
Eza meminta kepada Faiz agar menunggu di mobil, dan dirinya menjemput Wardah di ruangannya.
"Ay?" panggil Faiz di ambang pintu ruangan Wardah.
Wardah yang masih berkutik dengan komputernya melengos seketika. Melihat ke kanan dan ke kiri ternyata semuanya sudah tersenyum mendengar panggilan sayang Bosnya untuk Wardah. Wardah segera merapikan barang-barangnya. Beruntung pekerjaannya sudah selesai.
"Udah kangen tuh Si Do'i," celetuk Kak Nuy.
Wardah tersenyum menanggapinya. Ia berpamitan kemudian menghampiri suaminya.
"Malu tahuu dilihat orang," ujar Wardah menyambut uluran tangan Eza.
"Malu kenapa Ay?" tanya Eza pura-pura tak tahu.
"Hiisshh, jangan manja di depan orang ih," jawab Wardah.
"Haha, nggak boleh malu dong! Harusnya kamu bersyukur punya suami yang super bucin," balas Eza.
"Nggak gitu konsepnya Mas," jawab Wardah memutar bola matanya jengah.
Dirangkulnya pundak Wardah tanpa ragu. Senang rasanya menggoda Sang istri. Selama perjalanan, Wardah mengobrol bersama Faiz. Tak lupa Eza pula tentunya. Sebelum pulang, mereka singgah terlebih dahulu di sebuah butik. Menyiapkan gaun untuk acara perayaan kantor besok malam.
Wardahlah yang bertugas memilihkan pakaian untuk orang rumah. Tak terkecuali sahabatnya tercinta dan baby twins. Bukan hanya kaum hawa, tapi juga untuk para laki-laki.
"Ay, kamunya milihin yang lain tapi untuk diri sendiri belum dapet," ujar Eza.
Memang sedari tadi istrinya sibuk memilihkan yang terbaik untuk orang lain, tapi ia belum menemukan dress yang sesuai untuk dirinya sendiri. Beberapa kali Wardah video call terhadap Anisa dan para Mama untuk menanyakan kesesuaian pilihan Wardah. Eza berinisiatif memilihkan dress untuk istrinya. Ada salah satu dress yang menyita perhatiannya. Ia rasa itu cocok untuk dikenakan Wardah.
"Coba deh Ay yang ini," ujar Eza.
"Iya kak, cantik juga pilihan Kak Eza," sambung Faiz.
***
Sampai di mansion, mereka bertiga sudah disambut oleh dua baby yang tengah mengoceh bersama Mama Eza dan Bunda. Wardah yang membawa bag sontak memberikan kepada suaminya. Sedangkan dirinya menghampiri Bunda dan mertuanya.
"Aaaa!!! Comel banget sih duo kembar ini," gemas Wardah yang kini sudah menggendong salah satunya.
Capeknya hilang sudah setelah bertemu makhluk lucu ini. Tak berselang lama datanglah Anisa yang membawakan mangkuk berisi bubur dan air. Saatnya si kecil makaan. Tentu saja bukan Anisa yang menyuapi si kecil, siapa lagi kalau bukan Wardah.
"Kapan ya Mas, kita punya yang seperti ini," gumam Wardah yang kebetulan duduk bersama Eza. Sedangkan yang lain sibuk mencoba dress yang dipilih Wardah.
"Sabar, Allah pengen kitanya pacaran sedikit lebih lama lagi," jawab Eza mengecup hidung Wardah.
Wardah tersenyum simpul menanggapi Eza, dan kembali berfokus pada si kembar. Mereka menghabiskan waktu sore di ruang keluarga. Hingga azan maghrib berkumandang saatnya sholat kemudian bersiap ke acara ulang tahun stasiun tv Eza.
Wardah mengenakan dress berwarna baby pink dengan heels putih. Sedangkan Eza mengenakan kemeja putih dengan jas hitam. Mereka telah bersiap untuk berangkat. Bunda mengajak Anisa, Farhan, dan Faiz duduk di meja yang telah ditunjukkan Eza. Sedangkan Wardah mengikuti Mama menyapa para tamu undangan. Berhubung Wardah adalah istri dari seorang pemilik acara mau tak mau harus ikut menyapa.
"Ma, Wardah gugup," lirihnya.
"Tenang, ada Mama," jawab Mama menenangkan.
Mama paham benar bagaimana perasaan menantunya itu. Mengingat ini merupakan acara perdana. Dulu ia juga seperti itu saat perdana mengikuti suaminya mengadakan acara.
"Ada aku juga Ay," sambung Eza.
Wardah menggandeng lengan Eza menenangkan kegugupannya. Dielusnya punggung tangan Wardah untuk menenangkan.
...Bersambung...