Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Pengumpulan Berkas


Malam hari menjelang tidur, Wardah menceritakan semua persoalan yang ia hadapi hari ini pada sahabatnya Anisa. Anisa yang tahu perjalanan hidup Wardah tentu saja khawatir. Ia tahu betul bagaimana kondisi Wardah saat ayahnya meninggal. Karena saat itu memang Anisa-lah yang ada di sisi Wardah. Anisa terus menanyakan kondisi Wardah saat ini. Setelah ia mendengar kesungguhan sahabatnya dalam merawat anak itu, Anisa tentu saja mendukungnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Sahabatnya memanglah orang yang tak tegaan, itulah mengapa ia tak heran jika Wardah mengambil keputusan itu.


Wardah juga sempat menyeletuk bagaimana jika seandainya pelaku dibebaskan saja atau kasus itu ditutup? Tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Anisa dan Eza yang mendengarnya. Lama berbincang dengan Anisa, membuat Eza bosan setengah mati. Eza terus mengganggu Wardah yang masih asik berbincang. Ditarik-tariknya lengan baju Wardah untuk memancing perhatiannya. Ia juga tak segan untuk merebahkan kepalanya di pangkuan Wardah yang memang tengah selonjoran sembari menyender di ranjang. Ia terus mendusel pada perut Wardah yang ramping. Tentu saja Wardah kegelian dibuatnya. Tak sabar akan kepekaan Sang Istri, Eza langsung merampas gawai Wardah.


“Udah Mbak, saya mau manja-manjaan sama istri ini, udah dua jam lho teleponnya,” dengus Eza protes dengan orang di sebrang telepon itu.


Bukannya tersinggung Anisa justru tertawa mendengar ocehan Eza. Mereka berdua pasti lupa waktu jika sudah berbincang. Si Kembar memang sedang bersama Abi-nya. Makanya Anisa bisa bebas berbincang dengan Wardah. Anisa sontak meminta maaf dan mengakhiri sambungan teleponnya.


“Dasar nggak sabaran,” celetuk Wardah.


“Sabarku untuk dua jam Ay… Aku harus muas-muasin berduaan sama kamu sebelum dedek bayinya ke sini,” jawab Eza kemudian menenggelamkan Wardah dalam pelukannya.


Ntah kenapa Eza begitu rindu pada istrinya itu. Padahal sepanjang hari mereka bersama.


Keesokan harinya Eza dan Wardah tengah disibukkan dengan pengurusan pemindahan hak asuh anak. Mereka yang tak pernah berkecimpung dengan hal itu tentu saja meminta bantuan kepada pengacara keluarga untuk membantu mereka sepenuhnya. Mereka piker proses pengajuan pengangkatan anak dilakukan dengan mudah, ternyata salah kawan. Proses pengangkatan anak melalui beberapa runtutan persyaratan yang sangat banyak. Waktu yang Eza pikir hanya memakan 2 sampai 3 hari ternyata itu salah besar. Mereka membutuhkan waktu lebih dari seminggu hanya untuk mengurus berkas-berkasnya. Setelah itu penyerahan kepada pihak yang bersangkutan. Hari ini Eza dan Wardah tengah berada di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta untuk mengumpulkan beberapa berkas persetujuan yaitu surat pernyataan Kesehatan orang tua angkat.


Sang ayah yang notabennya seorang pekerja serabutan justru malah mengambil kesempatan atas niat baik Eza dan Wardah. Bahkan sempat terjadi baku hantam antara dia dengan Om Bagas. Benar-benar tak tahu malu, sudah mencampakkan anaknya, kini ia malah semena-mena memanfaatkan keuntungan untuknya.


“Anda jangan semena-mena memanfaatkan niat baik saya ya! Saya punya cukup bukti untuk melaporkan kekejian anda pada mantan istri dan anak anda. Saya bisa saja tidak menemui anda. Karena saya menghormati anda, makanya saya bela-belain datang kesini dengan baik-baik mengenai anak anda,” setelah sedari tadi Eza berdiam diri, akhirnya ia berbicara juga.


Saat ketempat ayah si kecil Wardah tak ikut, pasti ia khawatir melihat keadaan saat ini jika ikut. Setelah mendengar tuturan Eza, laki-laki itu terdiam. Sepertinya ia takut akan gertakan Eza. Akhirnya ia memberikan surat pernyataan ketersediaan dirinya atau persetujuannya untuk memberikan hak asuh pada Eza dan Wardah. Meski pada akhirnya Eza tetap memberikan sejumlah uang tunai padanya.


Beruntung pihak keluarga Eza maupun Wardah dengan senang hati memberikan surat pernyataan persetujuan untuk adopsi anak sehingga setelah menyelesaikan perihal ayah si kecil, mereka langsung bisa memasukkan berkas-berkas itu.


Hasil pemeriksaan Kesehatan jasmani, jiwa dan fungsi organ reproduksi milik Wardah dan Eza juga yang sedikit memperlambat pengajuan. Mereka harus menunggu beberapa hari untuk keluarnya hasil.


Hingga mengurus hampir kurang lebih sepuluh hari akhirnya berkas mereka sudah terkumpul. Kini saatnya mereka memberikan persyaratan pengajuan itu pada pihak yang bersangkutan.


***