
"Assalamu'alaikum, selamat siang Bu, selamat datang di butik Bunda," Sapa Wardah dengan sopan. Oh iya! Butik Bunda ini memang hanya menyediakan pakaian dan gaun muslimah, tentu saja pendatangnya juga muslim.
"Wa'alaikumsalam," Jawab Ibu itu.
Ibu itu tersenyum sangat manis terhadap sambutan Wardah. Ibu itu mengelus pundak Wardah dan kemudian berlalu mendekati pakaian yang terjejer rapi di butik. Tentu saja itu sukses membuat Wardah tercengang. Wkwkwk
Sepertinya ibu itu tampak kebingungan. Berkali-kali beliau membolak-balikkan dress yang terjejer di depannya. Mbak Naura memberi kode isyarat agar Wardah membantu ibu itu.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya Wardah sopan dengan memamerkan deretan gigi putih cantik nan rapinya.
"Ibu mau nyari gamis abaya Nduk," Jawab Ibu itu dengan masih membolak-balikkan deretan baju di depannya.
"Monggo bu saya tunjukkan, tempatnya ada di lantai dua," Ujar Wardah.
"Oalah! Ada di atas to... Iya Nduk antarkan ibu ya," Jawab ibu itu dengan memegang lengan Wardah.
Awalnya Wardah kaget dan kikuk. Tapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja dan sopan. Wardah mengantarkan ibu itu menuju lantai atas.
"Ibu mencari abaya warna apa bu?" Tanya Wardah.
"Warna putih untuk Ibu dan menantu Ibu," Jawab ibu itu. Dengan telaten Wardah memilihkan model abaya yang sekiranya cocok untuk ibu itu terlebih dahulu.
"Sepertinya tiga model ini cocok untuk Ibu," Ujar Wardah memberikan pilihan model abaya.
"Pilihan kamu bagus Nak, ibu mau pilih yang ini saja... Tapi ukurannya yang lebih besar yaa?" Jawab ibu pengunjung dengan menunjukkan pilihannya.
Wardah melayani dengan penuh suka cita pelanggan pertamanya. Alhamdulillah pelanggannya juga senang dilayani Wardah. Pilihan Wardah selalu sesuai dengan selera pelanggannya.
"Mbak, jangan bilang Bunda kalau aku udah bisa melayani pembeli yaa, aku gak mau kalau disuruh bantuin Bunda ngurus butik... Bukan jalanku Mbak," Rengek Wardah pada Mbak Naura setelah pelanggannya pergi.
"Iya-iya, siap! Bunda kamu udah pernah cerita sama Mbak, kalau anak gadisnya itu pengennya kerja kantoran," Jawab Mbak Naura.
"Bunda Mah ember!" Ketus Wardah.
Tanpa diberi tahu pun sebenarnya Bunda sudah mengamati anak tersayangnya itu. Bunda memantau cctv yang terkontrol di ruangannya. Bunda tentu tak akan memaksa Wardah mengurus butik. Beliau selalu membebaskan pada kedua anaknya memilih pekerjaan atau jalan hidup masing-masing. Asalkan masih terkontrol dengan peraturan keagamaan. Sesuai dengan bimbingan almarhum suaminya.
Percayalah! Bunda sebenarnya menyesal menerima pinangan Cak Ibil. Ia salah! Seolah ia sudah mengorbankan kebahagiaan sang anak. Meskipun Bunda memberikan kebebasan memilih jalan hidup untuk anaknya, tapi Wardah bereda! Ia tetap akan meminta persetujuan dan menerima keputusan dari Bundanya. Meskipun keputusan Bunda tak sesuai dengan kehendaknya. Bunda harus menebus kesalahannya. Itu tekadnya kali ini.
"Bunda kenapa nangis?"Tanya Wardah yang ternyata sudah di ruangan sang Bunda.
"Dedek? Sudah ada di sini aja sih?" Tanya Bunda yang baru menyadari kedatangan anaknya. Dengan tergesa Bunda mengelap buliran air matanya. Tak terasa, ternyata sudah mengalir.
"Bunda gak papa sayang," Ujar Bunda.
Wardah mengelus lembut punggung tangan Bunda kemudian menciumnya. Wardah tahu betul, Bunda pasti banyak pikiran. Tapi ia tak mempunyai cukup nyali untuk bertanya pada sang ibunda. Ya Allah, berilah Bunda kebahagiaan...
"Kebahagiaan Bunda adalah melihat anak-anak Bunda bahagia Ssyang," Batin Bunda.
......Bersambung... ......