
Sayup-sayup cahaya matahari siang mengusik tidur nyenyak seorang Wardah. udara dingin seperti ini memang cocok dimanfaatkan untuk tidur. Tapi cahaya matahari itu benar-benar mengusiknya. Sayup-sayup matanya menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Nuansa abu-abu menyelimuti ruangan ini. Tapi Wardah memilih untuk melanjutkan tidurnya dengan merubah posisi membelakangi jendela kaca di sampingnya.
Memeluk guling seperti ini dengan selimut ala badcover sangat mendukung rencana tidur siangnya. Parfum yang dipilih juga sangat menenangkan, nyaman, wangi ala-ala oppa Korea.
“Nggak ada niatan mau bangun?” tanya suara barington dari sebuah sudut yang menggema di seluruh ruangan. Sontakk Wadah membuka matanya lebar.
Tempat tidur berwarna abu muda dan dinding berwarna abu tua terkesan gelap tapi sangat bagus untuk paduan warna. Di mana dirinya saat ini? Wardah mengintip selimut yang membungkus dirinya. Alhamdulillah! Untung saja pakaiannya lengkap. Dirabanya kepala, masih utuh jilbabnya. Untung saja bacaan novelnya selama ini tak menjadi kenyataan di kehidupannya.
Wardah mengintip pada sosok di sofa yang ada di samping tempat tidur. Tampak Aditia tengah duduk dengan menompang kakinya menghadap ke arah Wardah.
“Ini du mana Mas?” tanya Wardah dengan suara khas bangun tidurnya.
“Di ruangan saya. sampai mau patah leher saya nungguin kamu bangun. Khawatir barang-barang saya ludes kamu bawa kabur,” ujar Aditiya.
“Ngawur! Emang saya pencuri apa!” protes Wardah. ia beringsut turun dari tempat tidur super nyaman itu. Tak tega aslinya meninnggalkan tempat tidur itu. Huhuhuhuuuu.
“Ih! Iler kamu tuh!” seru Aditiya saat Wardah menghampirinya.
Dengan spontan Wardah mengusap sudut bibirnya. sontak Aditya tertawa puas mngerjai wwanita di hadapannya itu.
“Saya nggak pernah ngiler ya! Ngejek aja terus!” gerutu Wardah dengan melotot.
“Sudah-sudah! Ayo kita makan. Semoga saja Papa saya masih menyisakan untuk kita,” ajak Aditiya. Di pencetya sebuah tombol sebesar biji kopi yang otomatis membukakan pintu rahasia untuk Aditya dan Wardah. Wardah terpukau saat melihat dua lemari itu membelah menyediakan jalan rahasia. Memperlihatkan kantor Aditya.
"Beruntung Papa saya masih menyisakan untuk kita. Ayo makan! Saya sudah lapar," ajak Aditiya.
"Sek-sek Mas, Saya mau ke kamar mandi dulu," Wardah segera kabur ke kamar mandi. Malu dong kalau muka bantalnya masih nampak. Bagaimana jika ia benar-benar mengiler?
Wardah segera mencuci mukanya. Ternyata bosnya itu menyediakan sabun cuci muka di kamar mandinya.
Aditya sudah siap di meja makan minimalis di dekat dapur. Makanan dan piring khusus dua orang juga sudah tersaji di sana. Kepiting itu seolah Memanggil-manggil Wardah untuk segera menyantapnya.
"Menunggu apa lagi? Ayo kita makan!" ajak Aditya.
Wardah duduk tepat di kursi samping Aditya. Satu sendok suapan untuk bumbu yang menyelimuti kepiting itu. Sedangkan Aditya sudah menyantapnya.
"Emmmh, enak banget!" ujar Wardah setelah suapan pertama.
"Bolehlah jadi kandidat calon imam," celetuk Aditya dengan kedipan matanya.
"Hahahahaa, bercandanya nggak lucu," jawab Wardah dengan melanjutkan memakan makanannya.
Aditya hanya memutar bola matanya jengah. Sudah ia duga, pasti wanita di hadapannya tak akan menanggapi dengan serius.
Wardah menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan Aditya setelah selesai makan pagi plus siang. Aditya tak mengizinkan Wardah membantu membereskan makanan, jadilah kini Wardah santuy santuy di sini dengan bosnya yang membereskan dapur. Durhaka sekali kamu Wardah.
"Besok kamu ikut saya ke Jombang! Saya ada undangan mengisi seminar," ujar Aditya duduk di samping Wardah.
"Iya, setelah ini kamu saya antar pulang. Langsung siap-siap. Besok pagi kita berangkat," jawab Aditya.
"Besok untuk liputan petang? Kita pulang ke Jakarta lagi kapan Mas?" tanya Wardah. Ia yakin akan kecapaian jika saja sore hari sudah kembali ke Jakarta.
"Itu menjadi urusan saya nanti. Kamu tenang saja." jawab Aditya dengan tenang. Wardah mengangguk dengan pasti. Memang, kalau bos bisa apa saja.
Masuk ke ruangan bos, tadi pagi suasana masih sepi seolah tak ada kehidupan. Kini Wardah keluar, kantor sudah ramai dengan lalu lalang manusia yang tengah sibuk bekerja.
Beberapa orang tampak memperhatikannya. Wardah heran sendiri dibuatnya. Ada yang salahkah dengan dirinya?
"Kenapa malah diam di sini?" bisikan dari arah samping sukses mengagetkan Wardah.
Pantas saja orang-orang melihatnya heran dan tatapan yang ntah apalah itu. Ternyata disampingnya ada sosok mahluk astral bernama Aditya.
"Kaget! Ya Allah! Tadi pagi masih sepi, eh! Sekarang udah kayak pasar ajah," celetuk Wardah meninggalkan Aditya yang berdiri di samping Wardah.
Cklek! Wardah memasuki ruang divisinya. Cengiran khas Wardah muncul dikala pandangan penghuni ruangan tertuju padanya.
"Dari mana dek? Tasnya dari tadi ada, kok orangnya baru muncul," tanya Mbak Intan.
"Dari ruangan Pak Bos mbak, di kasih kabar kalau besok di ajak ke Jombang seminar. Sekalian mo jenguk Bunda di rumah," jawab Wardah sembari merapikan mejanya. Bersiap untuk pulang tentu saja.
"Wiih! Lumayan tuh pulkam nggak ngluarin ongkos," sahut Mas Andre.
"Alamat ngebackup kerjaan kamu nih berarti," celetuk Mas Angga.
"Hehehe, minta tolong ya Mas, Mbak," ujar Wardah kepala dua rekan kerjanya dalam penyusunan berita.
"Beres itu mah, sana pulang! Udah ditunggu tuan besar tuh!" ujar Mbak Intan.
Wardah melongok melihat sosok yang dimaksud Mbak Intan. Ternyata Aditya sudah menunggu di depan pintu ruangan. Karena memang dinding ruangan ini kaca, transparan sudah apa yang dilakukan para pekerjanya.
"Assalamu'alaikum, Wardah pamit," ujar Wardah melambaikan tangannya.
"Waalaikumussalam, hati-hati dek," jawab mereka.
.
.
.
...Bersambung... ...