
Apartemen ini berbeda dengan miliknya ataupun Caca. Ruangannya sangat besar, dan lebih luas. Wardah mengikuti Aditya ke dapurnya. Tampak beberapa piring tergeletak di atas meja makan. Sepertinya itu bekas makanan semalam.
"Ambillah sesukamu," ujar Aditya yang kini berdiri menyender pada pinggiran meja makan.
"Emmm... Ntah kenapa, aku sedikit canggung hendak memanggil dengan sebutan Mas," lirih Wardah duduk di kursi samping Aditya.
"Canggung? Hahaha. Tak apa, senyamanmu saja memanggilku apa. Tapi jangan Bapak ataupun Om. Kamu belum terbiasa, makanya jadi canggung," jawab Aditya.
"Namaku Naufal Altheza Adytama, aku lebih senang jika kamu tak memanggilku dengan sebutan Aditya," sambung Aditya.
"Emm, kupanggil Mas Al saja kalau begitu." celetuk Wardah.
"Hobi kanu sama dengan Mama saya ternyata, nonton Mas Al dan Andin," jawab Aditya dengan tawa renyahnya.
"Oh! Bukan-bukan, aku hanya suka saja dengan sebutan Al, film itu aku nggak pernah nonton malahan," sanggah Wardah. Kalau yang ditanya Bunda, baru benar itu.
"Oke-oke! Panggil saja itu," ujar Aditya dengan senyuman yang di tahan. Siapa tahu kecipratan kefames-an mas Aldebaran.
Wardah membuka lemari pendingin dan terkejoed melihat bahan makanan yang banyaknya Masyaallah. Lengkap sekali di dalam sini. Ada yang memasakkan untuk laki-laki itu sepertinya.
"Lengkap banget Mas?" tanya Wardah.
"Iya, kali aja ada yang mau masak." jawabnya.
Wardah mengambil udang, jamur tiram dan satu brokoli. Ia sebenarnya ragu, benarkah ia mengambil bahan masakan ini? Diletakkannya kembali bahan-bahan itu.
"Kenapa? Ambil aja nggak papa Wardah," ujar Aditya ketika menyadari jika Wardah tak jadi mengambil.
"Hehehe, bingung Mas," jawab Wardah beralasan. Aditya mengambil bahan masakan yang di ambil Wardah tadi. Ia juga membawakan bumbu-bumbu dapur lainnya. Ia tahu betul di dapur Wardah belum ada bahan-bahan masakan sama sekali.
"Nggak usah canggung, gantinya besok-besok kamu masakin aku atau ajak aku makan ajah," ujar Aditya.
"Hehehe, siap bos! Makasih ya Mas," jawab Wardah.
.
.
.
Wardah segera berkutik di dapur untuk membuat sarapan tamunya. Beruntung di dapur itu sudah lengkap semuanya. Hanya bahan masakannya yang meminta pada Aditya tadi. Tepatnya Aditya yang membawa.
"Butuh bantuan?" tanya Aditya menghampiri Wardah.
"Caca mana Mas?" tanya Wardah.
"Keluar beli minuman sama Hito," jawab Aditya. Wardah manggut-manggut paham.
"Saya bantuin apa ini?" tanya Aditya lagi.
"Mas Al bisa masak?" tanya balik Wardah.
"Kita coba saja," jawab Aditya.
Mas Al. Eaakk! Sekarang Lhu-lhu mau ikutan manggil Mas Al dah...
Aditya mengambil sebilah pisau dan berdiri di samping Wardah. Wardah mengambil pisau di tangan Aditya. Tak menyetujui jika laki-laki itu memegang divisi potong memotong.
"Kenapa nggak pakai blender aja?"
"Lebih enak ulek tangan Mas," jawab Wardah gemas.
Aditya tersenyum melihat Wardah yabg dengan telatennya mengupas bawang-bawangan untuk diulek. Aditya mengulek bahan yang sudah dikupas dan disiapkan Wardah. Wardah speechless memerhatikan Aditya.
"Ehm!" dehaman Aditya membuyarkan lamunan Wardah.
Wardah segera melanjutkan pekerjaan yang lain. Udah dan brokoli untuk campuran jamur harus ia cuci. Masakan ini harus cepat selesai. Ia belum mandi juga.
Selesai ulek-mengulek, giliran Wardah beraksi kembali. Aditya menyender pada pinggiran meja masak menghadap Wardah yang tengah oseng mengoseng.
Deringan ponsel Wardah mengusik acara masaknya. Ia sempat bingung bagaimana mengangkatnya. Pasalnya gawai Wardah jauh dari jangkauannya.
Aditya berlari mengambil gawai Wardah. Tertera di sana nama Bunda yang menelepon.
"Saya angkatkan?" tanya Aditya sembari menyodorkan pada Wardah. Wardah mengangguk setuju.
"Waalaikumussalam, maaf Bun, Dedek lagi masak ini," jawab Wardah sembari mengaduk bahan masakannya. Aditya masih membantu memegangi gawainya.
"Udah pindah kos apa belum?" tanya Bunda.
"Udah Bunda, subuh tadi pindahan. Dibantuin sama temennya Caca juga," jawab Wardah. Aditya di samping Wardah tersenyum mendengarkan percakapan ibu dan anak itu. Karena menang di loubspeker.
"Masak yang banyak buat Caca sama temennya itu. Bilang makasih kalau udah dibantu dek," ujar Bunda.
"Iya Bunda sayang, ini Dedek juga udah masak banyak. Tapi bahan-bahannya minjem dulu sama tetangga. Di tempat dedek belum ada bahan-bahan sama-sekali Bun," rengek Wardah.
"Ya udah nggak papa. Bunda mau nerusin masak dulu kalau gitu dek... Hati-hati di kota orang. Assalamu'alaikum," ujar Bunda.
"Siap Bund, waalaikumussalam," jawab Wardah. Aditya masih memerhatikan Wardah. Peluh Wardah menambah nilai plus dihadapan Aditya. Apalagi saat dirinya mengusap. Damagenya itu lhoo!
"Udah Mas," ujar Wardah ketika melihat gawainya masih menempel di jilbabnya. Aditya malah melamun.
"Oh! Iya, maaf," jawab Aditya. Meletakkan gawai Wardah di atas meja makan.
"Jeng! Jeng! Jeng! Jeng! Alhamdulillah selesai juga," celetuk Wardah. Akhirnya menu terakhir tersaji juga.
"Mas Al kalau mau siap-siap kerja dulu nggak papa. Aku juga mau siap-siap, sambil nunggu Caca sama Mas Hito," ujar Wardah.
"Iya, kamu siap-siap dulu aja, biar saya yang siapin di meja makan," jawab Aditya mengambil alih mangkuk yang dibawa Wardah.
Wardah tampak ragu, jam sudah menunjukkan pukul 7. Akhirnya ia menurut.
"Ya udah, Wardah ke kamar dulu ya Mas," pamit Wardah.
Selesai menyiapkan perintilan makan, Aditya kembali ke apartemennya untuk bersiap juga.
...Bersambung... ...