Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Last


Selesai dengan perbincangannya bersama Kak Winda, Wardah dan Eza beralih menuju ke ruangan Papa. Karena sebelum ke ruangan Kak Winda tadi, Sakha ikut dengan Papa, yang kebetulan bertemu di lobi. Eza harus menahan diri untuk memberitahu Papa, jika ia keceplosan, Kak Winda pasti akan marah.


Sepanjang perjalanan menyusuri kantor, dua sejoli itu tak henti-hentinya ditatapi oleh para pegawai. Mungkin mereka keheranan, tumben sekali anak bungsu pemilik perusahaan ini ke mari. Eza memang tak pernah menginjakkan kaki ke perusahaan ini setelah ia fokus pada stasiun tv-nya.


“Assalamu.alaikum,” sapa Wardah memasuki ruangan Papa.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Papa berbarengan dengan Sakha.


“Buna! Cakha puna jajan banak!” ujar Sakha.


Benar saja di atas meja sudah tercecer banyak sekali jajanan. Sepertinya Papa tadi mengajak Sakha borong jajanan. Mereka berbincang sebentar sebelum pulang. Beruntung Papa tak menanyakan hal macam-macam mengenai kedatangan mereka.


Kita kembali ke Kak Winda yang belum beres urusannya yaa.


Setelah kepergian adik-adiknya, Kak Winda memilih untuk menghubungi suaminya. Ia berniat untuk mengajaknya makan malam bersama. Jika diingat-ingat, mereka memang sudah lama tak berduaan. Lama tak dibalas chat nya, ia memilih untuk meneleponnya.


“Hallo sayang? Ada apa?” jawab yang di sebrang sana.


“Mas lagi sibuk ya?” tanya Kak Winda.


“Emm, nggak sibuk banget kok. Ya, lagi ngecek laporan-laporan aja.” Jawab Rio.


“Nanti malam diner berdua yuk Mas! Nanti aku yang cari tempatnya,” ujar Winda.


“Hmm, boleh, tapi nanti kita ketemunya di lokasi aja ya, aku berangkat dari kantor,” jawab Rio.


Oke! Sekarang saatnya berselancar di dunia maya, hunting restoran recommend. Beres dengan rekomendasi restoran terbaik versinya, Kak Winda memilih untuk menghubungi Wardah yang mungkin saja sudah pulang. Ia meminta tolong kepadanya untuk membantunya mengurus Dinda. Karena mungkin ia dan suami akan pulang telat. Barulah setelah itu ia bersiap diri.


Jalan-jalan ke mall untuk memilih fashion memang pilihan terbaik. Dari satu gerai, ke gerai lain Winda benar-benar selektif untuk memilih pakaian lengkapnya. Ia juga menata make up-nya dan tampilan hijabnya agar lebih rapi.


Melihat waktu yang tersisa masih banyak, ia memilih untuk menjemput Rio ke kantornya. Tak apalah perjalanan cukup jauh, toh sekarang juga masih awal waktu. Biar mereka nanti bisa berangkat bersama. Beruntung perjalanan tak begitu padat, sehingga Winda bisa sampai lebih cepat. Tampak mobil Rio masih terparkir di sana.


“Mbak Winda? Selamat sore Mbak, kayaknya udah lama ya Mbak nggak ke sini,” sapa resepsionis, yang mengenalnya.


“Iya Ci, sore... Bapak ada di ruangannya?” tanya Winda.


“Ada Mbak, silahkan ke atas,” jawab Cici.


Karena kantor cabang ini tak begitu besar, tak ada lift yang menghubungkan antar lantai. Sebab memang hanya terdiri dari tiga lantai saja. Dengan semangatnya Winda menapaki tiap anak tangga untuk sampai di lantai teratas. Memang cukup lama ia tak kemari, wajar saja jika ia mendapati spot baru yang ada di kantor suaminya itu. Beberapa kali juga ia membalas sapaan para karyawan yang berlalu lalang berpapasan dengannya. Hingga sampailah ia di lantai khusus tempat suaminya.


Tap! Tap! Tap!


Tiba-tiba jantungnya berdetak begitu cepat saat sayup-sayup mendengar gelak tawa seseorang di dalam ruangan tujuannya. Tak ada orang lain, karena ini memang lantai khusus pengurus dan ruang rapat. Hingga manik matanya menangkap siluet dari balik kaca yang tampaknya sengaja diburamkan. Suaminya tak sendiri, melainkan bersama seorang perempuan. Yang lebih parahnya lagi, ia tahu siapa perempuan itu. Sekretarisnya!


Winda mengelus dadanya lembut, mantra istighfarnya ia lantunkan bersamaan guna menenangkan diri sendiri. Bahkan air matanya sampai enggan untuk menetes meski rasanya sudah tak karuan.


‘Bukan aku yang salah, aku nggak perlu mundur dari sini,’ tegasnya dalam hati.


“Bismillahirrahmanirrahim,” lirihnya.


Winda membuka handel pintu ruangan suaminya dengan ketenangan sebisanya. Seolah ia tak keberatan setelah melihat kenyataan itu.


Klop!


Pintu terbuka, disusul dengan Winda yang tersenyum menunjukkan penampilan terbaiknya. Yang disidak pun kaget tak karuan. Sekretaris itu yang awalnya tampak menempel di dekat Rio sontak didorongnya menjauh.


“Sayang? Aku bisa jelasin!” ujar Rio spontan.


“Eh! Lagi sibuk ya Mas? Maaf ya, aku ganggu... Aku tadi Cuma mampir buat rapi-rapi kok,” jawab Winda tak menghiraukan parasit yang ada di ruangan itu.


“Aku ke kamar dulu ya, mau rapiin jilbab sama make-up. Habis itu kita berangkat diner bareng,” sambungnya, kemudian berlalu ke kamar pribadi mereka.


Rio masih setia dengan raut paniknya dan segera mengusir sekretarisnya itu. Memasuki kamar istirahat, Winda diberi kejutan dengan berantakannya ruangan itu. Kenapa tak dibersihkan sama sekali, setidaknya ada OB yang ditugaskan untuk membersihkan ruangan ini. Tak berselang lama, datanglah Rio dengan tergopoh-gopoh.


“Sayang, kenapa nggak ngabarin aku sih kalau ke sini?” tanya Rio yang kini memeluk Winda.


“Siap-siap gih! Kancingin tuh baju kamu. Masak iya di depan cewek lain dibuka kek gitu,” ujar Winda, sembari melepaskan pelukan Rio.


Sepertinya laki-laki itu baru sadar jika tiga kancing bajunya terbuka. Ia segera mengancingnya.


“Berantakan banget ya kamarnya? Maaf sayang, aku jugakan baru pulang dari luar kota,” ujarnya lagi.


“Iyaa dimaafin, ya udah siap-siap, ayo kita berangkat,” jawab Winda.


Winda bermaksud untuk membereskan kamar itu, tapi dicegah oleh Rio. Berakhirlah Winda kini duduk di sofa ruang kerja Rio. Sembari menunggunya bersih-bersih. Melihat kejadian beberapa saat yang lalu, membuat Winda yakin dengan keputusannya. Tak berselang lama, datanglah Yuna Sang sekertaris membawakan minuman dingin untuk Kak Winda.


“Iya terima kasih,” jawab Winda.


Wanita itu mengenakan rok sepan di atas lutut dengan tanktop dilapisi blazer di luarnya. Kesan yang sangat buruk bagi Winda. Ditambah dengan dua asetnya yang tampak sengaja dipamerkan lekukannya. Sebenarnya ia beberapa kali pernah bertemu dengan wanita ini, tapi ia tak pernah mengenakan pakaian kurang bahan seperti ini sebelumnya. Karyawan yang lain yang ia temui tadi pun juga tampak berpakaian sewajarnya. Kenapa yang satu ini berulah?


“Kamu nggak takut masuk angin pakai pakaian pendek gitu?” tanya Winda.


“Hehe, sudah biasa kak,” jawabnya dengan enteng.


“Oh, sudah biasa ya? Ya nggak heran sih,” lirih Winda saat perempuan itu keluar.


“Astaghfirullah, aku jadi jijik lihat mereka,” gumamnya lagi tanpa sadar.


Winda tak menyentuh sama sekali minuman itu. Tak ada niatan sama sekali meski hanya menyicipinya. Tak berselang lama, muncullah Rio dari dalam kamar. Tampak ia sudah mengganti pakaian yang senada dengan milik Winda. Winda lekas beranjak, mengajak suaminya itu keluar.


“Aku perhatikan dari tadi, kamu jadi lebih bersinar aja,” celetuk Rio sembari mengelus lembut pipi istrinya.


“Ayo berangkat!” Winda menepisnya dan memilih untuk berjalan terlebih dahulu.


Rio sempat menatap sesaat tangannya dianggurin oleh istrinya. Dan segera mensejajarkan langkahnya dengan sang istri. Perempuan yang duduk di meja depan ruangan mereka acuhkan. Dengan sigap, Rio segera menggenggam jemari Winda untuk menuruni tangga. Dalam hati ingin sekali rasanya menepisnya, tapi akan sangat sungkan sebab di sana tidak hanya mereka berdua. Melainkan ada beberapa karyawan.


“Sayang, aku ma…”


“Ngobrolnya nanti aja di resto ya, aku mau tidur bentar,” Winda memutus ujaran Rio.


Ia memilih untuk sedikit merebahkan dirinya selama perjalanan. Mau tak mau Rio menurutinya dengan tak ada yang menemaninya mengobrol selama perjalanan. Hingga beberapa saat tibalah mereka di sebuah restoran yang telah dipesan oleh Winda tadi.


Rio mengusap lembut punggung tangan istrinya untuk membangunkan. Meski lembut, ia sempat terkejut. Begitulah Winda, ia memang gampang sekali terkejut akan pergerakan-pergerakan kecil. Beruntung jalanan yang mereka lewati tak bergelombang, sehingga ia bisa beristirahat sebentar.


“Reservasi atas nama Winda, Mbak” ujar Winda pada resepsionis restoran.


“Mari saya antar Kak,” jawabnya.


Rio masih setia mengikuti di belakang Winda. Setelah sampai di ruangan khusus pesanan Winda, Rio bergegas membukakan kursi untuknya. Beberapa saat Rio mengajak Winda untuk berbincang ringan. Tapi ia sadar benar jika istrinya itu tak se-axcited waktu awal ia mengajaknya makan malam. Hingga tibalah saat-saat suasana awkward antara keduanya.


“Sayang, aku mau jelasin waktu di kantor tadi. Kenapa Sekretaris aku__” ujaran Rio terpotong.


“Ssyuut, aku dulu yang ngomong!” potong Winda.


“Aku mau ngobrol serius sama kamu,” tegas Winda kembali.


Dengan tenang Winda mengambil sebuah amplop di tasnya. Awalnya ia pikir akan membuang dan membakarnya saat sampai rumah. Tapi ia berubah pikiran seketika. Tak perlu mempertimbangkan kembali. Keputusannya sudah paten, bulat kali ini. Ia membuka amplop itu dan mensejajarkan sejumlah foto cetak di hadapan Rio. Yang diserang dengan dadakan pun tampak terkejut seketika.


“Kamu__” ujaran Rio dipotong kembali dengan isyarat agar suaminya itu diam.


“Aku nggak mau muluk-muluk, awalnya aku mau diam saja soal ini. Awalnya aku mau mencoba memaafkan dan berusaha agar keluarga kita bisa tetap baik-baik saja. Tapi semakin aku diam, ternyata Allah lebih menguatkan keputusan aku untuk memilih berpisah sama kamu.” Jelas Winda.


“Aku nggak mau pisah sama kamu sayang... Itu nggak bener, itu pasti Cuma editan. Aku mau sama kamu terus!” jawab Rio menggenggam jemari Winda.


“Aku juga berharap ini tidak benar terjadi. Bahkan aku berharap semua ini hanya mimpi buruk! Sudah ya Mas, aku tiba-tiba nggak nafsu makan. Aku pergi dulu, tenang saja aku sudah bayar semuanya kok! Jadi, habiskan semua pesanan kamu ya,” ujar Winda kemudian beranjak pergi.


Rio sempat mencegahnya pergi, tapi hati Winda sudah terlanjur dongkol. Dikibaskannya genggaman Rio dan bergegas pergi. Karena ia kemari bersama Rio, jadilah kini ia harus menaiki taxi untuk pergi. Tak berselang lama setelah kepergian Winda, Eza dan Wardah datang. Tadi ia mendapatkan informasi dari suruhannya bahwa Kakaknya memergoki biang kerok itu mesra-mesraan. Ia langsung meluncur hendak menghampiri keberadaan mereka.


Keluar dari mobil, Eza langsung keluar dan segera masuk ke restoran itu. Didapatinya Rio tengah sibuk dengan gawainya dan masih berhadapan dengan makanan yang cukup banyak. Tak sengaja Eza melihat ke arah gawai kakak iparnya itu. Bertambah murkanya saat ia tahu isi chat itu. Spontan ia menarik kerah baju Rio memaksanya untuk berdiri.


“Ada apa ini? Kamu kenapa Za?” tanya Rio yang kaget saat melihat ada adik iparnya di sana.


“Ada apa kamu bilang! Kamu berani mengusik, harusnya kamu berani bertanggung jawab dan bersiap-siaplah untuk berakhir!” tegas Eza.


Sontak layangan bogem keras melayang pada Rio. Eza benar-benar sudah tak bisa menahan amarahnya. Bertubi-tubi Eza meninju pria b*jat itu. Hingga datanglah Wardah yang sudah kaget melihat kegaduhan ini. Ia berusaha menahan suaminya untuk tidak kembali menghajar. Bahkan petugas di sana juga tampak kuwalahan melerai Eza.


“Mas, udah Mas! Kalau gini, nanti kamu malah juga bisa terjerat!” teriak Wardah yang tak digubris oleh suaminya sendiri.


“Mas Eza! Udaahhh!” dengan berteriak Wardah memberanikan diri untuk berdiri ditengah-tengah laki-laki itu.


Hampir saja kepalan tangan itu mengenai wajah ayu itu. Wardah membuka matanya perlahan. Tak dapat dipungkiri, sebenarnya ia takut terkena pukulan suaminya sendiri. Dilihatnya kepalan itu terhenti tepat di depan wajahnya. Beruntung Eza bisa mengerem gerakannya. Tapi ia masih ngos-ngosan mengatur amarahnya.


“Sudah ya, kita bicarakan baik-baik. Kalau begini nggak akan menyelesaikan masalah. Kita atur bersama Kak Winda, dia nggak akan suka kalau Mas bertindak seperti ini. Aku pun juga nggak suka,” lirih Wardah menepuk lembut kedua pundak suaminya. Meski dengan mendongak, ia rela asalkan suaminya tenang.


“Dan Lo! Jangan harap bakalan hidup ayem, tenang, bahagia lagi! Lo bakalan nyesel mainin kakak Gua!” teriak Wardah berbalik menghadap Rio.


Plak! Ditambah tamparan dengan sekuat tenaganya kemudian ia menggandeng suaminya untuk keluar dari restoran yang sudah ramai perkumpulan itu. Tak lupa Eza menyaut gawai Rio sebagai tambahan bukti nantinya.


...Bersambung...