Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Kunjungan


Pagi ini eza dan Wardah berkunjung ke rumah Anisa untuk bertemu dengan keluarganya terkhusus dua bayi mungil yang gemoy. Sudah lama rasanya mereka tidak saling bertemu. Sebelumnya mereka sempat bertemu tapi hanya sebentar saja karena memang Wardah sendiri. sedang di sibukkan dengan urusan pengadilan.Wardah dan Eza Hanya sesekali bertemu dengan dua baby gemoy itu. bertemu pun tidak lama hanya sebentar saya mereka hanya sekedar berbincang atau bermain ketika ada waktu luang.


Sedangkan hati ini mereka harus kembali ke Jakarta. Jadilah mulai pagi ini Wardah mengajak Eza ke rumah Anisa untuk berpuas-puas ria bertemu dengan dua baby tampan itu.


Sampai di kediaman Anisa Wardah langsung mengajak Anisa mengantarkannya ke kamar si kembar. Ia benar-benar tak sabar bertemu kembar. Meski sebenarnya ia yakin jika si kembar belum bangun di jam segini. Tak apalah, biar Wardah ganggu saja dua bocil itu.


Benar saja, sampai di kamarnya Si Kembar masih tertidur pulas. Tapi hal itu tak mengecewakan Wardah. Wardah benar-benar mengganggu si kecil hingga bangun.


“Gimana? Udah nyari nama baru buat Si Kecil di rumah?” tanya Anisa.


“Udah ada beberapa rekomendasi nama sih Nis, tapi masih mau nanya ke Kyai-nya Mas Eza dulu,” jawab Wardah.


“Kamu harus bisa menyayangi dia seperti anak kamu nantinya ya,” ujar Anisa.


“Pasti, aku bakalan merawat anak itu dengan baik,” jawab Wardah dengan senyumnya.


Jika Wardah asik di kamar kembar, berbeda dengan Eza. Ia kini tengah berbincang dengan keluarga Farhan di ruang keluarga. Sembari menunggu sarapan pagi mereka siap. Anisa kini memang tengah bermukim di rumah mertuanya. itulah mengapa tak ada orang tua Anisa di sini. orang tua Farhan yang kurang mengerti mengenai kasus yang tengah ditangani sahabat anaknya pun turut penasaran. Eza diwawancarai dengan berbagai pertanyaan di sini. maklumlah, orang tua Farhan memang tak ikut ke pengadilan karena terkadang harus membantu Anisa menjaga si kecil.


Wardah menggendong si kecil untuk turun ke bawah bergabung bersama yang lain.


“Haduh-haduh, biasanya jam segini belum bangun… Ketemu Aunty-nya langsung seger aja anak-anak bayi ini,” celetuk Ibunda Fardah melihat cucunya sudah tersenyum-senyum digendong Wardah dan Anisa.


“Kalau nggak diganggu juga nggak bakalan bangun ini Ma,” jawab Anisa.


“Nggak papa ya nak ya, kan bentar lagi Aunty pulang,” jawab Wardah mengajak bermain si kecil.


“Kapan syukuran si kecil di rumah Za? Mama pengen deh sesekali ke Jakarta,” ujar Mama.


“Insyaallah secepatnya Ma,” jawab Eza.


“Ke Jakarta aja semuanya, ntar semuanya yang ngurusin Mas Eza deh! Iyakan Mas?” tanya Wardah.


“Iyaa, apa sih yang nggak buat kamu,” jawab Eza. Dan sukses menjadi bahan ledekan yang lain.


“Pak Direktur ma bebas, iyakan Ma,” ledek Papa Eza menimpali.


Wardah yang merupakan sahabat Anisa memang sudah tak canggung lagi jika berkecimpung dengan keluarga besar Anisa. Bahkan dengan mertuanya sekali pun. Itulah mengapa Wardah dan Eza juga memanggil mereka sama seperti anak-anak mereka yang lain.


Sajian makanan sudah siap begitupun dengan sarapan si kecil. Saat menyantap sarapan mereka. Wardah membantu Anisa menyuapi si kecil. Anggap saja ini Latihan sebelum nanti dirinya merawat si kecil yang sudah menunggu di rumah.


Tidak hanya itu Wardah juga mengikuti dan membantu Anisa memandikan, hingga bermain dengan si kecil sebelum berangkat ke bandara. Wardah benar-benar bahagia saat ini. Ia merasa benar-benar siap merawat Si kecil di rumah nanti.


...Bersambung ...