
Jika biasanya sore hari Eza sudah bersantai, kini Eza masih menemui bodi guard Papanya. Ia meminta kepada mereka untuk mengawasi Sela. Dia sudah berani mengusik ketenangannya. Eza juga memerintahkan kepada Bibi yang kini memegang kendali mengenai IT perusahaan untuk menghapus seluruh jejak digital Wardah dan mantan suaminya.
Eza tak mau Sela berbuat hal konyol. Jangan sampai istrinya kepikiran dengan hal ini. Setelah menyelesaikan urusannya, barulah Eza pulang. Rencananya untuk pulang cepat terkendala sudah. Bahkan kini sudah waktunya sholat maghrib. Alhasil Eza memilih untuk sholat terlebih dahulu di masjid yang ia lalui.
Keluar dari masjid, Eza kembali ditelepon oleh rekan kerjanya untuk melihat detail desain acara ulang tahun stasiun tv-nya. Mau tak mau Eza putar arah menuju hotel Sang Papa yang digunakan untuk tempat acara. Sebelumnya Eza menelepon Wardah terlebih dahulu agar sang istri tak menunggunya. Sepertinya hari ini dirinya benar-benar pulang terlambat.
Di rumah Wardah tengah menunggu Eza di ruang tamu sembari berbaring dan bermain gawai. Sudah hampir maghrib tapi suaminya belum pulang juga. Wardah tengah berseluncur mengintai sosial media Eza. Ia belum pernah sama sekali menscroll IG Eza. Ntahlah, Wardah begitu penasaran.
Wardah hampir marah tadi, saat sang suami pergi tanpa pamit. Tapi Bunda sukses meredam amarahnya dengan memberikan pengertian-pengertian. Hingga kini saat ia asik melihat sosial media Eza, gawainya berdering.
"Wa'alaikumussalam, iya Mas?" jawab Wardah.
"Ay, Kamu makan dulu aja ya... Mas masih ada urusan di hotel untuk acara pekan depan. Nggak usah nungguin Mas," ujar Eza.
"Yee PD! Siapa yang nungguin Mas?" jawab Wardah dengan candanya.
"Yakin, nggak lagi nungguin?" tanya Eza dengan kekehnya. Jelas-jelas dirinya tadi menelepon Mama terlebih dahulu sebelum Wardah, dan sempat menanyakannya.
"Udah makan belum?" tanya Wardah dengan suara melemah.
"Aman itu mah," jawab Eza.
"Jangan lupa makan, hati-hati di jalan, i love you," ujar Wardah.
"I love you more," jawab Eza dengan senyumnya yang mengembang. Ia seolah baru saja diisi ulang baterainya.
Jika Eza tersenyum tak henti-hentinya, berbeda dengan Wardah. Wardah berjalan dengan gontai menuju ruang makan. Di sana sudah berkumpul seluruh anggota keluarga. Mama terlihat tengah tersenyum tertahan bersama Bunda yang masih sibuk menyiapkan makanan untuk Inayah.
"Makan dulu Dek... Nanti juga pulang tu orang," celetuk Kak Winda.
Wardah hanya tersenyum menanggapi Kakak iparnya itu. Mulailah Wardah duduk di samping Dinda dan mengambil alih piringnya dari tangan Kak Winda. Oke! Sepertinya Wardah memang ingin menyuapi Dinda. Ia memilih satu piring berdua dengan bocil itu.
"Om Eja belum puang ya Aunty?" tanya Dinda.
"Iya sayang, Om Eja-nya masih kerja," jawab Wardah.
"Aunty ceneng mamam sama Dinda?" tanyanya lagi.
"Iya dong! Seneng banget," jawab Wardah lagi.
Begitulah seterusnya, meja makan itu diwarnai dengan ocehan mereka berdua. Inayah yang merasa jika Aunty-nya lebih memilih makan bersama Dinda pun ikut heboh. Papa yang melihat cucunya ribut pun hanya geleng-geleng kepala gemas dan tertawa. Jadilah jalan pintas yang dipilih saat ini yaitu sepiring bertiga.
Setelah pertengkaran sengit dan makan malam yang riweh, dua bocil tadi sudah ke kamar mereka. Tentunya setelah mengerjakan pr bersama. Kini tinggallah Wardah, Mama, Papa, dan suami Kak Winda. Suami Kak Winda memang sedang libur setelah menyelesaikan projek. Jadi mereka bisa tinggal sementara di mansion Papa.
Jika tadi ada empat orang di ruang keluarga, kini tinggallah Wardah seorang di sini. Mama, Papa, dan Mas Rio sudah pamit undur diri ke kamar mereka.
"Ditunggu di kamar saja sayang..." ujar Mama menghampiri Wardah lagi. Sepertinya ia tak tega meninggalkan menantunya sendiri.
"Nggak papa Ma, Wardah masih pengen nonton di sini," jawab Wardah.
"Mama mau nemenin kamu, tapi udah ngantuk banget," ujar Mama.
Papa duduk di samping Wardah dan mengelus lembut kepala Wardah yang terbalut dengan jilbabnya. Wardah memang mengenakan jilbabnya, karena di rumah ini ada suami dari kakak iparnya. Wardah menyenderkan kepalanya di pundak Papa. Nyaman sekali.
"Ya udah, Mama tidur dulu," pamit Mama.
Papa menemani Wardah dengan senangnya. Jika ada Eza, mana mungkin Wardah dibiarkan berdekatan dengannya. Mumpung sang anak tak ada, biarkan Papa berbincang santai dengan Wardah kali ini.
"Ngantuk Pa," ujar Wardah setelah lelah papatime.
Mereka berdua dengan asiknya saling bercerita satu sama lain. Papa yang notabenya hanya bebas bercerita dengan Mama, kini memiliki tempat bercengkrama yang asiknya dengan Wardah. Sedangkan Wardah memposisikan Papa seperti mendiang Ayahnya. Kelembutan dan perhatian mereka yang sama persis membuat Wardah selalu nyaman bersama Papa. Mama yang awalnya sudah tertidur kembali bangun karena tak ada sang suami di sampingnya.
"Sini sayang, bantalan pahanya Mama. Mama nggak jadi ngantuk," celetuk Mama menghampiri suami dan anak mantunya.
Mama mengambil alih tempat duduk Papa dengan menggesernya menjauh.
"Mama sama Papa masuk aja nggak papa. Wardah juga mau ke kamar," jawab Wardah.
Ia menjadi tak enak hati kini. Ia begitu merepotkan Mama dan Papa.
"Mama udah nggak ngantuk sayang," ujar Mama dengan kekehnya.
"Ya udah sih Ma... Mumpung anaknya mau tidur," jawab Papa.
"Biar Wardah yang matiin tvnya. Mama sama Papa ke dalam dulu ajah," sambung Wardah dengan senyumnya.
"Yaudah kalau gitu, Mama sama Papa ke dalam dulu ya. Good night sayang," ujar Mama mencium kening Wardah dengan sayang diikuti dengan Papa yang melakukan hal sama.
Tinggallah Wardah seorang di ruangan ini. Wardah memilih untuk mematikan tv dan membaringkan tubuhnya di sofa yang tadi ia duduki. Mengecek gawai dan melihat chat Eza. Tak ada tanda-tanda online di notifikasinya. Tak tahan dengan rasa kantuknya, Wardah berniat memejamkan matanya sebentar.
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Tapi mansion ini sudah tampak sepi. Hanya perbincangan bapak-bapak dan mamang yang bertugas malam terdengar. Tak berselang lama, yang ditunggu-tunggu Wardah akhirnya datang juga. Padahal perkiraan Eza, ia akan sampai mansion lebih awal, ternyata tidak.
Dengan santainya Eza membuka sosial medianya untuk update story. Masuk ke mansion dengan ujarannya seolah berbagi cerita dengan followersnya. Ya! Eza memilih untuk melakukan siaran langsung. Tiba-tiba pandangan Eza tertuju pada sesosok wanita yang dengan manisnya tertidur di sofa.
"Gaess, tahu gak? Hal yang membuat rasa capek gua hilang sejetika?" tanya Eza dengan penontonnya.
Berbagai jawaban dilontarkan oleh para jomblo gabut yang dengan suka relanya menonton live Eza.
"Ada yang bener nih! Iya! Lihatin istri cantik nan manis gua!" ujar Eza.
"Lihat deh, Si Ayang nungguin gua pulang sampai ketiduran gini. Sweet banget. Udah dulu yee, gua mau sayang-sayangan sama Ayang gua!" sambungnya kemudian mengakhiri livenya.
Baru kemarin mereka membuat heboh dengan tragedi yang hampir mengenai Wardah, sepertinya sebentar lagi akan ada hal viral baru lagi. "Beruntungnya pimpinan stasiun tv terkemuka memiliki istri yang perhatiannya luar biasa".
Mungkin itu salah satu kepala berita yang akan muncul. Atau bahkan ada yang lain? Ayo coba dong bantu buat gosip panas buat mereka berdua. Hahaha.
"Ay..." panggil Eza dengan mengecup kening Wardah.
Tak tega harus membangunkan sang istri, Eza memilih untuk membopong Wardah ke kamar. Merasa ada pergerakan, Wardah membuka matanya. Betapa terkejutnya ia mendapati dirinya sudah berada di gendongan sang suami.
...Bersambung ...