
Ia tampak duduk berjongkok di hadapan Wardah. Ntah apa yang ia pikirkan. Ia tampak melihat dengan tatapan intens. Ia membenarkan posisi tidur Wardah agar lebih nyaman.
Hingga suara gaduh membuyarkan niatan memperhatikan lebih lanjut. Ketika hendak beranjak, tiba-tiba lengannya ditahan Wardah.
"Bun, sebentar..." igau Wardah dengan memeluk erat lengan laki-laki itu. Alhasil laki-laki itu duduk di karpet bawah. Tak mudah melepaskan pelukannya ternyata.
"Eh!Pak Adit ngapain itu?" Caca terkaget melihat posisi bos sekaligus teman pacarnya itu.
"Jangan ambil kesempatan bro!" Timpal Hito.
"Apasih kalian ini! Aku tadi mau benerin tidurnya ni anak mau jatuh. Eh malah dikelonin!" Alasan laki-laki itu yang ternyata bernama Aditya.
"Tahu aja ni bocah kalau masih jomblo bos gua," Celetuk Caca yang kemudian membantu Aditya melepaskan pelukan di tangannya.
"Turun gaji bulan depan kamu," ujar pak Adit.
"Ampun bos!"
Setelah dua orang laki-laki itu pergi, Caca mengambil selimut di kamarnya dan memakaikan pada Wardah. Biarlah ia istirahat, esok Wardah langsung masuk ke kantor. Benar-benar itu Aditya, nggak mau memberikan waktu istirahat untuk Wardah.
.
.
.
Sayup-sayup Wardah membuka matanya. Hidungnya mengendus aroma makanan yang sepertinya menggugah selera.
Glubrak!
"Aduuuh," Wardah terguling dari sofa. Yang lebih mengenaskan, jidatnya benjol menabrak meja.
Diusapnya perlahan, bukan main, ternyata benjol beneran. Nyut-nyutan rasanya. Wardah melipat selimut yang dikenakannya. Barulah ia mencari sumber bau yang sedap ini.
"Udah dari tadi, lu-nya aja yang ngebo!" Jawab Caca.
"Nape jidat lu?" Tawa Caca menggelegar.
"Kejedot meja tadi, aku bantuin apa nih?" Tanya Wardah.
"Lasak banget dah tidurny. Siapin piring sama nasinya di meja makan aja deh, bentar lagi mateng nih," Jawab Caca.
Wardah menuruti. Dibukanya satu persatu laci untuk mencari piring dan perintilannya. Benar saja, tak perlu menunggu lama, selesai juga acara masak memasak Caca. Kalau di rumah jangan harap Wardah bisa terima bersih seperti ini. Jadi sekarang puaskan diri, mumpung ada yang melayani. Hahaha.
"Besok langsung di suruh masuk ke kantor. Langsung dapat posisi edit naskah berita elu. Gantiin karyawan yang resign," Ujar Caca.
Ya ya ya, Wardah memang diterima di perusahaan penyiaran tv. Ia sebelumnya memang pernah menjadi penyiar radio di pesantren waktu SMA. Selain itu, ia juga pernah ditunjuk untuk belajar kepenyiaran selama satu bulan sebagai perwakilan sekolah. Ya itu menjadi kunci pengalamannya untuk daftar di perusahaan ini. Tak disangka ternyata diterima. Ia pun tak yakin masih mengingat ilmu-ilmu itu atau tidak.
"Aku belum paham mengenai hal kayak itu Ca," Ujar Wardah.
"Tenang, ntar ada mentornya kok. Anggap aja elu lagi magang. Tapi nggak lama, mungkin cuma dua minggu aja, seterusnya elu bakal dilepas. Jadi harus bener-bener belajar. Oh iya! Sekalian besok tanda tangan kontrak kerja," Jelas Caca.
"Kamu mau bantuin aku kan nanti?" Tanya Wardah.
"Nggak bisa zeyeng, aku di bagian divisi pemasaran. Kamu di divisi news." Jawab Caca.
"Besok setelah pulang kerja, kita survey apartemen kamu." Sambung Caca.
"Apartemen?" Tanya Wardah bingung. Mana kuat dirinya membayar apartemen.
"Aku udah siapin apartemen buat kamu. Biasa aja mukanya!Sesuai budget kok. Yang punya orang deket aku soalnya. Nggak deket banget sih, tapi dia baik mau nawarin. Berkat rayuannya Hito pastinya," Jawab Caca.
Wardah manggut-manggut mengiyakan. Harus mempersiapkan diri dengan baik. Awas saja kalau mahal! Bakal cari kos-kosan sendiri aku besok.
...Bersambung......