
"Gimana Ay perjalanan kali ini?" tanya Eza.
"Seneng bangeeet.... Aku juga bisa belajar gimana jagain suami,, hahaha" ledek Wardah.
Eza mencubit hidung pesek Wardah dengan gemes. Syukurlah Arumi tak berbuat nekat kembali. Ancaman Eza ternyata manjur juga.
Sampai di bandara Eza dan Wardah harus menunggu bagasi mereka terlebih dahulu. Semakin banyak sebab titipan Mama dan Bunda yang tak bisa dibilang sedikit. Keluar dari pintu mereka berdua sudah disambut oleh dua bocil yang berlari ke arah mereka. Inayah yang memeluk Eza dan Dinda yang memeluk Wardah. Sudah ada Mama dan Faiz juga ternyata di sana.
"Senengnya pulang liburan," celetuk Faiz menyalami Eza dan Wardah.
"Harus happy dong!" jawab Wardah yang baru saja mencium punggung tangan Mama mertuanya.
Eza kira mereka bersama supir rumah. Ternyata mobil dikemudikan oleh Faiz. Ditinggal satu minggu anak itu sudah berani mengemudikan mobil ternyata.
"Udah dapet SIM belum kok udah pakai mobil Kakak?" ledek Eza.
"SIM-nya udah lama punya. Baru kepakai beberapa hari ini aja, hehehe" jawab Faiz.
Berhubung sampai di Jakarta di waktu zuhur, mereka singgah terlebih dahulu di salah satu masjid. Tak lupa mengisi perut kosong mereka di restoran rekomendasi Mama. Restoran seafood yang menjadi pilihan mereka saat ini.
"Aunty! Mau pipis," rengek Dinda.
"Ayuk Aunty anterin," jawab Wardah yang kemudian berpamitan dan mengantarkan Dinda ke kamar mandi.
"Aunty! Nanti kita jalan-jalan yuk!" ajak Dinda saat Wardah membenarkan pakaian bocah itu.
"Boleh, tapi Aunty sama Om Eja istirahat dulu ya.." jawab Wardah.
"Yeeesss! Oke Aunty!" girang Dinda mendengar jawaban Aunty-nya itu.
Sembari memperhatikan ponakannya itu tiba-tiba fokus Wardah buyar terhadap seseorang yang sepertinya ia kenal. Sudah delapan tahun silam, tapi ia masih ingat benar wajah dan perawakan itu. Hanya terlihat semakin tua saja menurutnya. Seolah dirinya menolak lupa.
Hampir sampai di mejanya tiba-tiba Wardah melangkahkan kakinya menuju meja laki-laki paruh baya yang duduk sedikit lebih jauh darinya. Eza yang melihat istrinya berjalan menjauh sontak berdiri mengikutinya. Dinda ia serahkan kepada Mamanya.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya laki-laki paruh baya itu saat Wardah sudah berdiri di depan mejanya. Tampaknya laki-laki itu sedang bersama cucunya.
Eza mengelus lembut pundak Wardah untuk menyadarkan. Pasalnya ia bingung kenapa tiba-tiba istrinya menghampiri laki-laki itu.
"Om! Om nggak kenal saya saya? Dengan semudah itu Om melupakan kejadian atas Ayah saya?" tanya Wardah dengan suara gemetarnya menahan tangis yang tiba-tiba menyeruak.
Sontak Bapak itu terperangah mendengar tuturan Wardah. Dilihatnya pasat-pasat manik mata Wardah, dan benar saja! Ia kenal dengan pemilik mata indah itu. Dengan tahi lalat di sudut matanya. Ia tak pernah sekalipun melupakan tragedi itu. Ia bahkan menutupi rasa bersalahnya sedalam mungkin. Dan kini ia harus kembali bertemu dengan gadis cilik yang ia sakiti hati dan psikisnya lewat Sang Ayah.
Bapak itu berdiri menyentuh tangan Wardah hendak memberikan penjelasan. Sontak Wardah menepisnya dengan Eza yang bersiap untuk bertindak. Meski dirinya sendiri belum tahu permasalahan seperti apa ini.
"Tolong nak, berikan Om waktu untuk menjelaskan semuanya... Om benar-benar ingin membongkar semuanya pada keluarga kamu, tapi kalian sudah pindah dari rumah lama. Bertahun-tahun Om mencari kamu setelah keluar dari penjara," lirih Bapak itu.
Tangis Wardah sudah menghampirinya. Kenangan-kenangan memilukan dulu kembali menghantuinya. Ia bahkan sudah tak fokus dengan tuturan laki-laki di depannya. Bertumpu pada lengan Eza Wardah sudah tak sanggup menompang tubuhnya. Dengan sigap Eza membopong Wardah yang sudah tak sadarkan diri.
"Hubungi saya segera setelah ini! Jangan berharap anda bisa lolos jika mengabaikan saya!" tegas Eza memberikan kartu namanya sebelum bergegas membopong Wardah.
"Mama! Cepetan Ma! Faiz! Buruan ke rumah sakit!" tegas Eza memanggil Mamanya dan Faiz.
Belum sempat menikmati makanan, mereka sudah dikejutkan dengan Eza yang membopong Wardah keluar dari restoran. Dengan cekatan Faiz berlari mendahului Eza segera membukakan pintu mobil.
Dua bocil yang bersama Mamanya sudah panik mencerca neneknya dengan berbagai pertanyaan dan kebingungan. Bahkan Dinda sudah merengek takut melihat Aunty-nya yang pingsan dibopong Eza.
...Bersambung ...