Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
...


"Dek?" Suara barington menggema di area ruang tunggu.


"Eh! Kakak!" Sekian lama tak bertemu sosok pengganti Ayah itu. Wardah berlari menghambur pada perlukan pemilik dada bidang itu.


"Udah lama nunggunya?" Tanya Kak Yusuf sedikit mengurai pelukan keduanya. Mengusap dengan sayang pipi cubi milik adik kecilnya itu.


"Lumayan, tapi tadi dedek ditemani bapak supir itu. Tunggu yaa, dedek mau ucapin makasih dulu sama bapaknya," Jawab Wardah. Memang begitulah Wardah, kelihatannya saja yang mandiri, tegar, serba bisa, tapi nyatanya selalu manja jika sudah bersama sang kakak.


"Kakak ikut!" Ujar Kak Yusuf.


"Terima kasih Pak sudah menjaga adik saya... Pangapunten e kalau Wardahnya ngrepotin," Ujar Kak Yusuf setelah menyalami bapak di kursi tunggu itu.


"Iyaa, sama-sama Mas... Kasihan juga Neng-nya kalau bawa barang ini sendirian, hehehe," Jawab bapak itu.


"Kalau begitu kami permisi dulu ya Pak, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam," Jawab bapak itu.


.


.


.


"Wuiiiih! Mobil baru nih!" Seru Wardah ketika sang kakak mengajaknya menghampiri mobil berwarna merah keluaran 2018.



"Alhamdulillah, setelah nabung akhirnya bisa beli juga. Kalau Bunda pergi-pergi biar gak kepanasan lagi dek," Jawab Kak Yusuf sambil membukakan pintu untuk adiknya.


"Alhamdulillah, ajarin dedek ya Kak," Pinta Wardah.


"Boleh, kalau kamu lama di rumahnya... Kalau cuma seminggu yaa gak tahuu," Jawab Kak Yusuf.


"Iya juga sih, gak tahu sampai kapan di rumahnya..." Lirih Wardah.


Kedua kakak beradik itu mulai meninggalkan kawasan parkiran terminal. Membelah jalanan yang alhamdulillah cukup lancar terkendali. Sebenarnya Wardah sangat bahagia saat Bunda memintanya untuk pulang. Tak dapat dipungkiri, ia begitu rindu.


"Huussh, gak sopan. Belum ketemu Bunda masak udah mau main-main. Besok aja, Kakak anterin," Jawab Kak Yusuf.


"Oke!" Jawab Wardah.


Tak ada kata sepi di mobil yang tengah melaju itu. Wardah terus saja menanyakan kondisi rumah setelah sekian lama ia tidak pulang. Tentu saja ia juga kepo dengan ponakannya yang beberapa hari lagi akan masuk sekolah dasar. Ia bertekad akan ikut sang kakak ipar untuk mengantarkan.


"Kamu sayang banget sama Inayah, terus kapan mau punya anak sendiri?" Tanya Kak Yusuf yang penasaran dengan pernikahan adiknya. Pasalnya adiknya itu kalau tidak salah sudah 3 bulan menikah, eh! Salah tidak ya? Ntah lah...


"Doakan saja Kak. Oh iya! Bunda kenapa sih kok nyuruh dedek pulang? Harus pulang sendiri pulak," Tanya Wardah.


"Lagi kangen mungkin. Bunda pengen quality time sama dedek," Jawab Kak Yusuf.


Iya mungkin. Sudah lama Bunda dan anak itu tak bertemu. Bunda pasti kangen dengan Wardah. Kini di dalam mobil hanya terdengar lantunan sholawat. Wardah dan Kak Yusuf diam membisu berkelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Wardah yang awalnya akan mengabari Anisa, ditundanya. Ia akan membuat surprise kedatangannya secara tiba-tiba. Hahaha, tunggu saja tanggal mainnya.


.


.


.


Mereka sampai rumah sekitar pukul empat sore. Sudah ada Bunda di depan rumah yang sudah siap sumringah menyambut kedatangan putri cantiknya itu.


"Assalamu'alaikum," Sapa Wardah dan Kak Yusuf setelah turun dari mobil.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Bunda dan istri serta anak kecik dari Kak Yusuf.


Tak terasa, air mata Wardah menetes dengan sendirinya. Tiba-tiba terngiang saat-saat sang Bunda yang menangis saat pernikahannya. Tak tahu, tiba-tiba ingat akan hal itu.


Bunda memeluk dengan sayang Wardah.


...Bersambung.... ...