Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Jln Jln


Sejak bangun tidur setelah aktivitas pribadi mereka, Wardah masih cemberut hingga sekarang. Wardah menikmati pemandangan luar dari dinding kaca kamar mandi sembari berendam. Sedangkan Eza tampak mondar-mandir di depan kamar mandi. Bingung bagaimana cara membujuk istrinya. Awalnya ia memang hanya ingin satu kali bermain dengan Wardah, tapi ternyata tak sesuai keinginan awalnya.


Eza membuka perlahan pintu kamar mandi. Ternyata tak terkunci. Dilihatnya Wardah tengah memejamkan matanya seolah tertidur. Dengan hati-hati Eza masuk ke kamar mandi mendekati Wardah yang masih berendam menikmati aroma sabun dengan terpejam.


"Ngapain masuk?" serka Wardah menyipitkan matanya melihat sang suami berjongkok di sampingnya.


Lihatlah bentuk Eza saat ini. Ia hanya mengenakan celana bokser dengan bertelanjang dada saja. Tanpa meminta izin, Eza ikut masuk ke bathtub bersama Wardah. Tentu saja Wardah terkaget-kaget dibuatnya. Dengan santainya ia memeluk Wardah dari belakang, mau tak mau Wardah menyender pada Eza.


"Jangan marah Ay..." ujar Eza menciumi ubun-ubun istrinya.


Sekuat tenaga Wardah mencoba konsisten dengan adegan mendiami Eza. Tapi merasakan perilaku suaminya yang super manja membuatnya goyah.


"Ay..." rengek Eza lagi.


"Cantik," Panggilnya lagi.


"Cantiknya akuu," sama sekali tak menyerah.


Dapat dipastikan pipi Wardah sudah merah merona kini. Percuma saja ia menutupi, Eza tetap bisa melihatnya. Wardah paling tak bisa digoda seperti ini oleh suaminya. Ditambah dengan Eza yang menciumi pipi Wardah. Wardah semakin gemas sendiri.


Wardah membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Eza. Runtuh sudah pertahanannya. Sontak Wardah memeluk Eza. Dengan senang hati Eza membalas pelukannya.


"Capek tahuu. Sakit sekarang," lirih Wardah.


"Iyaa maaf, tapi enakkan... Hahaha," jawab Eza.


Pukulan Wardah ia tujukan langsung pada suaminya itu. Bisa-bisanya bilang seperti itu.


"Itu karena baru awal Ay... Insyaallah kalau udah sering, nggak sesakit itu. Makanya kita harus sering-sering," sambung Eza.


Bukan pukulan sekali yang mendarat, bahkan berkali-kali Wardah memukul Eza. Senang sekali rasanya menggoda istrinya.


Sore ini Eza mengajak Wardah berkeliling ke desa-desa setempat. Bukan hanya berkeliling biasa, melainkan menyicipi beberapa kuliner yang banyak direkomendasikan oleh followersnya. Jika biasanya Eza mengajak Wardah dengan menggunakan mobil, kini Eza mengajak Wardah dengan menggunakan sepeda motor.


Sejak awal memarkirkan motornya, mereka berdua sudah menjadi pusat pandangan. Ternyata Eza juga terkenal di desa ini. Wardah yang belum ada satu tahun terjun di dunia entertainment ternyata juga sudah dikenal banyak orang. Setidaknya ia tak menjadi tukang foto disini. Hahaha.


"Sudah ya Buk, Mbak, saya sama istri saya mau makan dulu," ujar Eza menyudahi warga yang meminta foto.


Tak jarang pula Wardah menemukan beberapa perempuan yang bermain mata dengan suaminya. Ganjen sekali! Pikirnya. Bahkan Wardah sampai terang-terangan menunjukkan wajah tak sukanya pada mereka, jika ia tak suka suaminya menjadi bahan tontonan.


"Kenapa nggak pakai masker sama kaca mata sih!" protes Wardah saat mereka sudah duduk.


"Kalau pakai masker nggak bisa menikmati udara segar ini Ay," jawab Eza.


"Tapi aku nggak suka Mas jadi bahan tontonan cewek-cewek itu!" ujar Wardah dengan bad moodnya.


Bahkan ia sesekali menutupi wajah Eza dengan jilbabnya yang menjulur. Eza gemas sendiri melihat keposesifan Wardah. Dari awal masuk dan sesi berfoto tadi, Eza juga sudah menyadari jika istrinya tak suka.



"Banyak banget ini Mas," celetuk Wardah yang melihat porsi makanan yang mereka pesan.


"Kalau nggak habis kasih ke Mas aja ya," jawab Eza.


Meski dengan porsi yang sangat banyak, anehnya Eza masih memesan bebek goreng sebagai menu tambahan. Wardah geleng-geleng kepala melihat pesanan suaminya. Tapi sepertinya bebek goreng itu cukup menggugah selera. Hahaha.


Selesai menikmati makanan berat, kini Eza kembali memacu kendaraannya menuju alun-alun kota. Biasanya di alun-alun tersaji beraneka macam kuliner. Benar saja, sudah terlihat ramainya penjual di stand yang telah disediakan di depan pintu masuk alun-alun.


Jika tadi Eza dan Wardah tak mengenakan masker, di perjalanan Wardah bersikeras meminta Eza untuk berhenti. Tentu saja untuk membeli masker. Dengan begitu, mereka tak perlu susah payah meladeni penggemar Eza untuk berfoto.


Sudah berikhtiar menggunakan masker, tapi Wardah masih tetap saja merasa suaminya diperhatikan oleh sebagian besar pengunjung. Eza yang merasakan pelukan di tangannya semakin mengerat, segera melepaskan tangan Wardah dan menggantikan dengan genggaman di jemarinya.


"Tenang cantik, hati Mas akan tetap untuk Ayang," ujar Eza.


Wardah tersenyum mendengar tuturan Eza. Lok-Lok menjadi pilihan kuliner Eza. Beberapa sajian seafood yang dibakar itu sepertinya enak. Eza mengambil baby gurita, cumi-cumi, dan lobster untuk dibakar. Wardah masih setia di samping Eza yang masih memilih seafood dengan merangkul lengannya.


Tiba-tiba Eza merangkul Wardah. Tunggu! Tatapan Eza tampak menyeramkan kali ini. Wardah yang menyadari itu segera menoleh ke sisi kanannya. Tapi langsung dicegah oleh Eza. Tapi Wardah masih sempat melihat siapa yang ada di sampingnya. Ternyata ada Mas-Mas bersama seorang perempuan. Sepertinya itu pacarnya.


Wardah yang sadar dengan situasi ini langsung membalas melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Menyenderkan kepalanya di dada Eza. Eza mengelus lembut lengan Wardah.


"Udah punya gandengan masih aja ngelirik istri orang!" gumam Eza yang tentunya masih bisa di dengar Wardah.


"Ya itu yang aku rasain tadi," bisik Wardah dengan berjinjit.


Eza mengajak Wardah menikmati seafood pesanan mereka di sebuah bangku yang ada di tengah alun-alun. Sembari melihat anak-anak bermain di sekitar mereka. Eza juga membeli beberapa makanan untuk mereka bawa kembali ke penginapan. Sengaja Eza tak mengajak jalan-jalan Wardah hingga malam, karena esok pagi mereka harus mendaki gunung. Agenda yang sudah mereka susun.


"Dingin," lirih Wardah.


Eza yang mendengar itu segera menggenggam jemari Wardah yang melingkar di perutnya. Udara di kota ini memang cukup dingin. Mungkin juga karena kawasan pegunungan.


"Sweet banget Mas itu," celetuk Mbak-mbak yang berhenti di dekat Eza dan Wardah. Kebetulan mereka kini tengah menunggu lampu merah berubah.


"Iyaa, jadi pengeen... Kyaknya Masnya ganteng deh!" ujar temannya yang dibonceng.


Wardah yang mendengar hal itu sontak menunjukkan tatapan peperangan kepada dua orang itu.


"Syuuth, Pacarnya denger tu! Jangan keras-keras," bisik mbak itu.


"Pengen jadi mbaknya itu. Kelihatannya cantik juga. Udah cantik, pacarnya ganteng, perhatian lagi," bisik temannya lagi.


Beruntung lampu hijau segera menyala. Eza segera melajukan kendaraannya. Karena jarak antara kota dengan tempat penginapan mereka memang cukup jauh.


...Bersambung...