Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Uneg-uneg


“Saya tahu. Saya tahu sekali. Karena pembelajaran materi tersebut sudah diajarkan. Bahkan yang mengajarkan itu semua anda. Pada beberapa tahuun lalu,” Jawab Wardah. Ini adalah kesempatan untuk membicarakan jalan kedepan rumah tangganya.


“Jika anda ingin bertanya lantas kenapa saya melakukan itu. Saya akan bertanya juga: Kenapa anda menjadikan saya seperti ini. Seolah menjadi tawanan rumah tangga, seolah saya hanya sebuah pajangan yang tidak diakui keberadaannya oleh anda?”


"Apa sebenarnya motif anda melakukan hal ini? Apa salah saya? Kenapa saya seolah menjadi tawanan disini? Jawab Mas! Jawab! Jawab!" Wardah tak dapat membendung tangisnya lagi. Bahkan kini ia sudah berlutut di hadapan Aibil.


Aibil menyentuh kedua lengan Wardah. Membimbingnya agar bangkit. Aibil menuntun Wardah untuk duduk disisi tempat tidur. Wardah masih setia dengan sesenggukannya.


"Maaf..." Hanya itu yang keluar dari bibir Aibil.


Wardah memilih keluar dari kamar. Percuma! Ia sudah mengeluarkan semua uneg-unegnya tapi sang lawan belum berniat untuk menjawab.


Wardah memilih untuk menenangkan diri di dapur. Ia tak sanggup jika melihat wajah suaminya.


"Aku harus bagaimana? Bahkan aku menikah belum ada satu bulan. Dari awal menikah sampai saat ini pun tak ada bumbu percintaan sama sekali." Batin Wardah menceruak.


Wardah memilih untuk membuat coklat panas agar lebih relaks pikirannya. Disesapnya perlahan sembari menikmati perjalanan. Di balik jendela terlihat lampu-lampu yang terpancar dengan indahnya. Mereka sedang berada di kawasan kota memang. Selang beberapa saat sepertinya tenga melewati kawasan perkebunan pohon jati. Tak ada pencahayaan selain lampu bus.


Wardah mulai merinding melihat balik jendela kaca itu bagaimana jika ada.....


Hendak kembali ke kamar pun tak ingin rasanya. Malas bertemu orang itu. Oke! Wardah sudah tak berani sendirian di sini. Dialihkannya pandangan di dalam mobil. Sepi! Hanya deru mesin yang terdengar. Fiks! Ia harus kembali ke kamar.


"Tidurlah, ini sudah larut malam," Ujarnya setelah Wardah membuka pintu.


Wardah sama sekali tak memberi respon. Wardah segera mengambil baju ganti dan ke kamar mandi. Ia kembali sudah mengenakan baju dress rumahan dan jilbab sorong polos yang nyaman digunakan untuk tidur. Direbahkannya tubuhnya yang malang dan hati yang tengah tak baik-baik saja. Semoga esok bisa lebih membaik. Aammiiin...


Jangan lupa! Wardah membelakangi Cak Ibil kali ini. Ia tak sanggup melihat wajahnya yang sok polos itu!


Wardah ingin segera berganti hari! Anisa dan Farhan segera ke tempat Mbah Kakungnya. Dengan begitu, ia bisa mengenakan kamar mereka tanpa harus seranjang dengan manusia tak jelas itu.


Jangan harap rencana bulan madu yang direncanakan Anisa dan Mas Farhan dapat berjalan dengan lancar. Karena Wardah sudah bertekad akan menjauh dari Cak Aibil.


Hanya rencananya. Ia tentu saja tak ingin mengecewakan sahabatnya. Ia akan berlakon seolah menjadi istri yang baik dihadapan publik. Mengingat mereka masih ada rombongan Universitas. Kan gak lucu kalau Wardah mengabaikan suaminya dihadapan publik.


Terasa seseorang menaiki ranjag. Sepertinya Cak Aibil itu.


"Maaskan saya Wardah, saya yang membuat kamu menderita karena saya! Saya akan menjelaskan semuanya di saat yang tepat," Lirihnya. Mungkin ia mengira Wardah sudah pulas tertidur.


"Begitu saja terus! Mau sampai kapan?" Batin Wardah.


Bersambung...