Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Ngilang


Keluar dari persembunyiannya, ruangan tampak sepi dan sunyi. Wardah sudah siap dengan setelannya. Sekarang adalah tepat dua bulan ia ada di Jakarta. Dan kali ini hari terakhir Wardah dimentori oleh Mas Angga.


Selama itu pula Wardah selalu berangkat dan pulang bersama Caca. Seperti saat ini, Wardah sudah satu mobil dengan Caca yang mengemudikan.


"Kok aku nggak pernah nampak Mas Al ya?" tanya Wardah. Biasanya ia akan bertemu Aditya ketika berangkat ataupun pulang kerja, tapi sudah lama ia tak melihatnya kembali.


"Dia pulang ke Jogja. Papanya memintanya untuk membantu mengurus perusahaan di sana. Nggak tahu dah kok bisa selama ini. Padahal pamitnya cuma dua minggu, eh ini nyampe 1 bulan lebih," jawab Caca.


"Kenapa? Kok kepo?" selidik Caca.


"Eh! Nggak papa, cuma kadangkan sering ketemu, eh kok tiba-tiba udah nggak pernah ketemu lagi," jawab Wardah.


"Kayaknya lagi ada masalah di perusahaan Papa-nya deh. Tapi dia sering ikut rapat mingguan kok. Kamu aja yang belum pernah ikut rapat, nanti kalau udah jadi bagian tetap pasti kamu juga ikut rapat," sambung Caca.


.


.


.


Setelah perjalanan panjang melewati kemacetan akhirnya sampai juga di kantor. Mereka berdua berpisah menuju divisi masing-masing. Wardah masih menunggu panggilan untuk penempatan kerjanya.


"Wardah, dipanggil Bu Hesti," panggil salah satu rekan kerjanya.


"Oh iya! Terima kasih," jawab Wardah. Bu Hesti adalah kepala divisi news. Mungkin juga beliau yang akan menempatkan Wardah ke pekerjaan barunya.


Wardah segera menuju ruangan Bu Hesti. Untung saja masih satu lantai. Ia tak perlu antri lift. Pandangan Wardah tertuju pada sebuah pintu megah bertuliskan pimpinan perusahaan dengan istilah CEO. Selama disini ia belum pernah melihat pimpinan perusahaan kepenyiaran ini.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum, mohon maaf bu," lirih Wardah.


"Waalaikumussalam, sini Wardah. Silahkan duduk," ujar Bu Hesti.


Dengan sopan Wardah duduk di hadapan Bu Hesti. Caca pagi tadi sempat memberi tahunya bahwa kemungkinan dirinya akan ditunjuk menjadi presenter. Wardah takut, ia belum siap dikenal seluruh penonton penjuru dunia.


"Wajah kamu kenapa tegang begitu? Hahaha. Tenang saja..." ujar Bu Hesti. Wardah hanya tersenyum canggung jadinya.


"Kinerja kamu sangat baik Wardah, Angga juga mengakui itu. Jadi, mulai hari ini kamu bisa bekerja menghandle penayangan berita. Kamu bisa tanya Angga apa saja tugas kamu yang baru. Kamu juga akan diberi tanggung jawab menjadi produser penayangan berita. Sebenarnya saya ingin kamu menjadi presenter, tapi Mas Adit memberi tahu pada saya jika kamu belum siap." jelas Bu Hesti lagi.


"Mas Adit disini bekerja di divisi apa Bu?" tanya Wardah.


"Hahaha, pertanyaan apa itu? Dia CEO di perusahaan ini. Saya kira kalian cukup dekat, tapi nyatanya tidak, hahaha," jawab Bu Hesti dengan tawa renyahnya.


Wardah melongo dibuatnya. CEO? Jadi selama ini ia sudah berbincang dengan pemilik perusahaan ini? My to the god!


"Ya sudah, mungkin hanya itu Wardah. Kamu bisa langsung bekerja." ujar Bu Hesti.


"Baik, terima kasih bu. Saya permisi, assalamu'alaikum," pamit Wardah.


.


.


.


Kini Wardah sudah duduk di kursi kebesarannya. Komputer paten miliknya. Bahagia sekali rasanya. Kini Wardah menjadi salah satu produser penayangan berita. Untung saja ia mengikuti arahan Angga dengan baik selama diklat.


"Makan dulu, jangan dipaksakan, kesehatanmu lo!" ujar Mas Angga.


"Ciee! Perhatian," goda Wardah.


"Nanti saya yang susah kalau kamu sakit," celetuk Mas Angga.


Dasar! Jika biasanya semua penayangan berita di handel oleh Angga dan Mbak Intan, kali ini akan di handel oleh Wardah juga. Liputan pagi, siang, dan petang dibagi anak tiga itu. Secara bergilir.


Di hari pertamanya ini Wardah mempersiapkan liputan siang. Mulai dari edit naskah, VO, hingga berjalannya live acara.


"Pak! Frame yang ini kurang pas deh kayaknya," ujar Wardah. Kini ia sudah ada di studio memastikan acara berjalan lancar.


"Sip! Mantab! Gas! Mulai kita," jawab Wardah.


Selama satu jam Wardah di studio. Untung saja rekan kerja di studio tampak suport. Wardah tak canggung lagi. Mungkin karena sudah sering berinteraksi karena mengikuti Mas Angga.


"Asik ngobrol sama kamu Wardah, dari pada sama Angga. Kaku banget. Bisa-bisanya kamu betah dimentorin dia," celetuk Pak Hendro disela-sela syuting.


"Hahaha, iya ta Pak? Kalau nggak betah pulang aja wes saya ke Jombang, hehehe," jawab Wardah.


.


.


.


Tepat pukul 14 Wardah menyelesaikan tugasnya. Saatnya ia pulang! Besok ia kembali ke kantor selepas subuh. Untuk menghandle liputan pagi.


Lift siang ini tampak senggang. Mungkin karena hanya divisi news yang tak menggunakan jadwal tetap.


"Assalamu'alaikum Ukhti," sebuah tangan menghalangi pintu lift tertutup.


Wajah Aditya terpampang dengan pahatan mulus tepat di hadapan Wardah. Baru pagi tadi ia mendapatkan informasi mengejudkan, kini ia sudah berhadapan dengan orangnya.


Ehm! Dehaman Aditya membuyarkan lamunan Wardah.


"Waalaikumussalam," jawab Wardah dengan merundukkan badannya. Ia harus sopan dengan pimpinannya.


"Hey! Kamu kenapa ala-ala jepang korea gitu sih?" tanya Aditya heran.


"Maafkan perilaku saya yang nggak sopan dengan Bapak selama ini. Maafkan saya, karena baru tahu kalau bapak atasan saya," lirih Wardah.


"Apa kamu ini. Males saya kalau udah gitu! Bersikap seperti biasanya saja, saya tak suka jika kalian terlalu hormat dengan saya." gerutu Aditya.


"Saya sungkan," lirih Wardah.


Aditya menarik lengan baju Wardah agar mengikutinya. Bahkan Wardah tak sadar jika kini ia sudah di lantai basement dan sudah di mobil Aditya.


"Kok pakai paksaan?" gumam Wardah.


"Kamu aja diam aja waktu saya tarik, hmm," jawab Aditya.


Wardah hanya diam tak tahu hendak menjawab apa. Benar juga, kenapa hanya diam saja tadi?


"Langsung pulang?" tanya Aditya yang kini sudah menjalankan mobilnya.


"Ke cafe dulu yok Mas, mau nyiapin berita buat besok pagi. Males mau ngerjain dadakan," jawab Wardah.


"Oke!"


.


.


.


Sampailah kini Wardah dan Aditya di cafe pilihan Aditya. Sengaja memilih cafe free WiFi agar Wardah mudah mengerjakannya. Sampai di lokasi, Wardah langsung membuka laptop nya dan memulai mengerjakan. Aditya yang memesankan cemilan dan minuman.


Ckrek!



"Sadar banget sih ada camera on!" celetuk Aditya duduk di hadapan Wardah.


"Hehehe, iya dong," jawab Wardah.


...Bersambung... ...