Transmigrasi Mommy

Transmigrasi Mommy
Penangkapan Luna


Seorang wanita tengah berjalan di kegelapan malam, dengan topi yang menutupi kepalanya dan juga kaca mata. Netranya mengawasi sekitar agar tak ada orang yang melihatnya.


Bruk.


"Maaf, maaf." ujar wanita itu tanpa melihat orang yang ia tabrak. Dia pun segera pergi dari hadapan pria itu.


Sedangkan pria itu merasa tak asing, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan mengikuti wanita itu. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat wanita itu memasuki sebuah tempat yang diapun tak tahu jika disana ada sebuah pintu tersembunyi.


Setelah wanita itu masuk, pria itu langsung menghampiri tempat tersebut. Tangannya meraba dinding yang tadi wanita itu sentuh, netranya mencari apakah ada sebuah celah agar pintu tersebut terbuka.


"Argh, si*l! ternyata dia sembunyi disini! decaknya.


Pria itu langsung mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, dia mencari kontak seseorang untuk dia hubungi.


Setelah itu dia menempelkan benda pipih itu pada telinganya, tak lama suara jawaban dari sana terdengar oleh telinganya.


"Halo," suara serak orang yang pria itu telpon.


"Al, tadi aku lihat Luna memasuki sebuah tempat. Tapi kayaknya nih tempat udah tua banget deh, dia sembunyi disini. Bahkan aku yang selalu lewat sini gak tau kalau ada pintu tersembunyi disini." ujarnya sambil berusaha membuka pintu itu.


Pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Gio. Malam itu dia ingin pergi ke supermarket, berhubung tak terlalu jauh Gio memutuskan untuk berjalan. Tetapi dia kaget saat seorang wanita yang tak lain adalah Luna menabrak dirinya. Gio bisa menebaknya karena dari suara wanita itu.


"Alden! mending kamu cepat kesini, aku sudah mengirim pesan pada pihak kepolisian. Kita kepung gedung ini agar dia tak bisa kemana-mana," ujar Gio dan setelah itu mematikan sambungannya.


Sedangkan di tempat lain, Alden yang tadinya tengah tertidur pulas terbangun karena mendapat telfon dari Gio.


Alden menoleh menatap istrinya dan putranya yang tengah tertidur. Perlahan dia turun dari ranjang dan mengambil tongkatnya yang berada di sebelah nakas.


Beruntunglah selama beberapa hari ini Alden mengalami kemajuan yang drastis pada kakinya, dia bisa berjalan menggunakan tingkat tampa bantuan yang lain.


"Yang, aku pergi dulu yah ... mungkin subuh baru pulang," bisiknya.


Alden mengganti pakaiannya dengan pelan, dia tak ingin membangunkan istrinya yang tengah tertidur pulas.


Setelah itu Alden beranjak keluar dati kamar dan menutup pintu sepelan mungkin. Dia berjalan menggunakan tongkatnya ke arah lift.


"Alden!" panggil seseorang.


Alden terkejut, dia membalikkan tubuhnya dan bernafas lega. Ternyata itu adalah Jonathan yang sedang menghampirinya dengan segelas air putih di tangannya.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Jonathan yang saat ini tengah berdiri di hadapan Alden.


"Huftt ... Al kira siapa ... ini, tadi Al dikabari oleh Gio katanya lokasi keberadaan Luna sudah di temukan. Sekarang Al mau kesana, daddy jangan bilang-bilang mommy sama Amora yah ... tau sendirikan mereka khawatirnya gimana," ujar Alden.


Jonathan mengangguk, dia mengizinkan Alden untuk menghampiri Gio.


"Oke, hati-hati. Jika perlu bantuan telfon daddy, dan juga kamu jangan sampai lecet. Capek daddy denger ocehan mommy," ujar Jonathan.


Alden mengangguk, dia berbalik dan melangkah menuju lift. Sedangkan Jonathan hanya menatap Alden sampai pintu lift tertutup.


***


Deon juga telah mendapat kabar dari Gio, dia datang bersama para polisi ke tempat yang Gio maksud.


"Gio," panggil Deon.


Gio menoleh, dia menunjukkan sebuah pintu yang memang tempatnya sangat tersembunyi.


"Pak, tolong dobrak pintunya." pinta Deon sambil menunjuk pintu yang tadi Gio maksudkan.


Para polisi itu segera mendobrak pintu tersebut, setelah terbuka mereka langsung masuk dan mencari keberadaan Luna.


"Kumuh banget sih," gerutu Deon.


Nampaknya tempat yang menyerupai bangunan ini sudah lama tidak ditempati oleh pemiliknya, buktinya saja banyak sarang laba-laba dan tikus.


"Heran gue, bisa ya tu wanita tinggal disini?" gumam Deon.


"Bisa lah! buktinya dia ngumpet disini, padahal tempat penjara lebih nyaman," sahut Gio.


Para polisi itu mencari keberadaan Luna, tetapi mereka tak menemukan apapun.


"Maaf tuan, sepertinya wanita itu tidak ada disini." ujar kepala polisi sambil menghampiri Gio dan Deon.


Sedangkan Deon, dia melihat sebuah jendela yang terbuka. Netranya membulat sempurna saat melihat Luna yang menatapnya dari bawah dan berlari menjauh dari tempat itu.


"Si*al! Luna kabur!" ujar Deon dengan sedikit keras.


Deon berlari keluar diikuti oleh para polisi, mereka mengejar Luna yang saat ini masih berlari menjauh dari mereka.


Gio mencari jalan pintas, dia belok ke kanan dan berlari sekuat tenaga. Netranya mendapatkan Luna yang kini berada di hadapannya.


Sret!


Luna terkejut, dia menghentikan langkahnya dan menatap Gio. Tubuhnya bergetar ketakutan, dia menoleh kebelakang dan ternyata Deon dan para polisi sudah ada di belakangnya.


"Biarin aku kabur Gio! kamu cinta sama aku kan, ayo kita kabur bersama dan membesarkan Aqila sebagai keluarga bahagia." ujar Luna sambil menatap manik mata Gio yang memandangnya intens.


"Keluarga bahagia?" tanya Gio.


Luna mengangguk, dia menoleh kebelakang dan mendapati para polisi yang tengah memegang senjatanya ke arahnya.


"Diam di tempat! anda sudah kami kepung!" titah kepala polisi tersebut.


Luna tersenyum, dia mengeluarkan sebuah pisau dari jaketnya dan menyimpannya di belakang tubuhnya sehingga para polisi dan Deon bisa melihatnya. Sedangkan Gio, dia tak tahu jika Luna menyimpan pisau tersebut di belakang tubuhnya sebagai ancaman.


"Gimana Gio, kau maukan sayang." ujar Luna sambil tersenyum manis menatap Gio.


"GIO! LU JANGAN TURUTIN PERKATAAN WANITA ULAR ITU! INGAT GIO! AQILA GAK BAKAL BAHAGIA HIDUP DENGAN IBU JAHAT KAYAK DIA!" teriak Deon.


Gio menatap sahabatnya, dia kembali teringat saat beberapa tahu lalu. Saat pertemuan pertama mereka Luna adalah wanita yang lugu dan polos, bahkan membunuh semut pun dia tak tega. Kebaikan Luna membuat Gio jatuh cinta, tapi sayangnya Luna terlebih dulu menjadi kekasih Alden.


"Ya ... aku memang mencintaimu ...."ujar Gio sambil kembali menatap Luna.


Luna tersenyum puas, dia akan memeluk Gio dan berniat akan menusukkan pisau itu pada perut Gio. Tetapi, gerakannya terhenti saat mendengar perkataan Gio selanjutnya.


"Tapi itu dulu, sebelum kamu berubah menjadi wanita jahat! Putriku tidak akan bahagia hidup dengan ibu seperti mu! yang selalu memukulnya ketika dia salah, dan selalu mengabaikannya ketika dia benar! ibu macam apa kau yang membuat putrinya hampir tiada hanya karena dendamnya?" ujar Gio sambil menatap Luna yang kini menatapnya dengan air mata yang berlinang.


"bahkan hewan yang tak memiliki akal, mereka tak akan meninggalkan anaknya. Bahkan dia mengorbankan dirinya demi kehidupan anak mereka. Sedangkan kau ... kau manusia yang berakal yang tak punya hati! hidupmu hanya lah sebuah beban bagi muka bumi!" lanjut Gio sambil menatap marah Luna. Kini mata itu telah memerah menahan apa yang ketahui dari kehidupan putrinya.


Luna menjatuhkan pisaunya, dia mendudukkan kepalanya menyadari kesalahan yang ia buat pada putrinya.


"Wajar jika Alden menikah lagi, dia juga butuh seorang penerus. Tapi jika penerusnya dari kamu, apakah anak kalian nanti akan seperti Aqila? dan juga kebohongan tentang rahimmu yang diangkat adalah awal dari semuanya yang terjadi. Kau masuk ke dalam perangkap yang telah kau buat sendiri Luna," ujar Gio.


Para polisi yang melihat Luna lengah segera menghampirinya, mereka langsung menangkap Luna yang saat ini hanya diam dan menangis.


Gio menghapus air matanya yang menggenang disudut matanya, dia membuang pandangannya agar tak melihat pandangan Luna terhadapnya.


Deon menghampiri sahabatnya itu, dia menepuk pundak Gio sebagai penguat. Dia tahu seberapa besar cinta Gio pada Luna yang bertepuk sebelah tangan, dia bangga dengan sahabatnya yang menjaga persahabatan mereka dan merelakan Luna.


"Gue tau apa yang lo rasain, ingat Gio ... hidup lu saat ini untuk putri lu, Aqila. Aqila masih butuh lu buat jadi orang tuanya," ujar Deon memberi nasehat pada sahabatnya ini.


"Memangnya kamu pernah jatuh cinta? kok bisa tau apa yang aku rasain?" heran Gio sambil menatap Deon.


"Ya ... ya enggak sih, taulah! heran gue punya temen kayak lu!" kesal Deon dan berjalan meninggalkan Gio yang sedang tersenyum menatapnya.


Gio mengikuti Deon yang berjalan ke arah mobil Deon yang terparkir. Mereka segera menyusul para polisi yang sudah terlebih dulu menangkap Luna.


Sedangkan saat ini Alden tengah menatap lokasi yang tadi Gio berikan padanya. Dia merinding saat menatap tempat itu.


"Bener gak sih, kok gak ada orang yah?" gumam Alden.


"Mungkin tuan harus masuk dulu?" tanya Erwin memberi saran.


Alden memang mengajak Erwin untuk pergi bersamanya, dia menoleh menatap Erwin yang berada disampingnya.


"Lu aja yang masuk, takut gue." ujar Alden sambil mendorong Erwin.


"Kan tuan yang disuruh kesini, bukan saya." ujar Erwin sambil kembali memundurkan langkahnya.


"Bilang aja lu takutkan?! hah, badan doang gede tapi mental kecil," gerutu Alden.


"Tuan gak sadar diri yah?" tanya Erwin yang mana membuat Alden menatap tajam padanya.