usir wanita itu dari sini dan suruh beberapa maid untuk mengemasi barang-barangnya yang berada di kamarnya dan berikan kepadanya. Aku tidak ingin ada satupun barang dari wanita itu di mansion ini, dan satu lagi ... Setelah kalian usir dia, jangan biarkan dia masuk kembali ke mansion ini. Mengerti!" titah Alden.
Alden membawa Amora menuju lift, mereka akan ke kamar Aqila untuk melihat anak itu. Dia tak peduli dengan Luna yang terus meneriaki namanya, dia hanya mengelus sayang tangan Amora yang berada di genggamannya.
Setibanya mereka di lantai dua, Alden langsung mengajak istrinya ke kamar Aqila. Dengan perlahan dia membuka pintu bercat pink itu.
Cklek.
Netra mereka menatap Gio dan Aqila yang sedang tertidur, Alden tersenyum melihat Gio yang telah dekat dengan putrinya.
"Sayang kita keluar saja, biarkan mereka istirahat." bisik Alden sambil menutup kembali pintu Aqila.
"Loh mas, itu siapa yang sama Aqila? apa dia temanmu? kenapa kau izinkan dia tidur dengan Qila?" tanya Amora dengan beruntun.
Amora terkejut melihat Gio yang tidur dengan memeluk Aqila begitu pula dengan Aqila.
"Nanti aku ceritain di kamar, sebaiknya kita kembali ke kamar." ajak Alden sambil menarik tangan istrinya itu.
Sesampainya di kamar, Alden langsung mengajak Amora untuk duduk. Dia akan menceritakan semua yang ia simpan selama ini.
"Tadi adalah Gio, dia ayah kandung dari Aqila. Kau taukan jika Aqila bukan anakku? nah, Gio adalah ayah kandung Qila. Aku berusaha mendekati mereka, karena sebentar lagi Aqila akan tinggal dengan Gio.
"Apa Luna mengizinkan?" tanya Amora.
"Mau tidak mau, Aqila akan ikut dengan Gio. Sedari awal pernikahan, kami membuat perjanjian. Hak asuh Luna berada di tanganku, dak setelah itu aku menyerahkan hak asuh itu sepenuhnya pada Gio." ujar Alden sambil tersenyum lembut kepada istrinya.
Amora masih tidak mengerti, perjanjian yang memperebutkan hak asuh Aqila membuat Amora berpikir jika Alden telah merencanakan ini semua sejak awal.
"Boleh aku tahu semua yang kamu simpan selama ini? aku tidak akan bertanya tentang keluargaku, hanya tentang kamu, Angel dan Luna. Oh satu lagi, siapa itu Gilang? Aqila pernah menyebutnya ketika dia berbicara denganku," ujar Amora.
Alden terdiam, dia sedang memikirkan apakah dia harus memberitahu Amora seluruh rencananya?
"Ekhm, jadi ... Angel adalah adikku, dan Gilang adalah pria yang telah memperkosa adikku. Gilang itu adalah kakak dari Luna, mereka bekerja sama dalam menjebak adikku ...," Alden menceritakan semuanya tanpa kekurangan satupun.
Amora mendengarkan cerita Alden, dia menutup mulutnya tak percaya saat mengetahui ternyata Gilang adalah kakak dari Luna. Apalagi Luna lah yang membawa Angel ke apartemen, Amora begitu syok mengetahui fakta itu.
"Jadi, kau menikahinya hanya karena membalas dendam? tapi kenapa dari yang ku lihat kau sangat mencintainya bahkan sangat baik padanya. Kalian sudah seperti keluarga yang sangat harmonis, sedangkan padaku ... kau sangat kasar, selalu menyakitiku dengan ...,"
Alden menghentikan ucapan Amora, dia menutup mulut Amora dengan jarinya. Netranya menatap dalam pada netra Amora, mereka sama-sama terdiam.
"Shttt, maafkan aku ... itu adalah kebodohanku, aku tak menyadari bahwa diriku telah mencintaimu dari semenjak aku melihat fotomu pertama kali. Seharusnya sedari awal aku sadar bahwa Luna bukanlah Vani wanita yang aku cintai sebelum kamu. Walaupun mereka sama, tapi hati mereka berbeda. Tapi, saat aku menyadari semuanya ... aku terlambat, mereka berencana membunuh Gio. Tapi beruntunglah, kehidupan berpihak padanya. Aku bertahan dengan di pernikahan yang penuh sandiwara itu hanya untuk Aqila, demi Gio." ujar Alden sambil mengelus sayang pipi Amora.
Amora mendengarkan cerita Alden, dia tak menyangka bahwa alur novel yang tengah dia jalani sangat melenceng dari alur yang ia baca. Apa maksud dari semua ini? mengapa Amora asli tak lagi memunculkan dirinya? dan bagaimana di kehidupan nyata, raga dan keluarganya?
"Mari kita benahi keluarga kita kembali ... aku, kamu, Elbert dan calon anak kita. Setelah perceraianku selesai, kita temui keluargamu. Aku akan menerima semua konsekuensi yang keluargamu berikan untukku nanti." ucap Alden sambil memeluk istrinya
Amora membalas pelukan Alden, dia tengah bimbang dengan hatinya. Dia tak tahu siapa yang mencintai Alden antara dirinya dan Amora asli.
"Aku tidak tahu Alden, perasaan cinta milik siapa ini ... Aku atau Amora asli," ucap Amora dalam hati.
Di lain tempat, di sebuah ruangan tampak seorang pria tengah mengetik sesuatu pada laptopnya.
"Dasar anak nakal! kau kabur dari mansion, dan telah bertemu dengan kakak perempuanmu huh! Arsel, kamu kira aku gak tau apa yang kamu lakuin hah! huft ... kau benar-benar nakal!" kesalnya.
cklek.
"Arjuna, papi akan ke kantor sebentar. Kau tahu perusahaan Wesley kan? papi berencana untuk mengajak mereka kerja sama, karena saat ini yang pegang kendali perusahaan tersebut adalah penerus satu-satunya keluarga Wesley." ujar Arthur sambil mendekati anaknya.
"Papi yakin? ku dengar sangat sulit untuk bekerja sama dengan perusahaannya, dan lagi ... sepertinya CEO perusahaan itu masih cukup muda," ragu Arjuna.
Arthur tersenyum tipis, dia tahu bahwa sang anak sangat memantau perusahaan besar. Agar dia tau mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan.
"Apa masalahnya umur? dia sudah menjabat sebagai CEO di umurnya yang baru 26 tahun itu adalah suatu kehebatan, dan juga dia memegang dua perusahaan sekaligus. Al Company dan Wesley Group, hebat bukan?" ujar Arthur.
Arjuna menatap papinya malas, dia heran dengan papinya yang tak pernah membanggakan putranya sendiri. Padahal Arjuna telah menjadi CEO di umurnya yang ke 25 bahkan dia langsung memimpin perusahaan tanpa bantuan papinya itu.
"Kau adalah orang inggris, tapi cara berpikirmu seperti orang indonesia. Anak orang di banggain, giliran anak sendiri gak pernah ck," kesal Arjuna.
Arthur hanya terkekeh geli. Arthur merupakan keturunan Inggris-Rusia, sedangkan Queen merupakan keturunan indonesia-Inggris. Arthur mengajak keluarganya untuk tinggal di Rusia 15 tahun lalu karena dia ada pekerjaannya disana, dan untuk saat ini Arthur akan kembali tinggal di Indonesia untuk beberapa bulan kedepannya.
"Jika papi memujimu kau bilang geli, giliran papi memuji anak lain kau bilang papi tak pernah memujimu?"" kekeh Arthur.
Arjuna memutar bola matanya malas, dia heran dengan sang papi yang selalu meledeknya.
"YA prosto khochu ziht' v indonezii" ujar Arjuna dengan bahasa rusianya.
("Aku ingin tinggal di indonesia,")
"reshat' tebe, ved' tvoya mama khochet vernut'sya, chtoby zhit' zdes" jawab Arthur dengan santai.
("Terserah kau saja, lagi pula ibumu ingin kembali tinggal disini," )
Arjuna memandang Arthur dengan penuh selidik, biasanya papinya tak pernah mengizinkannya untuk kembali ke Indonesia. Bahkan saat dia ingin membangun perusahan di indonesia, Arthur melarangnya.
"Kau tak akan menipuku kan?" ragu Arjuna.
"Tidak, untuk apa aku menipumu. Kita di indonesia sambil mencari keberadaan adik perempuanmu," ujar Arthur.
Arjuna mengangkat satu sudut bibirnya, dia memainkan pulpen yang berada di mejanya.
"YA znayu gde on," ucap Arjuna
("Aku tahu dimana dia,")
"Gde?" tanya Arthur, dia tak tahu bahwa putranya telah mengetahui keberadaan putrinya.
("Di mana?)
"Dia berada dekat dengan kita," gumam Arjuna.