
"Sayang," panggil Alden saat memasuki kamarnya.
Amora yang tengah membereskan seprai menoleh menatap Alden yang datang dengan menggendong Elbert yang sedang menangis.
"Ada apa? mengapa El menangis?" tanya Amora seraya mendekati Alden.
Alden mendekati istrinya, dia mengecup kening sang istri dan di balas tatapan tajam dari Amora.
"Kamu!" kesal Amora.
"Gak boleh galak sama suami yang," tegur Alden.
Amora menghela nafasnya pelan, dia menyentuh lengan putranya. Tetapi Elbert menghindarinya dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Alden.
"El ... ini mommy nak," panggil Amora dengan suara lembutnya.
Elbert tak menjawab, tubuhnya bergetar ketakutan. Dia masih trauma saat Amora menjatuhkannya dari lantai dua, dia tidak tahu padahal itu adalah Vani jiwa yang menguasai raga Amora.
Alden mengerti jika anaknya itu takut, dia mengelus punggung sempit sang anak.
"El, El gak mau kan pipinya merah kayak kepiting rebus? daddy gak bisa bersihin, cuma mommy yang bisa ... jadi, El sama mommy dulu yah." ujar Alden sambil menarik lengan sang anak yang melilit di lehernya.
"Hiks ... nda mau! nda mau!" histeris Elbert.
Alden tak mengindahkannya, dia langsung memberikan Elbert pada Amora. Sementara Amora langsung menenangkan anaknya.
"Sayang hei ... hadap sini lihat mommy!" pinta Amora.
Elbert hanya merentangkan tangannya pada Alden berharap sang daddy mau kembali mengambilnya.
Alden menggeleng, dia langsung masuk ke kamar mandi menghiraukan tangisan Elbert. Bukan memaksa, dia hanya tidak ingin anaknya terus takut pada ibunya sendiri.
"Sayang, ini mommy Amora bukan lagi mommy jahat. El lihat, apakah mommy terlihat seperti kemarin-marin?" tanya Amora sambil menatap putranya yang tengah menangis.
Elbert menatap sang mommy, saat melihat tatapan teduh sang mommy akhirnya tangisannya pun mereda. Tangan mungilnya menyentuh wajah halus sang mommy, dia menghentikan tangisnya walaupun masih tersisa sesenggukan.
"Ini mommy Amol? mommynya El? butan mommy selem kemalin?" ujarnya.
Amora menggeleng, air matanya menggenang di pelupuk matanya. Dia tersenyum haru saat Elbert mengelus pipinya.
"Nggak sayang, ini mommy ... ini mommy El, mommy Amora." ujar Amora sambil menciumi wajah sang anak yang basah karena air mata.
Amora menempati anaknya di tempat tidur, dia segera mengambil baby oil dan kapas yang ada di meja riasnya. Setelah itu dia kembali mendekati putranya yang sedang merebahkan dirinya karena lelah.
"El, di bersihkan dulu nak bekas merahnya." ujar Amora sambil menduduki dirinya di tepi kasur.
Elbert duduk, dia mendekati sang mommy yang sedang menuangkan baby oil pada kapas.
"Kok bisa merah gini, El habis main lipstik siapa lagi hm?" tanya Amora.
"Om pembinol yang iceng mommy, colet-colet mukana El pake stip-stip punanya kakak tantik," jelasnya.
Amora tersenyum, dia tahu bahwa yang sang anak maksud stip-stip adalah lipstik sebab Elbert masih sulit mengucap lipstik.
"Kenapa El gak larang?" tanya Amora sembari mengusap wajah Elbert dengan kapas yang sudah di kasih baby oil itu.
"El udah lalang mommy, tapi om pembinolnya bilang bial kelen gitu katana," oceh Elbert.
Amora tersenyum, dia kembali fokus pada pipi Elbert yang banyak coretan lipstik.
Cklek.
Alden telah keluar dari kamar mandi, dia hanya memakai handuk pada pinggang. Tangannya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
"Gimana yang, bisa?" tanya Alden seraya mendekati istri dan anaknya.
"Bisa, ini juga sudah selesai." ujar Amora sambil membereskan bekas kapas yang tadi dia gunakan untuk menghilangkan lipstik pada wajah Elbert.
Alden mengangguk, dia menaruh handuk kecil itu ke atas tempat tidur yang mana membuat Amora mendelik tajam.
"Kebiasaan! jangan taruh handuk di tempat tidur! Nanti kasurnya akan basah Alden!" kesal Amora sembari mengambil handuk tersebut dan menaruhnya di tempat yang seharusnya.
Sedangkan Alden hanya terkekeh dan melangkah menuju lemari pakaian untuk mengambil bajunya.
***
Di lain tempat, kini Deon tengah mengantar Aira pulang menggunakan mobilnya. Sesekali dia melirik Aira yang sedang melamun.
"Ai, aku mau tanya sesuatu padamu." ujar Deon sambil melirik ke arah Aira.
Aira menoleh, dia mengangguk dan kembali fokus pada perjalananya.
"Apa kau sama seperti Amora? bukankah lagi itu kau bilang bahwa kau ...,"
"Yang benar saja kau, aku tak bilang jika ini dunia ilusi kan? aku hanya bilang aku bangun di tempat yang asing, memang sebelumnya aku tak pernah ke kota ini sebelumnya," terang Aira.
Deon bingung, dia menoleh ke arah Aira yang tengah mengambil ponselnya.
"Aku hanya punya satu ponsel ini sebagai petunjuk dimana keberadaan keluargaku, tapi ponselku mati," gumamnya.
"Aku melupakan hal yang baru terjadi, tetapi tidak dengan ingatan lamaku. Aku lupa dimana orang tuaku, tempat tinggalku, dan dari mana aku berasal. Aku tidak melupakan namaku dan kuga rupa orang tuaku aku masih mengingatnya. Maksudku, aku ....," terangnya kembali.
Aira terkejut, mengapa Deon tau apa yang ia alami. Aira menoleh, dan dia bingung mengapa Deon mengajaknya ke rumah sakit.
"Kenapa kita ada disini?" tanya Aira heran.
"Tentu saja untuk mengobatimu, bagaimana caranya aku tau dimana orang tuamu jika kau tak mengingat tempat tinggalmu?" heran Deon.
Aira dengan gugup menatap Deon, dia menggenggam tangannya satu sama lain. DIa meneguk ludahnya kasar.
"A-aku mengingatnya De, aku tau dimana aku tinggal hanya saja ...,"
Deon menunggu ucapan Aira selanjutnya, sementara Aira tengah keringat dingin untuk melanjutkan ucapannya.
"De, se-sebenarnya aku hanya melupakan apa yang terjadi sebelum aku koma. A-aku ehm ... maksudku ...," gugup Aira.
"Aira Elena Lewis ... apa kau masih ingin menyembunyikan identitasmu?" tanya Deon dengan raut wajah datarnya.
Aira terkejut, dia menatap Deon yang tengah memandangnya datar. Dia sungguh takut jika Deon membencinya.
"Ma-maaf, bu-bukan maksudku ...,"
Deon keluar dari mobil, dia sungguh bingung dengan ucapan Aira. Mana yang benar dari ucapan wanita itu.
"Kak, dengarkan aku dulu. Aku memang benar amnesia, tapi tentang ayahku, koma dan tak mengingat dimana tempat tinggalku ... aku membohongimu," lirih Aira saat ia keluar dari mobil dan menyusul Deon.
Deon membalikkan tubuhnya, rahangnya mengeras. Kebohongan Aira sangat nampak yang mana membuat Deon langsung bisa menebaknya, apalagi Deon mencari identitas wanita itu.
"Kenapa? kenapa kau membohongiku? dari awal aku sudah curiga dengan apa yang kamu jelaskan, mana mungkin kamu tidak mengingat tempat tinggalmu sementara kamu mengenal dirimu dan juga orang tuamu. Aku tidak bodoh Aira, kau hanya ingin mengambil simpatiku benarkan? kau ... sangat kekanak-kanakan Aira!"
"Benar! kau benar hiks ... aku tidak koma, aku menyuruh pria itu untuk bersandiwara dengan ku! karena apa hah! karena aku mencintaimu! aku mencintaimu tapi kau tak pernah menatapku, kau tak pernah tau akan kehadiranku! saat aku kecelakaan aku di kabarkan amnesia sementara, tapi sebelum itu aku sudah mengingat semuanya! aku ingat siapa dirimu! untuk itu aku kembali berjuang mendapatkanmu!" sentak Aira.
Deon terkejut, dia menatap wajah Aira yang memerah menahan tangis. Dia tak mengerti siapa Aira ini, tetapi entah mengapa dirinya sangat penasaran dengan Aira.
"Jadi, sejak saat kita bertemu amnesiamu telah sembuh? Kau menyewa seseorang untuk bersandiwara denganmu agar kita bisa lebih dekat begitu? sebenarnya siapa kamu? sebelumnya aku tak pernah bertemu denganmu?" terang Deon.
"Bagaimana kau bisa mengetahui aku, bahkan tau namaku saja mungkin kau tidak sudi!" sentak Aira.
Deon mengerutkan keningnya, dia menatap Aira dengan dalam. Tangannya melemas saat menyadari marga yang berada di belakang nama Aira.
"Lewis, kau anak dari Ethan Lewis kan?" tanya Deon.
"Hiks ... iya! gadis yang di jodohkan oleh mu! kau tak tau namaku dan juga bagaimana rupaku tapi kau menolaknya hiks ... aku bahkan sudah menyukaimu saat aku tau namamu hiks ...," isak Aira.
Deon tak dapat lagi menahan senyumnya, dia memeluk Aira dengan begitu erat. Dia tak menyangka bahwa cara kekanak-kanakan Aira membuatnya jatuh cinta.
"Hiks ... kakak jahat tau gak!" kesal Aira.
Deon hanya terkekeh, dia melepaskan pelukannya dari Aira dan menatap wajah cantik dan imut itu yang tengah basah karena air mata.
"Pada saat kau berdagang kue, apa kau merencanakan itu juga?" tanya Deon.
"Tidak, aku tak merencanakannya. Saat aku berjalan, aku tak sengaja melihat nenek yang tampak sangat lelah sehingga aku membantu menjualkannya. Eh ternyata kakak datang, sekalian saja aku bermain peran agar kakak memikirkan ku hehe," ujarnya.
Tak!
"Aw! kenapa kakak menyentil keningku!" kesal Aira.
"Apa kau tahu, aku mengira jika dirimu sama seperti Amora!" kesal Deon.
"Hehe, aku hanya mengikuti kata-kata drakor yang aku tonton kak," kekehnya.
Deon menggelengkan kepalanya, dia segera merangkul Aira dan memasukkannya ke mobil.
"Kita mau kemana kak?" tanya Aira bingung.
"Menghalalkanmu tentu saja," jawabnya.
_____________________
Para pembaca setiaku🤭🤭, aku telah mengaktifkan grup chat yah ...
Silahkan langsung gabung di grup chat, siapa tau kalian ingin menanyakan sesuatu pada Author ini🤭
Jangan lupa spam komen😉 dan juga likenya oh ya ... yang belum follow author silahkan follow oke🥰🥰🥰