Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Tidur


Sampailah kami di lantai 5. Dia masih membantuku mendorong troli barangku. Padahal bisa saja ia meminta tolong petugas, tapi sepertinya dia lebih senang dorong mendorong. Eh! Apa pulak dorong mendorong. Hingga ia berhenti di kamar 265.


"Ini cadangan cardlock kamar Caca. Nanti kamu balikin ke resepsionis. Saya ada urusan jadi langsung saja. Assalamualaikum," Ujarnya dengan memberikan cardlock padaku dan berlalu. Sepertinya pundak itu sangat nyaman jika digunakan untuk bersandar. Sekelibat muncul dipikiran sosok Cak Ibil, kalah dia mah dengan mas-mas itu tadi. Hahaha.


"Wa'alaikumussalam," Lirihku.


Untung saja aku tak kudet-kudet amat. Aku masih bisa membuka pintu itu, tepatnya pernah belajar beberapa tempo waktu dulu. Hahaha.


Cklek!


Wau! Daebak! Susunan interior yang luar biasa. Sepertinya ini apartemen berkelas deh. Mana mungkin aku kuat bayar yang luar biasa seperti ini.



Tak berselang lama lantunan azan zuhur berkumandang. Ternyata di apartemen semegah ini masih terdengar lantunan azan. Karena biasanya tak terdengar sama sekali lantunan-lantunan itu.


Astaghfirullah! Aku juga belum memberi kabar untuk Bunda dan bumil satu itu. Siap-siap saja nanti kena semprot. Lebih baik aku salat dulu. Untung saja kamar mandinya ada di luar kamar, aku tak punya nyali jika harus masuk kamar orang tanpa izin. Aku juga memilih salat di ruang tamu + ruang tv.


"Assalamualaikum bumil cantik," Sapaku melalui sambungan video call setelah selesai salat.


"Wa'alaikumussalam! Aku nungguin kabar dari dua jam yang lalu, kamu baru ngabarin sekarang!" Jawabnya dengan ketus.


"Iyaa, maafkan aku zeyeng... Tadi kelupaan habis nyari apartemennya Caca. Ini aja baru duduk," Jawab Wardah.


"Ya Allah, maaf Dah. Ya udah kamu istirahat gih! Aku tutup yaa? Kamu istirahat, assalamualaikum," Tut... Tut... Tut...


"Wa'alaikumussalam," Kebiasaan, pasti matiin hp dadakan.


Setelah menghubungi Anisa gantian sekarang Bunda. Tak ada perbincangan lama, karena aku memang sudah lelah. Bunda juga menyuruh agar aku istirahat.


Aku memilih untuk merebahkan tubuhku di sofa ruang tv + ruang tamu ini. Cukup nyaman karena memang empuk. Aku memilih memainkan gawai untuk mengurangi kebosananku. Aku tak bisa memejamkan mata, mungkin karena belum mengantuk.


Utara hati tadi sepertinya Wardah mengatakan kalau tak mengantuk. Tapi nyatanya tak membutuhkan waktu lama, ia sudah pulas dengan gawai yang sudah tergeletak di karpet bawahnya.


Cklek!


"Makasih banget bos pokoknya. Hito sih pakai acara meeting dadakan pulak!" Celetuk wanita yang membuka pintu. Tentu saja Caca.


"Ya maaf yang, kan aku juga nggak tahu kalau tiba-tiba," Jawab Hito yang mengikuti pacarnya memasuki apartemennya.


Caca terbengong melihat teman kecilnya dulu tertidur pulas di sofa. Untung posenya tetap imut. Kalau ngiler habislah! Jatuh harkat dan martabat mu Wardah.


"Kok ni anak tidur di sini sih!" Gerutu Caca mendekatinya.


"Cantik banget temen kamu Yang," Celetuk Hito.


Sukses membuat Caca mendaratkan jeweran di telinga Hito.


"Maaf Yang, keceplosan! Adududududu, sakit Yang," Eluh Hito.


Puas menjewer pacarnya, Caca mendekati Wardah dan membangunkannya. Percuma saja, anak itu kalau sudah tidur pasti susah untuk dibangunkan.


Caca meletakkan barang-barang Wardah ke kamarnya dibantu Hito. Berbeda dengan sosok laki-laki yang mengikuti mereka tadi. Ya! Caca tak hanya dengan Hito, tapi juga dengan lelaki yang tadi menolong Wardah. Ia tampak duduk berjongkok di hadapan Wardah. Ntah apa yang ia pikirkan. Ia tampak melihat dengan tatapan intens.


Hingga suara gaduh membuyarkan niatan memperhatikan lebih lanjut.