Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Pengusulan Berkas


Masalah pengajuan berkas adopsi anak telah selesai. Dan hampir seminggu ini cucu Om Bagas sudah berada di kediaman calon orang tua angkatnya. Om Bagas menepati janjinya untuk menyerahkan diri ke kantor polisi. Akhirnya kasus sepuluh tahun yang lalu dibuka kembali setelah sekian lama vakum. Pihak berwajib kembali mencari dua pelaku lainnya selain Om Bagas. Akibat kesaksian Om Bagas seorang pejabat wilayah berhasil masuk ruang penyidikan.


Hari ini Wardah dan Eza sudah berada di kota Jombang. Didampingi oleh kak Yusuf dan Kak Ina yang memang sudah stay di Jombang. Awalnya Wardah ingin mengajak Inayah untuk bertemu orang tuanya, tapi bocah itu tak mau, memilih untuk di rumah bersama Dinda bermain dengan bayi baru di rumah.


“Kemarin istri dari Pak Nugroho ke sini, dia menyangkal tuduhan dari Om Bagas yang menyeret dirinya dalam kasus ini,” ujar Kak Yusuf saat mereka tengah berbincang di ruang keluarga.


“Kita buktikan saja di persidangan Kak, jaksa yang Eza pilih insyaallah terpercaya,” jawab Eza. Dibalas dengan anggukan mengerti Kak Yusuf.


Lama tak bertemu langsung dengan kakaknya, Wardah rasa kakaknya terlihat lebih bugar. Sepertinya usahanya di sini sudah membuahkan hasil hahaha. Kak Ina mengantarkan Wardah ke kamarnya. Sudah lama tak digunakan membuat Kak Ina harus membersihkannya sebelum Wardah datang tadi. Rumah sebesar ini terlihat sangat sepi karena memang hanya ada Kak Yusuf dan Kak Ina saja. Ditambah mereka juga masih disibukkan dengan pekerjaan membuat mereka hanya sore hingga pagi berada di rumah. Selebihnya lebih sering menghabiskan waktu di butik atau di sekolah. Mengingat kak Yusuf yang kini menjabat sebagai kepala sekolah membuatnya lebih sibuk.


“Kakak seneng banget saat tahu kamu mau mengadopsi anak dek, biasanya kalau udah adopsi anak itu bisa memancing kita biar bisa punya anak sendiri,” ujar Kak Ina.


“Bismillah aja kak, tapi juga kasihan si kecil kalau dalam waktu dekat aku bener-bener hamil. Aku pengen merawat dia dulu, dan pengen mempererat ikatan dengan anak itu,” jawab Wardah.


“Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita,” sambung Kak Ina.


“Kakak sendiri gimana? Udah ada rencana untuk adik Inayah belum? Rumahnya sepi bener Cuma kalian berdua,” tanya Wardah.


“Rumahnya memang sepi, tapi kakak lebih sering di butik sama Kak Yusuf. Setelah dari sekolah pasti dia nyusulin ke butik,” jawab Kak Ina.




“Kamu benar-benar mengabaikan peringatan saya! Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya Bagas! Kita lihat saja bagaimana saya akan membereskan keluarga kamu! Tak terkecuali dengan cucu semata wayang kamu itu!” tegas Pak Nugroho saat berkesempatan berbincang dengan Om Bagas.



“Saya tidak takut dengan anda! Saya lebih menyesal kenapa tidak menyerahkan diri sedari dulu!” jawab Om Bagas dengan lantangnya.



Berkat pengakuan Om Bagas akhirnya dua orang yang menjadi buronan berhasil direkut begitupun dengan Pak Nugroho yang menjadi dalam dalam kasus ini. Meski nantinya ia akan dihukum mati ataupun seumur hidup, ia benar-benar sudah rela dan tak menyesal telah menyerahkan diri. Dirinya benar-benar tak sanggup terus dihantui rasa bersalah jika hal ini terus berlanjut.



...**Bersambung** ...