Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Enam


Denyut kehidupan malam ini berjalan sangat lambat, suasana akhirnya tenang setelah musim kunjungan turis di musim semi, musim bunga sakura bermekaran.


Sudah tiada orang lain di restoran ini selain aku dan 1 orang sahabatku Claudia yang dari kecil kami selalu bersama \= Lina; satu lagi pria bertopi bola dan bertudung yang baru masuk 5 menitan lalu dan membungkuk di kursi tinggi di pojok restoran. Dia mengeluarkan ponsel dari saku jins.


Sekarang sudah hampir jam tutup restoran , jadi aku sepenuh hati berharap laki-laki itu tidak berlama-lama di sini. Aku bisa pulang lebih awal, dan menutup restoran tepat waktu kedengarannya indah sekali di pikiranku.


"Apakah saya bisa mengambilkan sesuatu untuk anda?" seruku pada pria bertudung saat berjalan memutar untuk kembali ke bar. Laki-laki itu menggumamkan sesuatu, tanpa mengangkat wajah dari kesibukan mengetik di ponsel. Aku menghembuskan napas panjang dan masuk makin jauh ke barat supaya bisa mendengar kata-katanya. Kadang-kadang orang berkelakuan sangat tidak sopan. Aku kenyang menyaksikan tingkah pola macam-macam orang sepanjang musim semi ini. Dan kupikir aku tidak sendirian, menurut laporan, terjadi beberapa kasus penduduk lokal marah besar, tidak heran pihak country harus memasang Billboard untuk mengingatkan penduduk setempat bahwa sebagian pendapatan mereka tergantung dari sektor kepariwisataan.


...


"Shanghai crispy ukuran medium, Zi Long fried chicken ukuran medium beserta tofu tapioka untuk di take away, "ulang laki-laki bertudung tanpa mengangkat wajah, Cong topi bola berwarna merah yang menyerupai bola basket yang ia kenakan menyembunyikan wajahnya dengan sempurna. aku sempat takut dan berpikir dalam hati apakah dia adalah *******.


"Saya pesan bushmills pakai es sambil menunggu pesanan disiapkan." Dari vocal dia berbicara, kemungkinan besar dia dari luar kota. Laki-laki itu melanjutkan mengetik. Aku menghembuskan nafas lalu mengetik pesanan dari satu. Syukurlah Aku memiliki kesabaran seperti Santa Claus. Sepuluh detik kemudian, Roy menjulurkan tubuh dari dapur sambil menggeleng deleng padaku.


"Maaf, Roy. 1 pesanan terakhir, setelah itu silahkan kalau menolak pesanan baru. Aku memasang tanda tutup di pintu."


Aku tersenyum pada Roy yang memasang wajah marah. Sesekali kami saling memprotes tapi ini bisa dimaklumi. Kami mencintai pekerjaan kami the sniper girls. Kami menerima bayaran tip besar sepanjang musim semi. Pada musim sepi turis, ketika sebagian besar pekerjaan muslimah pindah, kami hanya menjalankan usaha ini. Roy kembali menarik kepalanya yang berambut hitam ke dapur sambil dalam bahasa Indonesia. Begitulah Roy bukanlah asli orang Jepang.


"Jadi, apa gosip terbaru di dunia hiburan?" Aku mengedikkan kepala ke majalah yang ditekuni Claudia sambil masukkan an-nas ke kelas, lalu menuangkan wiski Irlandia berkualitas baik.


Claudia mengangkat wajah dan menyerang bahagia. "Aku bahagia sekali. Berbulan-bulan aku tidak bisa duduk santai membaca majalah gosip. Kau tahu ibuku tidak mengizinkan Aku membawa majalah seperti ini ke rumah, katanya aku membuat otakku melempem setara dia membayar uang kuliah ku; keinginanku pindah dari rumah ibu akan besar kerinduanku padanya." Aku melemparkan senyuman bersimpati padanya, lalu mengantar minuman keras racikan ku ke bar.


Laki-laki bertudung masih saja menggesekkan layar ponsel dengan jemarinya yang panjang, tidak menghiraukan minuman yang kuletakkan bersama serbet di kayu berpelitur yang ada di depannya. Aku menghembuskan napas panjang lalu kembali mendatangi Claudia.


"kau bisa pindah ke tempatku, Claudia titik aku tinggal sendirian karena kakak laki-laki ku sibuk kuliah kedokteran. "


Kalau dia berpura-pura tidak mendengarkan. Aku sudah sering menawarkan hal ini sama pada Claudia, tapi Claudia dan saudara laki-lakiku pernah menjalin kencan singkat pada suatu musim panas ketika Joy libur kuliah.


Terlalu meremehkan jika mengatakan Joy membuat Claudia sekedar patah hati ketika ia pergi lagi melanjutkan kuliah. Aku tidak yakin orang lain tahu seberapa besar rasa sayang Claudia pada Joy, paling tidak hanya Claudia sendiri yang tahu. (Selebihnya tempe)


Demi diriku, Joy dan Claudia memilih berteman dengan menjaga jarak satu sama lain supaya tidak canggung ketika Joy pulang saat liburan. Tetapi saat ini, karena sibuk kuliah, magang di rumah sakit, dan tidak lama lagi akan menghadapi penempatan, Joy makin jarang pulang.