
Setelah puas mengistirahatkan diri, Eza membantu Wardah untuk menata barang-barang mereka.
“Kita ke liling pantai yuk Mas?” ajak Wardah.
“Boleh, Mas beli minuman dulu ya? Ketemuan di jembatan resort,” jawab Eza
Acara pemberesan barang sudah selesai, Eza langsung pergi mencari minuman dan makanan pendamping untuk menemani jalan-jalan mereka di sekitar pantai atau resort. Cukup ramai ternyata di swalayan yang dipilih Eza. Beruntung di pulau singgahan mereka ada swalayan. Sehingga tak bingung mencari bahan makanan dan peralatan yang diperlukan pengunjungnya. Bahkan ada café juga di samping swalayan ini. Kurang lebih lima belas menit, akhirnya pesanannya selesai juga. Satu plastic di tangan kanan, dan satu plastic lagi di tangan kirinya. Sudah seperti anak kecil pulang membawa jajan. Hahaha.
Eza langsung berjalan ke jembatan yang ia maksud. Sesuai dugaannya, Sang Istri sudah menunggu di sana. Tampak Wardah tengan menikmati pemandangan di depannya. Sehingga tak sadar dengan kehadiran Eza. Jelas saja, Wardah membelakangi Eza, makanya takt ahu kehadiran laki-laki itu. Eza menata makanan dan minuman di meja yang memang disediakan di dekat jembatan. Barulah ia menghampiri Wardah.
“Maaf Ay antri di kasirnya tadi, nungguin lama ya?” ujar Eza yang langsung memeluk Wardah dari belakang.
Wardah yang dipeluk pun tak merespon apapun. Eza semakin memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di leher Wardah yang terhalang jilbab. Sepertinya parfung Sang istri baru, piker Eza. Pasalnya aroma yang tercium oleh Eza merupakan bau yang baru menurutnya.
“Mas Eza!” suara yang sangat familiar untuk Eza.
“Sayang? Kamu--” Eza terkaget melihat istrinya yang baru saja memanggilnya.
Dibaliknya tubuh wanita yang barusan ia peluk.
JDERR!
Seolah petir baru saja menyambarnya.
Wajah Arumi yang terpampang di sana. Sontak Eza mendorongnya dan langsung menghampiri Wardah yang masih syok tak percaya jika suaminya memeluk wanita lain.
“Sayang… aku beneran nggak tahu kalau itu bukan kamu! Aku kira itu beneran kamu Ay, aku berani sumpah!” bela Eza.
“Aku ke kamar dulu ya Mas…” lirih Wardah melepas jemari Eza yang merengkuh pundaknya.
Eza mengikuti Wardah berjalan, dengan berusaha menggenggam jemarinya. Yang membuat Eza heran kenapa Bu Arumi diam saja saat dipeluk dengan tak sengaja oleh Eza? Kenapa juga seorang Arumi tiba-tiba memakai jilbab dengan gaya persis milik Wardah?
“Iyaa Mas, aku percaya sama Mas, kita ngobrol di kamar ya, dada aku masih sesek,” ujar Wardah menenangkan Eza yang super panik ingin segera menjelaskan kronologinya.
Sampai di kamar tangis Wardah langsung pecah. Momen-momen perpisahan kembali terngiang. Eza langsung menarik Wardah dalam dekapannya. Bodoh! Benar-benar bodoh rutuknya pada diri sendiri. Eza bahkan tak mengelak sama sekali saat Wardah terus memukul dadanya.
“Sayaang, maafin aku,” lirih Eza. Tak ada kata yang keluar selain kata maaf.
Sedangkan Arumi kini tengah menyeringai setelah pasutri itu meninggalkannya. Dengan santai dirinya duduk di kursi yang tersedia di sisi jembatan. Ia bahkan dengan santainya meminum minuman yang dibawa Eza tadi.
Setelah cukup lama menangis, mereda juga tangisnya, kini Eza tengah mengelus kepala Wardah yang menyender di dada bidangnya. Wardah duduk dipangkuan Eza tepatnya di sofa teras kamar mereka yang menghadap langsung ke laut. Eza sengaja diam memberikan waktu untu istrinya agar lebih tenang.
“Mas sayang banget sama anaknya Bunda yang satu ini. Sampai kapan pun, dan nggak bakal ada yang gantiin,” jawab Eza.
“Izinkan Mas untuk menjelaskan Ay…” lirih Eza lagi. Wardah mengangguk menyetujui.
“Aku pikir yang berdiri di pinggir jembatan tadi kamu Ay. Tanpa pikir Panjang Mas langsung memeluk dari belakang. Mas sempet berfikir parfumnya berbeda, tapi justru mas ngira kalau kamu membeli parfum baru Ay,” ujar Eza.
“Kalau aku bilang, aku ngerasa kalau Mbak Arumi suka sama Mas Eza, Mas percaya nggak?” tanya Wardah.
“Ay, kita nggak tahu isi hati Mbak Arumi, kalaupun memang iya dan prasangka kita benar, Mas akan lebih hati-hati dan menjaga dengan dia,” jawab Eza.
“Tapi yang buat Mas bingung juga, kenapa Bu Arumi nggak protes saat Mas peluk? Dia tiba-tiba juga pakai jilbab dan gayanya sama kayak kamu,” sambung Eza.
“Aku nggak mau bahas perempuan itu lagi. Nanti kita minta maaf aja ya Mas, takutnya Mbak Arumi tado juga syok, makanya makanya nggak protes,” ujar Wardah akhirnya.
Eza mengangguk dan kembali mengeratkan pelukannya. Rencananya bermesraan sore ini gagal total. Hanya gara-gara kesalahannya yang sangat fatal itu. Eza harus meluruskan hal ini. Ia tak ingin kedepannya terjadi hal yang sama. Eza yang awalnya ingin langsung sholat tapi dicegah langsung oleh Wardah. Ia meminta kepada Eza untuk mandi kembali demi menghilangkan sisa-sisa bekas pelukannya.
Di sinilah mereka sekarang. Berkumpul di tempat makan resort. Fiona awalnya memang tak tahu, tapi sepertinya anak itu sudah kepo pada Wardah.
“Oke, karena sudah kita sudah berkumpul di sini semua, langsung saja ya! Maaf makan malam kali ini sedikit lebih canggung, saya pribadi dan istri saya minta maaf pada Mbak Arumi atas kesalahpahaman sore tadi. Saya jamin nggak akan terjadi yang kedua kalinya setelah ini. Itu semua murni kecerobohan saya. Fiona, maaf juga ya kamu harus mengetahui kesalahpahaman ini,” ujar Eza sembari meremas jemari Wardah yang duduk di sampingnya.
“Saya juga minta maaf dengan Mbak Wardah, saya tadi cukup terkejut mendapat perlakuan itu. Saya sampai bingung akan melakukan apa,” ujar Arumi dengan muka bersalahnya.
“Iya Mbak, saya maafkan, saya juga minta maaf,” lirih Wardah.
Mereka melanjutkan makan malamnya seperti biasa.
“Ehm!”
Eza terjingkat kaget saat ada yang berdeham Ketika dirinya keluar dari kamar mandi. Arumi ternyata. Wanita itu mengisyaratkan kepada Eza untuk mengikutinya. Mau tak mau Eza mengikutinya. Ada yang tak beres filingnya mengatakan. Eza harus benar-benar harus menyelesaikan permasalahan ini.
“Saya pikir itu hanya firasat belaka istri saya, ternyata semuanya benar. Maaf Mbak, saya tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Saya tidak melarang Mbak menyukai siapapun. Tapi tolong jangan ganggu keluarga saya. Sampai kapan pun hati saya tidak akan pernah berpaling dari istri saya. Penantian Mbak akan saya pastikan sia-sia,” tegas Eza.
Dengan nekatnya Arumi menyatakan perasaannya pada Eza. Bahkan ia menawarkan dirinya menunggu perpisahan Eza dan Wardah. Bahkan ia menawarkan diri menjadi simpanannya. Sungguh picik wanita itu. Eza langsung pergi meninggalkan wanita itu.
“Anda akan menyesal jika bertindak semena-mena pada istri saya!” tegasnya sebelum benar-benar pergi.
...Bersambung ...