Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Optimis


Setelah adegan makan malam berdua, pagi ini saatnya kembali keperantauan. Wardah sudah siap dengan makanan yang disiapkan Bunda untuk persediaan di Jakarta. Supaya punya stok untuk lauk makan katanya. Tak repot-repot untuk masak. Bukan hanya makanan lauk jadi, Bunda juga membawakan sayuran untuk mengisi kelonggaran di lemari pendingin Wardah. Hahaha.


Sudah seperti kembali ke pesantren saja. Dulu saat masih di pesantren, Bunda selalu membawakan perintilan-perintilan seperti itu. Wardah tak perlu repot-repot membeli sayuran sendiri, ia hanya perlu memanfaatkan sayuran yang diberikan Bunda. Bedanya, dulu ketika di pesantren tak ada lemari pendingin, kini bebas menggunakannya.


Wardah sudah siap dengan setelan andalannya. Pakaian santai yang selalu ia pilih. Eza kembali harus mengekan pakaian Kak Yusuf atas perintah Bunda yang tak dapat diganggu gugat lagi.


Anisa tak mau tertinggal tentunya. Sejak subuh ia sudah ada di rumah Wardah bersama Farhan.


“Wardah pamit dulu ya Bun,” pamit Wardah sembari memeluk Bunda-nya. Dilanjutkan dengan memeluk sahabatnya super unyu-unyu itu.


“Aunty pamit dulu ya kembar,” ujar Wardah mengelus lembut perut buncit Anisa.


Farhan duduk bersama Eza membahas kerjasama yang akan mereka lakukan di waktu yang akan datang.


“Semangat menaklukkan hati Wardah Za,” ujar Farhan sebelum laki-laki itu memasuki mobilnya.


“Terima kasih ya Mas,” jawab Eza. Wajar saja Eza memanggil Farhan Mas. Umur Eza dan Farhan memang beda dua tahun. Tua’an Farhan. Wkwkwk.


“Bunda minta tolong jagain Wardah ya, Bunda sudah percaya sama kamu lho Za,” ujar Bunda lagi.


“Siap Bunda! Eza bakalan jagain Wardah sepenuh hati sebagaimana Bunda dan Ayah dulu menjaga Wardah tanpa kurang secuil pun,” jawab Eza.


“Kayak anak kecil aja sih dititipin ke orang! Dedek udah besar Bun,” rengek Wardah tak terima.


“Udah besar kok masih dipanggil Dedek,” sindir Kak Yusuf. Dibalas juluran lidah oleh Wardah.


Wardah dan Eza segera memasuki mobil karena tiba-tiba gerimis menuju lebat mulai mengguyur permukaan bumi. Bunda meminta untuk tinggal di rumah sampai hujan rda, ttapi Wardah menolaknya. Bisa-bisa ia tak jadi berangkat ke Jakarta nanti.


Eza kali ini memilih untuk menggunakan mobil untuk kembali ke Jakarta. Sengaja ia tak menggunakan transportasi udara, agar lebih lama bersama Wardah tentunya.


Ya tidak mungkin Eza menggunakan alasan itu untuk Wadah dan yang lainnya. Eza beralasan untuk membawa mobilnya yang ada di resort penginapannya ke Jakarta. Sayang sekali jika tak terpakai katanya. Hahaha.


Dengan melalui Tol tentunya lebih nyaman dan lancar jaya. Tanpa ada drama macet-macetan. Tapi meskipun begitu, siap-siap saja badannya nanti sakit-sakitan. Membiarkan tubuhnya berada dalam mobil dengan lamanya perjalanan dari Jombang ke Jakarta.


Hamparan sawah, kebun, hingga pepohonan bagai hutan menjadi makanan Eza dan Wardah selama perjalanan. Ditambah dengan hawa dingin yang menusuk hingga tulang rusuk dan hujan yang masih setia mengguyur permukaan bumi menambah kesyahduan perjalanan panjang kali ini.


“Mas! Mau ngapain? Jangan macem-macem ya!” tegas Wardah.


“Apasih Dah? Kamu kedinginan-kan? Penghangat mobilnya juga nggak mempan deh kayaknya. Kamu pakai jaket saya saja ini.” Ujar Eza melemparkan jaketnya tepat di muka Wardah. sukses membuat Wardah pengap.


“Mas nggak kedinginan emangnya?” tanya Wardah ragu, sembari memakai jaket Eza.


“Nggak, baju saya rajut jadi masih bisa berfungsi untuk menghangatkan,” jawab Eza kembali menjalankan mobilnya.


Melihat Eza mengenakan turtleneck seperti itu menambah kesan cool. Sejak kapan Kak Yusuf memiliki baju seperti itu? Perasaan, Wardah tak pernah melihat sekalipun Kak Yusuf mengenakannya. Mungkin karena tak cocok digunakannya, makanya Kak Yusuf memberikannya untuk Eza. Hahaha. Wardah terkikik sendiri memikirkan segala kemungkinan yang ia pikirkan perihal Kak Yusuf.


“Kita ke Jogja dulu gimana?” ajak Eza tiba-tiba.


“Ngapain Mas? Saya sudah seminggu nggak masuk kerja lhoo. Bisa-bisa di kick dari kantor nanti,” gerutu Wardah.


“Bosnya kan saya. tenang saja,” jawab Eza.


“Ya, walaupun Mas, nanti dikirain saya memanfaatkan keadaan. Kalau para karyawan yang lain salah paham gimana? Mentang-mentang bos seenak jidatnya ajah!” ujar Wardah ditambah gumaman di akhir kalimatnya.


“Mama saya minta dijemput. Mau ikut ke Jakarta,” ujar Eza. Tentu saja ia mendengar gumaman Wardah.


“Mamanya Mas di Jogja?” tanya Wadah antusias. Dengan begitu ia bisa bertemu dengan Papa jelmaannya Ayah.


“Iyaa. Seminggu yang lalu pulang ke Jogja, terus mau ikut ke Jakarta lagi,” jawab Eza.


“Pulang ke Jogja? Rumahnya ada berapa sih Mas? Terus yang ada di Jakarta kemarin apa?” tanya Wardah kepo.


“Itu rumah dinas Papa. Papa lagi tugas dikejaksaan Jakarta,” jawab Eza.


“Kejaksaan? Papa itu hakim? Baru tahu saya kalau Hakim punya rumah dinas. Xixixi,” gumam Wardah.


...Bersambung... ...