
Tangan kanan Eza mendorong troli barangnya dengan Wardah, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat jemari Wardah menyusuri jalanan sepanjang bandara menuju ruang tunggu. Sengaja Eza tak menyewa kendaraan bandara agar bisa berduaan lebih lama dengan Sang Istri. Tiba-tiba saja dirinya ingin menghabiskan banyak waktu berduaan dengan Wardah.
"Biar orang-orang tahu kalau bini gua cakep," batin Eza.
Wardah tak dibiarkan membawa barang apapun. Bahkan tasnya juga dibawakan Eza juga. Banyak pengunjung yang melihat dua sejoli ini. Wardah risih dilihat banyak orang, tapi dirinya juga senang atas perlakuan Eza yang di luar dugaan ini.
"Mas, kesambet apa sih? kok jadi manis gini tingkahnya?" tanya Wardah tiba-tiba.
"Suami kamu memang manis Ay... Bukan hanya tingkahnya, tapi juga tampangnya. Manis, tampan, gagah, pokoknya luar biasa. Ayang sih sadarnya baru sekarang," jawab Eza dengan penuh percaya diri. Wardah memutar bola matanya jengah. Meski sebenarnya ia setuju dengan ucapan suaminya itu.
"Iya deh iyaa, suami aku emang yang paling tampan. Nggak ada yang bisa nandingin. Menang banyak pokoknya aku punya Mas Eza," ujar Wardah yang kini merangkul lengan kiri Eza.
***
"Mari saya antarkan ke kursi Mr and Mrs." ujar seorang pramugari menyambut Eza dan Wardah.
Seperti biasa, Wardah di samping jendela dan Eza di sampingnya. Kursi yang dipesan Eza terdiri dari dua tempat duduk saja, karena tak ingin ada orang ketiga di antara mereka. Eaakkk!
"Mau makan atau minum apa Ay?" tanya Eza saat ada pramugari yang menjajakan makanan kepada penumpang.
"Apa aja Mas," jawab Wardah.
Eza memesan sebagian besar makanan dan minuman yang dibawa pramugari. Bagaimana tidak? Ia tak tahu selera istrinya yang mana, tapi malah memberikan jawaban yang super membingungkan. Jadilah pramugari itu memberikan meja kecil di samping duduk Eza untuk tempat makanan yang bermacam-macam. Sedangkan Wardah sibuk membuat konten awan-awan menggerumbul dengan gawainya.
Melihat istrinya yang masih belum puas dengan video buatannya, Eza menyuapi Wardah minuman yang ia pesan. Lebih tepatnya jus.
"Hemm, enak Mas," ujar Wardah.
Eza tersenyum puas. Senang karena pilihannya tepat. Suapan yang kedua yaitu desert.
"Masss! Ini manis bangeett, kalau aku diabet gimana?" protes Wardah.
"Maaf, kan mas nggak tahu rasanya. Pakai hp Mas aja buat ngerekamnya. hp Maskan lebih jernih dari android Ay," jawab Eza sembari menawarkan gawainya.
Dengan senang hati Wardah menerimanya. Dibandingkan dengan gawai Eza, milik Wardah memang kalah jauh. hahaha. Bagaimana tidak? Gawai Wardah masih tergolong keluaran lama. Berkali-kali Eza menawarkan gawai baru, tapi sang empunya selalu menolak.
Tak hanya mengabadikan pemandangan di luar pesawat, Wardah juga sesekali selvi ria bersama Eza dengan Eza yang masih terus menyuapkan makanan kepada Wardah.
"Udah Mas, udah kenyang akunya," protes Wardah saat Eza kembali menyuapinya.
"Manis banget pasangan itu," ujar salah seorang penumpang yang ada di seberang tempat duduk Eza dan Wardah.
Lelah dengan aktifitasnya, Wardah tertidur menyender pada jendela sampingnya.
"Makanannya bisa dibereskan Mbak," ujar Eza pada pramugari yang melayani.
Dua jam penerbangan, akhirnya mereka mendarat juga. Mereka disambut dengan genangan air dan tetesan sisa hujan beberapa menit yang lalu. Eza mengelus hidung Wardah agar wanitanya itu terbangun. Sayup-sayup Wardah membuka matanya menyesuaikan cahaya di sekitarnya.
"Udah nyampai Ay," ujar Eza dengan lembutnya. Jangan lupakan senyum manisnya itu. Benar-benar mood booster untuk Wardah.
"Muka aku, ketara muka bantal ya Mas?" tanya Wardah sembari mengusap wajahnya.
"Muka istri Aku tetep cantik walaupun bangun tidur kok," jawab Eza sembari membatu Wardah merapikan penampilannya.
"Dasar gombal!" sambung Wardah.
Wardah baru sadar jika kini tinggal dirinya dan Sang suami saja di sini. Tunggu, ada tiga pramugari dan 2 pilot tengah melihat kebucinan Eza. Spontan Wardah menutupi wajahnya merasa malu.
Eza tertawa melihat tingkah istrinya itu. Berbeda halnya dengan Wardah yang tengah malu, Eza justru senang memperlihatkan perhatian dan kebucinannya di tempat umum. Eza membawakan tas Wardah dan merengkuh Wardah agar bersembunyi di dekapannya.
"Terima kasih Pak Eza dan istri sudah Sudi menjadi salah satu BA di maskapai kami," ujar Kapten pilot diikuti oleh senyuman dari crew nya.
"Sama-sama, kami juga berterima kasih sudah diberikan tumpangan gratis," jawab Eza disambut gelak tawa yang lain.
Wardah yang mendengar perbincangan mereka menjadi bingung sendiri. BA? Brand Ambassador? Gratis? Apa maksudnya ini? Wardah sama sekali tak berani menunjukkan wajahnya, ia hanya sesekali mengintip dari balik jilbab yang menutupi wajahnya.
"Nona tidak usah malu, kami justru senang melihat tingkah laku anda dan suami," celetuk salah satu pramugari.
"Iya Nona, kita malah dapat referensi bagaimana membangun rumah tangga yang harmonis, hahaha," sambung yang lainnya.
"Istri saya dipanggil Nona, kenapa saya dipanggil Pak ya?" ujar Eza.
Lagi-lagi gelak tawa mewarnai siang hari ini di dalam maskapai penerbangan. Wardah yang awalnya masih malu, berangsur memberanikan diri membuka wajahnya. Wardah justru ikut berbincang dengan para pramugari dan sesekali menjawab pertanyaan bapak pilot dan co-pilot.
"Ternyata bener kata netizennya Mbak Wardah. Mbak itu humble."
"Walaupun awalnya malu-malu kucing, hahaha,"
Begitulah kira-kira perbincangan para ciwi-ciwi. Mereka juga memanggilnya dengan sebutan Mbak atas permintaan Wardah.
"Apasih kalian ini? Siapa sih yang nggak malu kalau jadi pusat perhatian orang-orang," jawab Wardah membela diri.
Setelah puas dengan perbincangan antara crew, Eza, dan Wardah, mereka berpisah di pintu keluar.
"Jangan lupa di follback lho Mbak kaminya!" pesan mereka saat Wardah turun.
Okey! Followers Wardah bertambah lagi. Ternyata Eza telah menandatangani kontrak perjanjian dengan maskapai CTK tanpa memberitahunya. Bahkan bukan Eza saja yang menjadi BA, tapi juga Wardah.
...Bersambung ...