Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Rencana


Berpegangan tangan merupakan sesuatu hal yang wajib dilakukan dua pengantin baru itu. Jemari mereka tak boleh berpisah. Wardah masih setia memeluk lengan Eza yang terbebas. Sedangkan satu tangannya sedang memegang kemudi untuk kembali ke mansion. Ya! Mereka tak menghabiskan waktu lama di cafe Egi. Karena Eza sendiri ingin segera menonton timnas Indonesia melawan Thailand malam ini. Pasti sang Papa dan Kak Yusuf sudah standby di mansion.


"Adek nggak mau nonton bola," celetuk Wardah.


"Iya nggak papa, nanti Ayang tidur dulu aja ya," jawab Eza.


"Belum ngantuuk," rengek Wardah lagi.


"Iya, nanti Ayang temani Mas nonton sambil nonton Drakor, oke!" jawab Eza mengelus pipi Wardah.


Dan benar saja. Kini Kak Yusuf dan Papa duduk di sofa, sedangkan Eza lesehan dan Wardah tengah berbaring berbantalkan paha Eza sembari menonton drakor di iPad yang ia pegang. Mereka sudah siap dengan pertempurannya.


"Tidur di kamar sana lho Dek!" celetuk Kak Yusuf.


"Belum ngantuk," jawab Wardah singkat.


Padahal sebenarnya ia hanya ingin bersama Eza. Sesekali Wardah mempause filmnya, untuk berbalik arah memeluk perut Eza. Ia berbohong jika belum mengantuk. Nyaman sekali posisi seperti ini.


"Pasti udah tidur itu anak," ujar Kak Yusuf melihat sang adik masih betah menyembunyikan wajahnya.


"Ajak ke kamar Za!" sambung Papa dengan tawa gelinya.


Kehendak hati ingin menonton bersama yang lain, apalah daya jika sudah diperintahkan untuk ke kamar. Dengan hati-hati Eza membopong Wardah menaiki tangga hingga sampai di kamar mereka.


"Emang beda kalau masih muda. Papa mana kuat gendong Mama," celetuk Papa melihat Eza sudah beranjak. Dibalas tawaan oleh Kak Yusuf.


Sampai di tempat tidur, Wardah terbangun. Dilihatnya Eza sudah asik menonton bola kembali di sampingnya.


"Ipad Adek mana?" tanya Wardah.


"Tidur Ay, udah ngantuk gitu," jawab Eza menarik Wardah ke pelukannya.


"Ay, belum selesai ya haidnya?" tanya Eza lirih.


"Beluum, mungkin lusa udahan," jawab Wardah sembari membalas pelukan Eza.


Menenggelamkan wajahnya di pelukan Eza memang menambah kehangatan di malam yang dingin ini. Sepertinya bukan malamnya yang dingin, tapi temperatur AC-nya yang terlalu rendah.


"GOOLLL!" teriak Eza.


Sontak Wardah menabok wajah suaminya karena kaget. Untung saja dirinya tak memiliki riwayat penyakit jantung.


"Sakit Ay," rengek Eza dengan mengusap wajahnya.


"Salah siapa ngagetin. Kan aku jadi nggak ngantuk lagi," jawab Wardah.


Wardah memilih untuk membersihkan dirinya. Ia baru ingat jika belum membersihkan wajahnya. Malam ini saatnya memanjakan wajahnya. Satu ide terlintas di pikirannya. Wardah mendekat ke arah Eza dan duduk di sampingnya. Karena kini Eza memang tengah bersandar di kepala ranjang.


"Mas, kayaknya wajahnya Mas perlu dimanjakan deh!" celetuk Wardah dengan mengelus lembut pipi Eza. Eza-nya pun hanya merespon dengan tampang tak enaknya.


"Terserah Ayang aja deh," jawab Eza pasrah.


Wardah kembali ke meja riasnya untuk menyiapkan racikan masker untuk Eza.


"Hmmm, dingin Ay... Enak," ujar Eza saat Wardah mulai mengaplikasikan ke wajahnya.


"Biar makin kinclong kulitnya," jawab Wardah.


"Emangnya ini kurang kinclong?" tanya Eza.


"Ssyuut, diem Mas... Nonton ajah!" protes Wardah.


Dengan telaten Wardah mengcover wajah Eza dengan masker racikannya. Tak bisa teriak-teriak lagi Eza, karena semakin lama, semakin kaku wajahnya. Wkwkwk.


Berhasil memoles wajah Eza, gantian Wardah mengaplikasikan untuk dirinya sendiri. Tak mau ketinggalan dong tentunya. Dirinya juga ingin semakin glowing. Jika Eza disambi dengan menonton bola, berbeda dengan Wardah yang kini kembali membuka iPad Eza untuk menonton drakor.


"Hmmm, hmm, hmmm," Eza bingung sendiri mendengar tuturan Wardah yang tak jelas. Selama bermasker ria, mereka hanya mengandalkan isyarat untuk berkomunikasi.


"Masih ada lagi?" tanya Eza setelah selesai menggunakan masker wajah.


Saat ini Wardah tengah mendudukkan Eza di depan meja riasnya. Memoleskan pernak-pernik skincare di wajah Eza. Eza menarik Wardah duduk di pangkuannya. Kasihan melihat sang istri harus berbungkuk mensejajarkan dengan wajahnya.


"Pengen cepet honeymoon," celetuk Eza sembari memeluk posesif pinggang Wardah.


"Iyaa, bentar lagi udahan haidnya," jawab Wardah.


Cup! Satu kecupan mendarat di bibir Eza hadiah dari seorang Wardah.


"Udah! Gantian adek yang skincare-an," ujar Wardah.


Wardah memutar tubuhnya menghadap ke arah kaca riasnya. Menghiraukan Eza yang masih memeluknya sembari merebahkan kepalanya di ceruk leher Wardah.


"Gelii, jangan gitu ih!" protes Wardah.


"Aku pengen nge-live deh Ay," ujar Eza mencari gawainya.


Mau tak mau Wardah memakai jilbabnya. Memakai skincare sambil menyapa followers Eza. Dengan santainya Eza memamerkan kemesraannya dengan Wardah. Dapat dipastikan para netizen kelimpungan melihat pemandangan yang disuguhkan untuk mereka.


Live itu berakhir saat Wardah mematikannya. Sebenarnya ia malu menjadi tontonan publik. Tapi Eza tetaplah Eza. Seorang selebgram dan CEO yang cukup terkenal dikalangan masyarakat luas.


"Ay, mau ngedaki gunung gak?" tanya Eza saat mereka sudah berada di tempat tidur.


"Belum pernah coba sih," jawab Wardah sembari memainkan jemari Eza yang memeluknya.


"Berangkat yuk! Mas bakalan kosongin jadwal," ajak Eza dengan semangatnya.


"Dengan senang hati," jawab Wardah dengan semangat pula.


Sudah lama Wardah ingin mendaki gunung. Tapi belum pernah terwujud. Pernah dulu ia dijanjikan sang Ayah untuk mendaki, tapi Allah berkehendak lain. Alhasil kini belum terealisasikan. Saat masih di bangku kuliah pun ia sebenarnya pernah diajak komunitasnya, tapi sang Bunda tak memberi izin sama sekali.


...Bersambung ...