Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Dapat!


“Lho, lagi ngisi ta? Ayo ke rumahnya Mbah, di rumahnya Mbah masih ada”


"Beneran Mbah? Monggo Mbah, saya antar pakai mobil saya," ujar Eza yang segera bergegas mengambil mobilnya.


Wardah menemani Si Mbah di kursi belakang, sedangkan Sakha duduk dengan menirukan lagu-lagu favoritnya di kursi samping kemudi. Wardah banyak berbincang dengan Mbah, sembari menemani perjalanan mereka. Dari jalanan pusat kota, mereka menyusuri jalanan yang semakin sempit. Hingga jalanan khusus satu arah. Melewati beberapa petak persawahan, dan kini mereka memasuki kawasan padat penduduk.


Beberapa tahun di Ibu Kota, baru kali ini Wardah melihat secara langsung kawasan padat seperti ini. Ternyata rumah Si Mbah lumayan jauh juga. Beliau diantar anaknya yang akan berangkat bekerja jika hendak berjualan jauh. Dapat dibayangkan betapa riwehnya beliau. Apalagi anaknya itu harus bolak balik dua kali untuk menjemput teman jualan Si Mbah dan barang-barangnya.


“Nah, ini rumah Si Mbah... Mobilnya ditaruh di lapangan samping sana saja ya Le, nanti kalau ada mobil mau lewat nggak bisa,” ujar Si Mbah.


Wardah membantu Si Mbah turun tak lupa dengan Sakha. Beberapa pasang mata tampak mengawasi kehadiran mereka. Heran mungkin, siapa yang bersama tetangganya itu. Eza memarkirkan mobilnya terlebih dahulu barulah ia menyusul. Rumah papan yang telah usang dimakan usia membuat Wardah tak tega melihatnya. Beberapa butiran kayu hasil dari hewan-hewan kecil tak bertanggung jawab membuat kayu-kayu itu lapuk.


“Ya ini nduk rumah e Si Mbah, ayo masuk... Nggak usah digubris itu orang-orang yang kepo,” celetuk Si Mbah.


Wardah sempat terkikik sendiri mendengar Si Mbah ternyata juga update kata-kata jaman sekarang. Wardah menggandeng Sakha mengikuti Si Mbah memasuki rumah. Ruang tamu yang tampak kosong, hanya berisi sebuah tikar yang terbentang dan sebuah lemari yang berisikan buku-buku yang juga berfungsi sebagai skat antara ruang selanjutnya.


“Mbah tinggal berapa orang di sini?” tanya Eza yang sudah bergabung dengan mereka.


“Ya sama anak, mantu, cucu 2. Suaminya mbah sudah duluan pergi ke surga, Mbah malah ditinggal,” jawab Si Mbah.


“Ini agen bedah rumah ya Tin?” tanya seorang tetangga pada anak Si Mbah, saat Wardah dan Eza hendak pamit.


“Heh! Kalau ngomong kok ngawur! Ini cucu baruku, mau dibuatkan arem-arem,” jawab Si Mbah.


***


Wardah dan Eza tak kembali ke kantor lagi, mereka langsung pulang ke rumah. Selama perjalanan mereka tampak fokus membicarakan kondisi keluarga Si Mbok tadi. Ada dorongan untuk membantu perekonomian keluarga mereka, melihat betapa baiknya mereka menjamu tadi.


“Iya, coba nanti Mas bicarakan sama Bang Nurma biar bantuin kita ngerenof rumah beliau agar lebih aman. Nanti kita aja yang beli peralatan rumah tangga sama sembako buat mereka,” ujar Eza.


“Iyaa Mas, sementara keluarga mereka ditampung di hotel milik Ayu aja Mas. Dia pasti mau gabung sama kita,” jawab Wardah.


“Ide bagus,”


...Bersambung ...