Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Molor


...Mohon maaf kepada para pembaca Lhu-Lhu... Lhu-Lhu baru bisa up lagi. Suasana hati yang gundah gulana dan dua hari lagi mau ujian sempro, cukup membuat pikiran Lhu-Lhu buntet dalam mengarang cerita. Eeaakkkk!...


...Maaf ya preend.... πŸ™πŸ™πŸ™...


...Doakan Lhu-Lhu semoga selalu lancar belajarnya dan selalu bersama dengan orang-orang yang baik hati dan tidak sombong....


Acara resepsi berlangsung hingga menjelang isya'. Tapi Wardah yang kini sudah lelah, harus menemani sang suami menyapa teman-temannya. Kini mereka para anak muda sudah berada di rooftop hotel. Ternyata teman-teman Eza sudah menyiapkannya. Untung saja Wardah sudah mengganti gaunnya. Jika tidak, dapat dipastikan keribetan yang hakiki nantinya.


Para laki-laki tengah membakar jagung sembari mengobrol ria. Sedangkan Wardah, Caca, dan beberapa pasangan dari mereka tengah menyiapkan barbeque.


"Jadi kalian itu ketemu waktu kerja?" tanya Elsa teman Eza.


"Iyaa Mbak, hehe," jawab Wardah.


"Pertemuan dua insan dari Jakarta dan Jombang, hahaha," sambung temannya yang lain.


Wardah cukup canggung di sini, tapi ia mencoba untuk dapat akrab dan menutupi kecanggungannya. Untung saja masih ada Caca yang dikenalnya.


Grepp!


Eza memeluk Wardah dari belakang. Saat ia tengah mengobrol dengan Caca sembari memanggang daging tipis itu. Sontak Wardah terkaget-kaget dibuatnya. Yang lain sedang berduaan dengan pasangan masing-masing menikmati jagung bakar yang sudah matang.


"Kok nggak nyamperin Mas sih?" tanya Eza.


"Woy! Jangan pamer kemesraan sama gua dong!" protes Caca.


"Apa sih sayang, kan ada aku," jawab Hito merangkul pundak Caca.


Wardah menyodorkan potongan daging ke mulut Eza yang masih memeluknya. Dengan senang hati Eza menerimanya. Perkumpulan mereka berlanjut hingga tengah malam. Berbagai permainan juga mendominasi di malam ini. Seperti saat ini, Caca tengah memutar botol sirup cap marjan. Dan berulang kali pula, Eza kembali mendapatkan tantangan ataupun pertanyaan.


"Truth or dare?" tanya mereka serempak.


"Dua-duanya dah!" jawab Eza dengan lantangnya.


"Hahaha! Sampe bosen gua lihat Eza aja yang kena," celetuk Diko teman Eza.


"Siapa first love lo?" tanya Elsa spontanitas.


"Wah! Wah! Wah! Mancing aje Elu mah," protes Eza.


Wardah yang di samping Eza mulai memasang wajah serius mode on memandang ke arahnya. Tak dapat dipungkiri, ia juga penasaran akan hal ini.


"Tenang Ay... Mas nggak ada First Love kok. Cuma cinta monyet biasa, Maskan nggak pernah pacaran Ay," Ujar Eza.


"Jangan percaya Dek, tu orang pernah suka ama Mbak-Mbak santri di pesantrennya dulu," balas Diko. Wardah dan Caca memang yang paling muda di antara mereka. Tak heran jika teman-teman Eza memanggil mereka dengan sebutan dek.


"Dik! Lo mau innalihi di hari pernikahan gua?" ancam Eza.


Terus saja mereka bercanda tawa riang sekali. Hingga Papa menghampiri para anak muda itu meminta mereka untuk menyelesaikan acara kumpul ini.


"Siapa yang Mas sukai dulu?" tanya Wardah saat mereka berada di lift menuju kamar mereka.


Baru saja Eza dan Wardah mengantarkan teman-temannya ke lantai kamar mereka. Ya! Eza memang menyediakan tempat bermalam untuk teman-temannya juga. Sultan mah bebas!


"Ay... Kalau dulu nggak ada yang Mas sukain berarti Mas nggak normal dong Ay..." jawab Eza memeluk pinggang Wardah yang otomatis mendekatkan dengannya. Mencium dengan gemas pipi Wardah dengan bertubi-tubi.


"Iya juga ya, tapi sekarang nggak kan?" tanya Wardah menuntut.


"Sekarang cinta dan sayangnya sama yang ini," jawab Eza kembali menciumi Wardah. Tak perduli meski di pojokan lift ada kamera cctv pun.


"Iiissshhh, risih Mas, gelii," protes Wardah menjauhkan wajah Eza yang terus nyosor.


Tapi pelukan Eza tak terbebas sama sekali. Ia terus memeluk Wardah sembari mengecup pipinya.


Ting!


Tibalah mereka di lantai kamar mereka. Tapi yang didapati mereka kali ini adalah kehadiran Bunda dan Mama tepat di depan pintu lift. Syok! Tentu saja. Spontan Eza melepaskan pelukan dan menjauhkan wajahnya dari pipi Wardah. Wardah terbatuk tersedak udara yang ia hirup.


"Iya, yang ditunggu malah enak-enakan mesra-mesraan di depan kamera cctv," jawab Mama.


Eza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar salah tingkah kali ini.


"Bunda sama Mama ayuk kita ke dalam, nggak enak ngobrol di luar, hehehe," ujar Wardah merangkul lengan Mama dan Bunda hendak ke kamar mereka.


"Nggak usah sayang, Mama sama Bunda cuma mau memastikan kalian sudah di kamar atau belum. Ya sudah, lanjutkan nyosornya Zaa," ujar Mama melepaskan tangan Wardah dan mengecup pelipis Wardah, kemudian mengajak Bunda turun.


Pintu lift tertutup, sontak Wardah memeluk Eza menenggelamkan wajahnya di dada bidang Eza. Maluuuu, ia sungguh malu. Dipukulnya berulang lengan Eza dengan gemas.


"Hahaha, nggak papa Ay... Khilaf itu tadi..." ujar Eza dengan tawanya.


Eza membalas pelukan Wardah kemudian menyeret Wardah mengikuti langkah kakinya memasuki kamar. Jika sebelumnya kamar pengantin mereka hanya bertaburan bunga dan beberapa lilin, kali ini mereka disuguhi oleh kamar yang lebih cantik. Hiasan kelambu di tempat tidur menambah kesan kecantikan untuk kamar mereka.



Eza membopong Wardah menuju tempat tidur melewati lilin yang berjejer membentuk jalan.Wardah mengalungkan tangannya di leher Eza.


"Awas nanti keblabasan,"ujar Wardah.


"Hahaha, hampir," jawab Eza.


Eza duduk di ranjang dengan Wardah dipangkuannya. Wardah hendak berpindah tapi dicegah oleh Eza.


"Biar gini dulu Ay," ujar Eza mengeratkan pelukannya.


Mau tak mau Wardah mengikutinya. Kembali merebahkan kepala di dada Eza. Membalas pelukan hangat Eza. Nyaman sekali seperti ini.


"Ngantuk, tapi Adek belum skincarean," ujar Wardah.


"Libur sehari Ay, kamu udah cantiknya paripurna gini masih pakai skincar?" tanya Eza.


"Iyalah Mas, wajah kita itu butuh perlindungan... Ikhtiar biar glowing Sayaang," jawab Wardah sembari mencium bibir Eza dan beranjak ke kamar mandi.


"Sebelum tidur itu harus cuci muka dulu Mas," ujar Wardah kembali di hadapan Eza.


Menarik tangan Eza agar mengikutinya ke kamar mandi. Wardah mengambilkan sikat gigi dan pastanya untuk Eza. Menggosok gigi bersama ternyata lebih menenangkan. Hahaha.


"Kenapha harrush barreng-barreng ghinhi?" tanya Eza sembari menggosok giginya.


"Jangan gitu, nyembur semua itu busanya," jawab Wardah setelah membersihkan busanya.


Sikat gigi bersama, ditambah dengan cuci muka bersama. Wardah sesekali membantu Eza membersihkan wajahnya. Hingga kini Wardah sudah berada di depan meja riasnya untuk melakukan rutinitas sebelum tidur. Skincare-an tidak boleh ketinggalan. Sedangkan Eza menunggunya di atas ranjang sembari mengecek email masuk di gawainya.


Wardah menyusl Eza yang ada di atas ranjang. Perlahan ia duduk di sampingnya dengan memeluk Eza dari samping. Seketika mata Wardah terkantuk-kantuk karena memang Wardah pada dasarnya ***** (nempel + molor). Hahaha. Eza meletakkan gawainya saat Wardah datang.


"Udah siap skincare-annya?" tanya Eza.


"Hmm," jawab Wardah dengan mengangguk.


Berbantalkan dada bidang sag suami ternyata nyaman juga. Walaupun sedikit keras dan terasa ada petak-petak di perutnya. Sangat terasa di telapak tangan Wardah yang kini meraba perut sang suami.


"Tangannya mulai nakal yaa," ujar Eza menahan tangan Wardah agar tak mengelus-elus.


Yang diajak bicara ternyata sudah merem dengan pulasnya. Eza geleng-geleng kepala melihat istrinya sudah tertidur. Eza membenarka posisi Wardah agar lebih nyaman, kemudian barulah ia ikut tertidur dengan memeluknya.


...Bersambung...


...Maaf ya gaess, Lhu-Lhu benar-benar sibuk dengan Seminar Proposal esok hari. Jadi belum bisa up lagi. Ada persiapan yang harus benar-benar dimatangkan, kemudian revisian setelah presentasi. Tapi, diusahakan untuk up kok. Sekali lagi minta maaf yaa.... Sayang kalian.... Peluk jauh doooong........


...Mohon doanya semoga lancar semuanya ya freend.... ...


...:") ...


...😍😘...