
Malam ini, tepatnya setelah prosesi lamaran Eza pada Wardah, Bunda menemani Wardah di kamarnya. Esok hari mereka akan pindah haluan ke resort lain.
"Anak Bunda semakin terkenal sekarang, lihat saja IG-nya sudah banyak foto yang bertebaran," celetuk Bunda saat Wardah keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambut basahnya.
"Aiissh, Bunda tahu IG dari mana?" tanya Wardah. Setahunya Bunda itu gaptek.
"Jangan salah, Bunda sudah gaul sekarang," jawab Bunda tak terima.
"Gak usah diladenin orang-orang itu Bun, Wardah aja risih setiap hari ada yang dm," ujar Wardah.
"Hahaha, sudah punya netizen. Gunakan peluangnya Nak... Jangan lihat sisi negative-nya terus, lihat sisi positifnya juga," jawab Bunda menghampiri anaknya dan mulai membantu menyisir rambutnya.
"Ini saatnya anak Bunda menyampaikan dakwahnya. Sampaikan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk para followers. Pasti nanti ada yang minta tolong endorsement barang. Ada yang endors belum?" tanya Bunda.
"Banyak sih Bun," jawab Wardah.
"Nah! Itu bisa jadi pemasukan juga untuk cucunya Bunda nanti," ujar Bunda.
.
.
.
Benar juga kata Bunda. Wardah tak boleh begini, ia harus bisa memberikan ilmu dan contoh yang baik untuk pengikut akunnya. Untuk masalah endors, ia akan pikirkan nanti setelah kembali ke Jakarta.
Kini Wardah, Eza dan yang lainnya sudah berada di kapal pelayar menuju tempat tujuan selanjutnya. Wardah tampak menikmati pemandangan di depannya. Dengan Eza yang ada di sampingnya.
"Mas?" panggil Wardah.
"Ada apa Dedek sayang?" jawab Eza. Sukses membuat Wardah tersipu.
"Papa dan Mama sudah tahu kalau Dedek janda?" tanya Wardah lirih.
"Coba Dedek tanya aja sama Mama, kalau mama kaget berarti Mama belum mengetahuinya, dan begitupun sebaliknya." jawab Eza. Sungguh menyebalkan.
Wardah segera mendekati Papa Indra yang tengah membaca sebuah buku yang lumayan tebal di tangannya. Perasaan Eza memintanya untuk bertanya ke Mama, tapi kenapa malah ke Papa?
"Heem? Ada apa sayang?" tanya Papa.
"Emmm, Papa-sudah tahu belum kalau Dedek, Dedek itu..." lirihnya dengan ragu. Benarkah jika ia bertanya seperti itu?
"Papa sama Mama sudah tahu semua sayang... Lusa Papa sudah berbincang dengan Bunda, Bunda juga sudah mengutarakan semuanya... Dedek ndak usah merasa gimana-gimana ya, Papa sama Mama sayang sama Dedek," ujar Papa yang kini memeluk Wardah.
Eza yang melihat kasih sayang full untuk Wardah pun tersenyum bahagia. Alhamdulillah keluarganya tak mempermasalahkan status Wardah sebelumnya. Meski awalnya Mama sempat kaget saat Eza mengutarakan kebenarannya.
Akibat bujukan Papa dan nasehat Papa, akhirnya restu itu kembali hadir. Tapi Eza belum memberi tahu Kakaknya. Semoga saja berjalan mulus seperti harapannya. Kakaknya masih berada di luar negeri, ia hanya bisa menghubunginya saat waktu Kakaknya itu senggang.
"Gimana? Amankan?" tanya Eza setelah Wardah kembali ke sampingnya.
Wardah tersenyum dan mengangguk.
"Mas, tapi jangan di publish dulu ya, Dedek takut jadi bahan gosipan," tutur Wardah.
"Hahaha, takut kenapa? Percuma Dedek ngomong gitu sama Mas, Mama sama Bunda lebih garcep soal posting-memposting," jawab Eza sembari menunjukkan postingan Mamanya yang menandai dirinya dan Wardah.
Sontak Wardah tercengang melihatnya. Gagal sudah harapannya untuk merahasiakan terlebih dahulu. Ica pasti bakal uring-uringan nantinya. Protes karena tak memberi tahu dari awal. Pasalnya, Wardah izin untuk menghadiri acara keluarga, bukan untuk mendengarkan pengakuan cinta Eza.
Postingan yang baru diunggah 2 menit yang lalu langsung dibanjiri komentar para netizen.
"Awas Lu Dah, gua sate lu sampe apartemen," ungkapan Ica.
"Tenang, inikan belum lamaran resmi Ay, besok kalau lamaran resmi baru kita undang Ica juga," ujar Eza.
"Ay? Nama Dedek Wardah Mas,"
"Ay-yang," sambung Eza.
"Aiiisshh, ada-ada ajah,"
...Bersambung... ...