Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Kesibukan Baru


Eza mengintip dari balik jendela kaca kamarnya. Benar saja, masih banyak wartawan di luar sana. Tapi Eza juga tersenyum tipis mengingat kemarahan Sang istri. Itu berarti istrinya tengah takut jika ada yang tersepona pada dirinya setelah melihat tubuh kekarnya. Biarlah Eza dicap sebagai orang yang kepedean, tapi memang begitulah kenyataannya.


"Maaf Ay, aku-kan nggak tahu," jawab Eza menghampiri Wardah dan mengecup bibirnya.


"Ya udah, cepet pakai bajunya gih!" ujar Wardah kembali mengambil si kecil.


Bukannya lekas memakai bajunya Eza malah mengambil telepon rumah yang tersedia di kamarnya. Ia harus lekas membereskan para wartawan yang ada di depan rumahnya. Mereka benar-benar mengganggu privasi orang lain.


"Iya Pak, tolong Bapak sampaikan pada para wartawan itu untuk menunggu wawancara terbuka setelah selesai acara syukuran minggu depan. Tegaskan kalau saya dan istri saya pasti akan menerima wawancara mereka saat itu. Saya nggak mau mereka terus berkeliaran di sekitar rumah ini ya Pak." ujar Eza setelah petugas keamanan di depan rumahnya mengangkat teleponnya.


Dengan begini, pasti mereka akan segera pergi. Eza memang sudah berunding dengan Wardah untuk melakukan wawancara setelah acara selesai. Karena untuk saat ini mereka masih disibukkan dengan persiapan acara itu. Selain itu, Wardah dan Eza ingin menyambung ikatan cinta kasih sayang yang pasti dengan si kecil terlebih dahulu.


Wardah masih asik bermain dengan si kecil. Jika tadi mereka berada di kamar, kini Wardah sudah mengajak Baby Z bermain di ruang keluarga. Tidak hanya berdua, sudah ada Inayah dan Dinda di sini. Dua bocil itu menemani Aunty-nya bermain dengan si kecil.


"Kita sholat dulu yuk! Udah azan Maghrib itu," ajak Mama pada dua bocil saat azan maghrib berkumandang.


"Aku mau nemenin Aunty jagain Dedek bayi," ujar Dinda memeluk erat lengan Wardah.


Dengan wajah kecewanya Dinda mengangguk patuh, dan mulai berdiri menuju mushola. Mama geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya. Sedari tadi ia mengajak bocil itu untuk sholat, tak diturutinya sama sekali. Giliran Wardah yang memintanya langsung dituruti. Mama mengelus lembut pundak menantunya barulah mengikuti cucunya ke belakang.


Karena tak ada yang uzur (libur sholat/haid) mau tak mau Wardah menunggu Bunda atau Mama untuk menjaga si kecil. Barulah dirinya yang sholat. Awalnya Wardah ingin mengajak si kecil untuk berjalan-jalan di sekitar mushola, tapi karena masih maghrib tak jadi. Tak baik anak kecil di ajak keluar. Pamali katanya.


Lumayan menunggu lama akhirnya selesai juga jamaah di mushola. Bunda menggantikan Wardah mengajak si kecil. Sedangkan dirinya bergegas ke mushola sebelum waktu sholat berakhir. Ternyata di sana masih ada Papa yang baru saja hendak kembali ke rumah. Ada Eza juga yang tengah mengajari dua bocil mengaji, bersama Faiz yang tampaknya tengah asik dengan kitab kuning di tangannya. Sepertinya ia tengah mengulang pelajaran di pesantrennya dulu agar tak hangus diterpa waktu. Eeaakk!


Selepas sholat dan wirid Wardah kembali ke rumah. Membantu Si Mbok dan Mama yang menyiapkan makan malam. Wardah mengambil bahan masakan untuk membuat makanan Baby Z. Jangan salah, Wardah sudah belajar beberapa resep masakan pendamping ASI untuk bayi. Perpaduan antara pumpkins (labu) dan bayam menjadi pilihan Wardah kali ini. Sesekali Wardah juga bertanya pada Mama dan diselingi dengan bekal mbah you tu be dengan lihai dan pasti ia menyelesaikannya.


"Tadaa! Jadi deh makanan Dedeknyaa," dengan senyuman kegembiraan Wardah mengangkat mangkuk yang ia bawa.


Wardah juga tak segan-segan meminta tolong pada Mama untuk menyicipinya. Dengan senang hai Mama menerima suapan menantunya itu. Si Mbok juga tak mau kalah, ia juga ingin menyicipinya.


...Bersambung ...