Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Kebo 2


"Assalamu'alaikum," sapa Eza sembari memasuki mobilnya.


"Waalaikumsalam," jawab Wardah dan Alif bersamaan.


"Lets go! Kita otw Labuan Bajo," ujar Eza melajukan mobilnya.


.


.


.


Eza berjalan menyeret dua koper di sisi kanan dan kirinya. Tepatnya milik Wardah dan dirinya sendiri. Sedangkan Alif menyeretnya sendiri. Wardah-lah kini yang bertindak sebagai nyonya, ia hanya membawa tas ransel minimalis berisi perintilan kecilnya dan beberapa make up.


Untung saja mereka masih memiliki waktu untuk check in. Sepuluh menit lagi, mereka akan tertinggal. Eza menggandeng pergelangan tangan Wardah yang terbalut kain bajunya agar mengikutinya membelah lautan manusia yang cukup ramai di kawasan ini.


"Kak, ada paparazi itu," celetuk Alif memberi tahu Kakaknya ketika mereka sampai di ruang tunggu. Sontak Eza langsung memutar arah, memilih untuk ke ruang tunggu VIP.


"Kenapa harus ke sini Mas?" tanya Wardah bingung.


"Nggak papa, pengen tempat yang leluasa ajah," jawab Eza beralasan. Jangan lupakan senyuman manisnya itu. Sukses membuat siapa saja diabetes.


Wardah memainkan gawainya sembari menunggu keberangkatan. Bertukar kabar dengan Anisa yang sudah tak sabar menunggu kedatangannya. Sesekali ia membuka sosial medianya untuk sekedar melihat instastory beberapa idolanya di IG. Tangannya tergerak pada tanda ❤ dan pesan masuk di pojok kanan atas. Tertera 99+ angka di sana. Banyak sekali yang mengirimnya pesan.


Seminggu ini Wardah memang tak ada mengecek akunnya. Sibuk dengan pekerjaan dan rencana liburan yang dibuat Anisa tentunya. Sebelumnya walaupun sebulan ia tak membuka IG, tak ada tanda sebanyak ini. Menjadi presenter memang manjur dalam menaikkan followers. Hahaha.


Mata Wardah terkejut melihat foto-foto yang beredar pasal dirinya. Jika menyangkut dengan karirnya yang naik, ia masih biasa saja. Tapi! Ini foto-foto dirinya dengan Eza. Bagaimana mungkin? Ia sudah menjaga jarak selama ini. Ia rasa, tak pernah ia keluar dengan Eza. Mungkin hanya ketika ke mansion orang tua Eza, dan saat diajak Mama keluar.


Hohohooo, ternyata fotonya dan Mama Sarah juga menjadi sorotan publik. Bahkan fotonya pada hari ini juga sudah tersebar. Gerak-gerik Wardah dan Eza selama di bandara sudah memenuhi jagat sosmed. Walaupun mengenakan masker, ternyata tak berefek pada apapun. Mereka masih saja menandai dirinya.


"Kenapa?" tanya Eza yang melihat Wardah yang terus memandangi gawainya.


"Mas udah tahu ini?" tanya Wardah sembari menunjukkan beberapa fotonya dengan Eza.


Dengan santainya Eza mengangguk mengiyakan.


"Kok santuy banget sih!" protes Wardah.


"Udah biasa Dedek, kalau sudah berkecimpung dengan dunia perpublikan pasti famous," jawab Wardah.


""Ini yang Dedek malesin, pasti jadi konsumsi publik... Hari-hari jadi dikejar paparazi," lirih Wardah.


"Nampak banget kamu nggak mengikuti IG-nya atasan, sini!" Eza merampas gawai Wardah dan mulai mengetikkan nama akunnya.


Benar saja, Wardah tak mengfollow dirinya. Padahal dalam satu fram, mereka berdua sama-sama ditandai. Apa Wardah sama sekali tak mengepoi dirinya? Dengan sengaja Eza memencet follow.


Eza tersenyum geli melihat postingan Wardah. Hanya enam foto saja yang ia posting di akunnya. Bahkan yang tiga hanya kata-kata motifasi saja. Yang difollow hanya artis-artis dan beberapa motivator. Barulah Eza memberikan kembali gawai Wardah.


Selama perjalanan, Eza duduk bersama Wardah. Seperti biasa, Wardah akan sangat excited melihat pemandangan di ketinggian.



Sayup-sayup mata Wardah tersihir mulai mengantuk. Dan kini benar-benar tertidur. Kepala yang mulanya menyender pada jendela sampingnya, kini telah dipindahkan Eza menyender pada pundaknya.


"Dasar modus!" bisik Alif yang duduk di kursi seberangnya.


"Ngiri aja," jawab Eza. Alif memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya kakaknya menjadi bucin.


...****************...


Perjalanan dari Jakarta ke Labuan Bajo memang membutuhkan waktu yang amat panjang. Melewati perjalanan udara 2 jam setengah lumayan membuat punggung Eza kebas. Bukan sebab Wardah yang menyender, tapi memang karena terlalu lama duduk. Ia hendak berdiri pun tak bisa. Ada Wardah yang menyender padanya.


Pesawat mendarat, barulah Wardah terbangun. Terlalu nyenyak tidurnya. Sebelumnya ia tak pernah tertidur dengan nyenyak selama perjalanan. Tapi kini ia serasa ingin memejamkan mata terus.


"Dek, Dedek, kita udah mau landing ini, Dedek," ujar Eza lirih membangunkan Wardah.


Tampak beberapa pramugari di sana sedikit terkikik melihatnya. Mau digendong pun tak mungkin, ini di bandara umum. Bisa masuk tranding topik nanti jika ada adegan seperti itu. Eza terus berusaha membangunkan Wardah, dielusnya perlahan lengan tangan Wardah agar terbangun.


Sayup-sayup mulai terbangunlah Wardah, menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Wardah malah memeluk lengan Eza bagai guling kembali memejamkan matanya.


"Udah Kak, gendong aja," ujar Alif.


Dengan senang hati Eza menggendongnya. Tapi, ia memikirkan berita-berita yang akan beredar nantinya. Takut jika Wardah nanti marah atau risih. Eza masih berusaha membangunkan Wardah.


"Nanti Bunda, Dedek masih ngantuk beraat," rengek Wardah dengan masih memejamkan matanya. Bahkan goncangan landasan pesawat ini tak mampu membangunkan si putri tidur ini.


"Kayaknya di sini nggak ada awak media deh Kak, tenang aja," ujar Alif. Kini mereka sudah benar-benar landing.


Oke! Ini bukan salah kamu kok Za, Wardahnya aja yang memberi kesempatan. Hahaha. Alhasil, kini Eza menggendong Wardah. Tak jarang petugas bandara yang bertanya kenapa gadis itu? Mereka pikir Wardah pingsan atau mengalami keadaan yang menghawatirkan.


......Bersambung ......