
Selang beberapa hari, tepatnya setelah Wardah menyelesaikan pekerjaannya, ia segera ke ruangan Eza. Ya! Wardah sudah bekerja hari ini. Dan hari ini pula Wardah akan bertemu dengan Pak Bagas.
Dilihatnya Eza masih sibuk dengan menelepon seseorang dengan membelakangi pintu masuk. Itulah mengapa ia tak sadar akan kehadiran istrinya yang baru saja masuk. Dengan hati-hati Wardah memeluk Eza yang membelakanginya. Merasa trauma dengan kejadian di resort dulu Eza sontak berbalik melepaskan pelukan Wardah. Berjaga-jaga jika itu jelmaan ratu pelakor.
Melihat jika yang memeluknya adalah Wardah, Eza sontak memeluk kembali istrinya yang tadi ia lepas. Tanpa mematikan teleponnya. Wardah terkikik melihat respon Eza. Suaminya benar-benar setia.
“Iya, pokoknya harus kamu pantau terus projeknya! Itu program baru kita, jangan sampai ada kesalahan! Ya sudah itu saja, terima kasih ya Kal. Wa’alaikumussalam,” berakhirlah sambungan telepon Eza.
“Kangen banget tahu sama Ayang!” gemas Eza mengeratkan pelukannya.
“Padahal dua jam yang lalu baru aja ketemu,” jawab Wardah dibalas tawaan oleh Eza.
“Udah siap Ay?” tanya Eza.
“Insyaallah siap!” jawab Wardah mantab.
Eza menggandeng Wardah keluar ruangan. Tak lupa menyapa karyawan yang mereka temui. Wardah yang hari ini hanya bertugas sebagai presenter membuatnya bisa pulang lebih cepat. Jika tugasnya membuat naskah berita, dapat dipastikan ia tak bisa pulang lebih awal.
“Mas, katanya dulu kamu cuek ya orangnya?” tanya Wardah saat mereka di dalam lift.
“Kata siapa? Bohong itu,” jawab Eza mengelak.
Wardah tersenyum-senyum sendiri melihat gelagat salah tingkah Eza. Pasalnya dirinya tadi mendengarkan cerita teman-teman di divisinya jika Eza terlampau cuek. Tapi setelah seorang Wardah ada di kantor ini, aura cuek Eza berubah. Menjadi sangat ramah dan humble.
“Seneng banget deh ngelihat pasangan ini tuh! Bawaannya adem ayem aja gitu,” celetuk salah satu karyawan mereka.
***
Eza mengatur pertemuan mereka di salah satu café khusus. Tempat yang cukup nyaman untuk berbincang santai maupun serius. Ia juga sengaja menyewa seluruh café agar Wardah sendiri lebih nyaman tanpa memikirkan orang lain yang melihat mereka. Sampai di café itu sudah ada Pak Bagas di sana bersama seorang anak kecil mungil yang terlihat sangat lucu. Wardah sempat tersihir sejenak melihat lucunya anak itu.
Eza menggenggam erat jemari Wardah agar tak takut dan tetap tenang. Ia juga membuka perbincangan ini dengan santai. Wardah sempat heran melihat suaminya yang terlihat tak terlalu canggung dengan keberadaan penjahat itu. Hingga akhirnya Eza meminta kepada Wardah untuk mendengarkan penjelasan Pak Bagas. Mau tak mau Wardah mengangguk mengiyakan. Eza meminta kepada salah satu petugas café untuk mengajak cucu Om Bagas terlebih dahulu. Tak mungkin Eza biarkan anak sekecil itu mendengarkan perbincangan berat ini nantinya.
“Wardah, Om tahu ini adalah waktu yang sangat terlambat untuk Om bisa menjelaskan semuanya kepada kamu. Tapi percayalah Nak, Om sudah mencari keberadaan kalian sejak lama. Om sudah memantabkan diri untuk menyerahkan diri ke pihak berwajib sudah lama.”
“Kamu tahu Pak Dodi Hermawan Nak?” tanya Pak Bagas. Dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Wardah. Tentu saja Wardah tahu. Pak Dodi adalah salah satu teman dekat Ayahnya.
“Dia adalah orang yang menyuruh kami membunuh Ayah kamu,” terang Pak Bagas.
Wardah terkejut seketika, tapi ia tetap diam. Eza terus mengelus jemari dan lengan Wardah untuk menenangkan dan memberikan kekuatan.
“Ayah kamu memiliki bukti kuat akan tindakan penggelapan dana dia. Dia takut jika Ayah kamu sewaktu-waktu membongkar kejahatannya. Ia takut kekayaan yang ia dapatkan hingga saat ini hilang seketika. Itulah mengapa Pak Dodi membunuh Ayah kamu. Om selalu mendapatkan ancaman dari dia jika Om membuka kasus ini,”
“Hingga di tahun lalu saat Om memberanikan menyerahkan diri ke polisi , terhalang oleh keadaan keluarga Om yang tak memungkinkan kala itu. Anak Om ditindas oleh mantan suaminya, dia benar-benar sakit mental. Apalagi saat itu ia tengah mengandung cucu Om yang tadi. Sekarang anak Om ada di Rumah Sakit Jiwa. Anak itu yang merawat Om sendiri Nak,”
“Apa alasan saya untuk mempercayai semua ucapan Om?” tanya Wardah dengan air mata yang sudah menetes.
“Om nggak punya bukti yang menjurus pada Pak Dodi, tapi Om tetap akan mengungkit masalah orang itu dipengadilan nantinya. Om memohon bantuan kepada kalian untuk menyelesaikan kasus ini hingga akarnya. Om nggak rela jika orang itu masih bebas dan berfoya-foya dengan enaknya,” jawab Om Bagas.
...Bersambung ...