Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Satu


Dua puluh February dua ribu dua puluh.


Aku membulatkan niatku keluar dari kota kecil tempat di mana aku dilahirkan, dan tempat banyak orang yang menyayangi diriku. Aku ingin pergi ke Tokyo, kota yang besar dan megah penduduk demi mewujudkan impian menjadi seorang seniman.


Pagi yang disinari oleh mentari sungguh terlihat sangat indah dan cerah. Aku membereskan barang-barang yang ingin aku bawa bersama koper pink kesayanganku. Dari semalam ibu sudah mengingatkan untuk membereskan barang bawaan, sudah aku lakukan dari kemarin, hanya saja waktuku habis untuk mempertimbangkan karya-karya yang akan ikut bersamaku ke Tokyo. Nan kini diriku masih sibuk membereskan pakaian.


Di tengah kesibukanku memilih bikini mana yang akan aku bawa, ibu membuka pintu kamarku dengan Tataan rambut yang masih tergulung dan mengenakan daster tipis tidurnya. "Ya ampun Dinaaa. Dari semalam bukannya ibu sudah ingatkan? Kamu ngapain aja coba? sampai sekarang mandi pun belum karena kesibukan beres-beres." Ucap ibuku. Aku sejenak memalingkan pandangan pada ibu, namun seketika juga pandanganku terpaku pada cermin yang berada di sebelah ibu berdiri. Aku memandang sejenak diriku dengan rambut yang berantakan bagai tumpukan jerami padi dengan atasan tantop hitam serta bawahan shot mini. Kacau sekali diriku saat ini. Batinku semari melanjutkan pekerjaanku.


Terdengar langkah cepat ibu menghampiri diriku. Tangannya menepuk pundak ku dan seketika itu aku berfikir bahwa dia akan memarahi aku. Tapi nyatanya Tidak. Ibu menyuruhku mandi dan menata rapi diriku sementara ibu yang akan melanjutkan mengurus pakaianku. "Terimakasih Bu." Ucapku sambil bangkit dan berjalan cepat mengambil wash towel dan menuju ke kamar mandi yang ada di dapur.


Begitu memasuki ruang tengah, aku melihat tudung saji yang ada di meja makan dan mengintip isinya "Ternyata sudah ada." Ucapku sambil berjalan. Aku melihat ke arah jam dinding karena aku ingin tau sudah pukul berapa sekarang. Aku sedikit syok melihat jarum jam yang panjang tertuju pada angka dua belas dan waktu menunjukkan sekarang sudah pukul delapan tepat.


Aku masuk ke dalam kamar mandi lalu keluar setelah beberapa saat dengan keadaan rambut yang basah dan kulit yang lembab serta muka yang segar. Itu menandakan aku siap memulai hari baruku. Mengingat waktu yang terus berjalan, aku mempercepat langkahku dari kamar mandi yang ada di dapur menuju ke ruang tengah tempat meja makan. Begitu masuk ke ruang tengah, aku melihat meja makan yang semula kosong kini telah terisi penuh dengan bau dan asap rokok ayah, yang menggunakan menggunakan kaca mata sambil membaca News Paper dan disertai segelas putih kopi wangi. Aku berjalan cepat menuju meja makan dan duduk bersebrangan dengan ayah, dengan bath towel yang mengembang lebar dari bahu kanan hingga ke kiri menutupj dadaku.


"Apa dirimu yakin tidak ingin berkuliah terlebih dahulu?" ucap ayah sambil membaca News Paper dan mematikan puntung rokok miliknya. Aku terdiam. Memberi jeda yang panjang sambil menyendok nasi dan sayur yang tersedia di bawah tudung saji ke diner plate. "Jawab ayah!" sambungnya tegas. Aku berhenti dari kegiatan ku sejenak, dan meletakkan spoon di sisi sebelah kanan plate. Sejenak aku menatap ke arah ayah yang masih sibuk membaca News Paper yang ia pegang. "Aku mungkin butuh yang namanya kuliah yah. Namun, ayah juga tau sendiri bukan? di tempat kita hidup sekarang ini, gelar dan tingkat pendidikan tidaklah berharga dibandingkan dengan uang." Ucapku sambil menyeduh segelas teh untuk diriku.


"Baik lah kalau memang itu keputusan yang kamu buat." ucap ayah sambil meminum tegukan terakhir kopi miliknya dan melipat news paper yang ia baca di atas meja. Ayah mengeluarkan napas panjang dan memberiku amanah tentang bagaimana rasanya hidup jauh dari orang tua di kota besar. Aku harus bisa menangani itu secara mandiri.


Semari aku makan sambil aku mengunyah dan sambil aku mendengar ayah berbicara. Di ujung amanah dan di kunyahan terakhirku, aku mengambil segelas teh yang sudah aku buat sebelumnya. Menggenggam nya dengan kedua tanganku. Mencium aromanya yang sungguh sangat manis dan lembut serta me re-fress otakku. Aku tau ayahku. Sepanjang apa pun dirinya berbicara, inti poinnya akan tetap sama. Aku mengerti ayah sungguh khawatir kalau sampai putrinya hancur, aku paham itu.


Sekita ibu datang di akhir penghujung suasana antara Baginda Raja dan Tuan Putri. Mengingatkan diriku tentang waktu yang terus berjalan. Aku langsung beranjak dari kursi meja makan dan membawa semua perlengkapan makan yang aku kenakan, tidak lupa dengan shot glass yang telah ayah gunakan. Membawanya ke washing plate lalu meniriskan nya di tempat peniris.


Usai itu aku berjalan cepat menuju kamar. Sesampainya di kamar aku membuka pintu dan melihat kamar kesayangan ku yang sebelumnya ramai dan nyaman, penuh dengan hasil karya-karya yang aku buat. Namun kini hanya menjadi ruang tempat tidur dengan sebuah lemari yang kosong dan hampa.


Beberapa waktu kemudian, aku keluar dari kamar dengan hair style poni selamat datang dan kunciran belakang ala ekor kuda. Mengenakan sweater putih berlengan panjang dan celana caper hitam slim. Serta sepatu flat shoes hitam dengan cincin silver sebagai hiasan di kepalanya, dan membawa keluar koper pink kesayanganku.


Aku berjalan cepat menuju ke pintu keluar. "Apa masih ada yang tertinggal?" Ucap ayah begitu melihat aku tiba di teras. dengan baju kemeja kotak-kotak yang ia kenakan dan celana jins biru laut serta sepatu loafers di bagian kakinya. Belum sempat menjawab apa yang ayah tanyakan, ayah langsung berlari kecil ke arah diriku "tunggu sebentar," ucap ayah sebelum kembali masuk ke rumah. Aku mengintip dari pintu luar, ayah sedang kocar-kacir memastikan semua jendela dan pintu tertutup rapi serta peralatan elektronik yang aktif dalam keadaan off.


Aku mengulurkan tangan mengambil tas yang ibu genggam. Aku bersyukur dan berterimakasih pada ibu karena di tas sandang ku isinya kartu kartu berharga dan di Rangsel ada p3k dan make up.


...----------------...


Setibanya di stasiun kereta, ayah mengamankan barang bawaan milikku, sementara ibu memberikan senyuman sehangat mentari dan memotivasiku agar tetap menjadi gadis yang kuat baik dan tegar. Aku menikmati perdetiknya mendengarkan ibu dan juga ayah. Hingga waktu perpisahan telah tiba. Gerbong keretaku sudah tiba dan semua tamu di persilahkan untuk mengambil tempat duduk sesuai tiket. Seketika itu suasana hati kecilku berubah. Aku melihat kedua orang tuaku yang berdiri tepat di hadapanku. Dengan senyuman lebar aku merangkul mereka berdua. Wajahku masih bisa tersenyum, namun tidak bisa lepas. Dadaku sakit perih namun tidak berdarah. Hati kecilku bagaikan di peras dengan sangat kuat. Namun aku harus tetap terlihat tegar di hadapan mereka.


"Selamat tinggal ayah, ibu. sampai jumpa lagi." ucapku pada panggilan terakhir.


"Hati-hati ya anak ku sayang. Jaga dirimu, jangan sampai dirimu rusak, karena kamulah harta yang paling berharga bagi kami. Jika dirimu lelah, beristirahat lah sejenak. Jika dirimu tidak tau, banyak banyak lah bertanya. Jika dirimu jatuh, bangkitlah. Jika dirimu sudah di atas, menunduklah. Jika hidupmu pas-pasan, bersyukurlah atas apa yang kamu miliki. Dan jika kamu rindu, Pulanglah, Pintu akan selalu terbuka lebar untuk menyambut kepulangan mu. Ibu, kata-katamu akan selalu ku ingat di banahku. Kan ku ingat kemana pun aku pergi.


...----------------...


Selama perjalanan, di dalam kereta aku duduk sambil memangku dagu dan menatap ke arah luar kaca kereta. Melihat pemandangan yang sungguh indah. Pemandangan yang berkombinasi antara gunung dan sawah yang hijau di lerengnya dan terangnya cahaya sang Surya di langit biru tidak berawan. Membuat diriku yang sedari tadi menangis dalam sepi kini kian membaik.


Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja dan menegakkan punggung di sandaran kursi. Mencoba menenangkan diriku dan batinku dengan menarik nafas sedalam dalamnya lalu menghembusnya dengan panjang, begitu terus ku ulangi sampai 3X.


Usai itu Aku mengambil handphone dari dalam tas sandang kecilku dan meninggalkan sepucuk pesan pada sahabat lamaku.


*Eh say, Aku berangkat yah. Sampai ketemu nanti.


Oh iya say, tentang kontrakan yang kita bahas kemarin...


tolong kirimkan alamatnya please 🙏🙏🙏*


Melihat setatus Lina saat ini sedang Off, aku kembali memasukkan handphone kedalam tas kecilku dan mengeluarkan buku gambar dari ranselku bersama dengan beberapa alat gambar minim lainnya yang sebelumnya sudah aku selipkan di kantong kecil ranselku. Aku menggambar apa yang terlintas di benakku serta berharap di kehidupanku semuanya akan baik baik saja dan rencana ku akan berjalan dengan lancar.