Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Comeback


Assalamualaikum para pembaca Lhu-Lhu... Udah lebih dari 10 hari Lhu-Lhu gak up karya ini. Sampai dapat teguran dari pihak noveltoon. Hehehe, maaf yaaa....


Lhu-Lhu akan tetap melanjutkan ceritanya kok... Tapi kalian harus sabar menunggu 😭😭


.


.


.


Masih ingat dengan percakapan Wardah dan Bunda?


Bunda diam seketika. Tangannya sedikit terasa dingin dalam genggaman Wardah.


"Kenapa sejauh itu?" Tanya Bunda akhirnya.


"Dedek sudah coba kirim lamaran di Surabaya, Malang, Solo, bahkan kota Jombang sekalipun. Ada yang diterima, tapi waktu itu dedek masih mengabdi di pesantren. Jadi tak diambil. Apakah sekarang tidak usah diambil lagi Bun?" Jelas Wardah.


Ya! Ia memang banyak mengirimkan lamaran pekerjaan waktu itu. Tapi itu semua murni keisengannya. Ada yang diterima, dan ada yang tak diterima. Berhubung ia masih di pesantren kemudian menikah dengan Cak Ibil, makanya tak ia ambil peluang itu.


"Dedek mau ninggalin Bunda?" Tanya Bunda.


"Biarkan Wardah memilih jalan hidupnya kali ini Bun, biarkan dedek merasakan dunia yang di impikannya," Sahut Kak Yusuf yang tiba-tiba datang menghampiri ibu dan anak itu.


"Katanya Bunda memberikan kesempatan kepada dedek untuk mengutarakan uneg-unegnya," Sambung Kak Yusuf.


"Kamu nguping ya Mas!" Sindir Bunda.


"Hehehe, tahu aja Bun," Kak Yusuf cengar-cengir sembari duduk di sisi ranjang Wardah.


"Iya, Bunda akan mempertimbangkannya," Ujar Bunda akhirnya.


.


.


.


Pagi ini Wardah sudah siap dengan setelan casualnya. Ia akan mengantarkan ponakannya ke sekolah. Kak Ina diminta ikut pada Bunda mensurvey bahan untuk pakaian keluaran terbaru dari butiknya. Kak Ina memang banyak paham mengenai fasion. Tapi Bunda tetap saja ingin Wardah yang membantunya.


"Udah kak, ayuk kita berangkat ke sekolah!" Seru ponakan Wardah.


"Apa-apa dek? Adek panggil gimana tadi?"


Ntah kenapa panggilan Inayah pada Wardah berubah. Padahal sebelumnya anak itu memanggil aunty.


"Sama Mama di suruh panggil kakak. Karena Kak Wardah masih muda dan cantik." Jawab Inayah dengan polosnya.


Bisa-bisanya ibu anak satu itu menyuruh seperti itu. Hahaha.


"Ya udah, ayo kita berangkat... Nanti kakak tunggu di taman sekolah ya," Jawab Wardah. Ya sudahlah, lebih baik menurut pada kakak iparnya.


Kali ini Wardah di antar oleh mang Uya. Wardah memang tak bisa mengendarai mobil sendiri. Kenapa tak memakai motor? Karena motornya sedang dibawa oleh asisten rumah tangga Bundanya ke pasar. Beberapa hari yang lalu Bunda memang merekrut dua orang asisten rumah tangga.


Ntah kenapa tiba-tiba. Padahal dulu yang paling bersikeras tak ingin memiliki pembantu adalah Bunda. Nurut sajalah. Yang tersisa hanya mobil ayah dulu, jadilah kini dipakai Mang Uya. Bunda memang tak membuang atau memusiumkan peralatan Ayah. Bunda masih menyimpan rapi di salah satu ruangan di rumah Kak Yusuf dan beberapa juga masih ada di rumah kami dulu.


Tenang saja, di rumah kami masih terjaga dengan baik kok. Hanya saja yang mengurusi kini yaitu adik dari ayah yang dulu ada di desa. Kini pindah di kota untuk menempati rumah ayah. Mubazir jika tak dihuni. Bunda juga sepertinya masih saja enggan kembali ke rumah itu. Hingga kini sudah berpindah alih kepada adik ayah.


Satu pesan Bunda, jangan buang barang-barang ayah.


...Bersambung.... ...