Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Bobrok Berdua


Perjalanan menggunakan kereta api mereka tempuh selama 2 jam. Berangkat tepat setelah sholat maghrib, dan sampai di Jombang pada pukul 9 malam. Ternyata lebih cepat dari perkiraan awal. Karena Kak Yusuf tak mempekerjakan supir lagi, jadilah mereka pulang ke rumah menggunakan taxi online. Sakha masih terlelap hingga sampai di rumah. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri untuk Wardah dan Eza. Mereka bisa langsung beristirahat, mengingat esok hari masih ada kegiatan sebelum malamnya pulang ke Jakarta.


“Capek Mas? Sini biar aku pijitin,” ujar Wardah duduk di samping Eza yang sudah berbaring tengkurap.


“Masyaallah, enak banget Ay,” lirih Eza yang kini menikmati pijitan istrinya.


Sudah lama sekali rasanya tak menempati kamar ini. Karena memang hanya sesekali mereka berkunjung ke Jombang. Sakha sudah tertidur lelap di samping Wardah. Dua laki-laki ini, belakangan memang sangat manja. Biasanya juga manja, tapi akhir-akhir ini seolah berkali lipat. Hendak tidur pun taka da yang mau mengalah, dua-duanya ingin di samping Wardah. Jadi mau tak mau Wardah yang ada di tengah. Biasanya dengan curangnya Eza justru memindahkan Sakha di boks tidurnya. Meski Sakha tidurnya macam komedi putar, syukurlah ia tak pernah sampai jatuh ke bawah. Untuk berjaga-jaga pun di bawahnya selalu mereka siapkan Kasur lantai untuk menompang jika sewaktu-waktu terjatuh. Mau bagaimana lagi, Eza sendiri juga tak mau jika Sakha harus di tengah-tengah mereka. Benar-benar dua bayi ini sungguh membuat Wardah geram.


###


Pagi ini Eza dan Wardah sudah siap dengan setelan formalnya. Pagi ini mereka berdua harus ke salah satu kampus di Jombang untuk mengisi seminar. Hanya Eza sebenarnya, tapi Wardah ingin ikut karena di sana ia sudah janjian dengan Anisa dan Si Kembar untuk bertemu. Ya! kampus yang mereka tuju adalah milih Anisa dan Farhan. Sakha tak ketinggalan tentunya. Anak gemoy itu sudah siap juga dengan setelan casual pilihan Buna-nya. tak sabar rasanya mempertemukan Sakha dengan Kakak-Kakak twin di sana. Bahkan dari tadi Wardah tak henti-hentinya tersenyum membayangkan anaknya bermain bersama kakak-kakak barunya. Wardah juga sudah mempersiapkan sedari selepas subuh tadi makanan dan cemilan yang akan di bawa nanti. Sudah seperti hendak piknik mereka ini.


Wardah benar-benar sudah kangen dengan Twin Boy itu. Kira-kira bagaimana reaksi Sakha saat bertemu kedua kakaknya? Selesai sarapan, Eza segera memasukkan barang bawaan mereka ke mobil. Ransel makanan yang sudah full, tas jinjing berisi pakaian Sakha dan orang tuanya, tak lupa juga dengan tas kerja Eza yang memang selalu dibawa kemana-mana. Wardah memang selalu membawa cadangan baju kalau-kalau dibutuhkan. Pernah suatu waktu dirinya dan Eza mengisi acara di salah satu tempat, dan ada kejadian pakaian Eza yang terkena tumpahan minuman. Mereka yang tak membawa baju ganti harus keluar terlebih dahulu mencari pakaian baru. Dari situlah Wardah selalu membawa cadangan saat pergi. Benar-benar prepare.


“Seneng banget mau temu kangen,” celetuk Eza saat mereka sudah di jalan menyusuri jalanan kota Jombang.


“Iyaa Mas, aku nggak sabar lihat firsmeet Sakha sama Twin Boy Anisa,” jawab Wardah sangat exited.


“Kamu gemesin banget kalau gini,” ujar Eza mengelus lembut kepala Wardah.


Memasuki gerbang utama kampus, mereka di arahkan menuju Gedung rektorat. Wardah dapat melihat kebinaran dari sorot mata Anisa yang menunggunya di depan pintu masuk. Eza bergegas turun dan membukakan pintu untuk Wardah yang tampak kesusahan dengan Sakha di pangkuannya. Digendongnya Sakha agar Sang Istri bisa leluasa mengikutinya menyapa para petinggi universitas yang tengah menyambutnya.


Stay coll, stay kalem, tetap control diri. Wardah dan Anisa mencoba dengan sekuat tenaga untuk tidak ngereok di hadapan dosen-dosen agung ini. Kedua sudah saling tatap-tatapan dan memberikan isyarat satu sama lain untuk tetap mengontrol diri masing-masing. Jangan sampai wibawa mereka jatuh dihadapan orang banyak, gara-gara btingkah mereka nantinya.


“Baru kali ini ada pemateri yang nyetir sendiri ke mari. Hahaha. Saya pikir tadi anda di jok belakang bersama istri anda,” sapa Farhan.


“Iyaa, saya juga sudah siap-siap mau membukakan pintu belakang, ternyata pematerinya ada di kemudi, hahaha,” sambung yang lain.


“Hay Mas, alhamdulillah baik,” jawab Wardah.


Perbincangan-perbincangan berbobot mewarnai perjalanan mereka menuju ruangan Farhan. Jelas saja berbobot, yang mengantarkan mereka adalah para guru besar. Anisa menarik tangan Wardah menuju sebuah ruangan istirahat staff yang biasanya di jam segini akan sepi karena masih bekerja. Ia tak sanggup jika harus menahan rasa rindunya pada Wardah.


Jglek!


Pintu sudah tertutup dengan rapatnya. Sontak mereka heboh berdua saling berpelukan dan lompay-lompat seperti anak abg. Seolah lupa umur mereka ini. Padahal sudah sama-sama punya anak.


“Ya Allah besti!!! Aku nggak kuat harus nahan sampai para dosen itu keluar dari ruangan Mas Farhan nanti! Bener-bener nggak tahan! Kangen Bangeetttt!” cerocos Anisa tak henti-hentinya. Begitupun dengan Wardah.


Saking tak sabarannya mereka sampai tak mengecek ruangan yang mereka masuki. Perkiraan Anisa ternyata salah. Masih ada beberapa karyawan di ruangan itu ternyata. Dan mereka tampak syok tiba-tiba istri rektor masuk ke ruangan mereka bersama seorang perempuan yang tak kalah cantiknya dengan histeris saling berpelukan saking rindunya.


Sadar jika ada pergerakan makhluk lain selain mereka berdua, sontak mereka diam seketika. Pandangan mereka beredar melihat beberapa pasang mata tengah menyaksikan kehebohan dua wanita cantik itu. Anisa meringis menyadari kecerobohannya. Usahanya menjaga image gagal total. Citra ramah dan kalemnya tercoreng seketika. Apalagi ia menyeret Wardah di dlamnya.


Wardah memukul geram Pundak sahabatnya itu. Ia sebenarnya bisa menahan diri, gara-gara sahabatnya ia jadi ikut malu di sini. mereka berdua meminta maaf pada staff yang ada di ruangan itu, kemudian pamit untuk keluar. Keluar dari pintu, dapat dengan jelas Wardah dan Anisa mendengar gelak tawa dari dalam ruangan tadi.


“Kamu kalau mau mencoreng citra kalem aku nggak usah ajak-ajak dong Nis!” geram Wardah yang berjalan beriringan menuju lift.


Sedangkan di ruangan lain, Eza dan Farhan tampak bingung mencari keberadaan istri masing-masing. Pasalnya tadi berjalan bersama mereka, tapi kenapa tiba-tiba sudah tidak ada?


“Lagi temu kangen mungkin,” ujar Farhan yang menyadari Eza tengah mencari istrinya.


“Iyaa kayaknya Mas, dari tadi juga sudah nggak sabar mau ketemu,” jawab Eza dengan tawa renyahnya mengingat semangat istrinya tadi.


...Bersambung...