
Belum sempat menikmati makanan, mereka sudah dikejutkan dengan Eza yang membopong Wardah keluar dari restoran. Dengan cekatan Faiz berlari mendahului Eza segera membukakan pintu mobil.
Dua bocil yang bersama Mamanya sudah panik mencerca neneknya dengan berbagai pertanyaan dan kebingungan. Bahkan Dinda sudah merengek takut melihat Aunty-nya yang pingsan dibopong Eza.
"Anak-anak, tenang yaa, jangan nangis... Nanti Aunty tambah sedih lho kalau kalian nangis, kita berdoa biar Aunty nggak papa yaa," ujar Eza membantu Mamanya menenangkan dua bocil itu.
Inayah dan Dinda pun mulai menodongkan tangannya melafalkan doa-doa diikuti Mama Eza. Eza masih setia memangku Wardah dan mengusap lembut pipi chubby istrinya itu. Ia sendiri masih menerka-nerka ada apa gerangan dengan istrinya tadi. Tapi Eza juga cukup familiar dengan wajah laki-laki paruh baya yang bersama Wardah tadi. Tapi ia masih belum menemukan jawaban dimana ia pernah melihatnya.
Sampai di rumah sakit, Eza kembali membopong Wardah berlari menyusuri koridor rumah sakit. Mama mencoba membujuk kedua cucunya untuk mengajak mereka pulang. Khawatir jika nantinya malah mengganggu Eza yang mengurus Wardah. Dibantu oleh Faiz akhirnya kedua bocil itu setuju dengan syarat diantarkan kembali ke sini setelah Aunty-nya siap ditemui.
"Menurut pemeriksaan, kondisi Wardah sudah stabil dan tidak ada masalah apapun Za... Ada kejadian yang membuatnya syok? Paman rasa dia terlalu syok terhadap suatu hal hingga membuatnya tidak bisa mengontrol tubuhnya," jelas Paman Rich salah satu dokter kepercayaan keluarga Eza.
"Beruntung segera kamu bawa ke sini, jika tidak bisa menyebabkan hal yang fatal," sambungnya.
"Terima kasih Paman," jawab Eza.
Setelah selesai berbincang Eza segera menemui Wardah yang masih setia memejamkan matanya sedari tadi. Tangannya sudah terinfus untuk menambah stamina. Mengingat dirinya yang memang belum makan sedari tadi setelah perjalanan cukup jauh.
Tengah sibuk mengelus lembut punggung tangan Wardah, tiba-tiba Bunda sudah dating menghampirinya. Faiz langsung mengantarkan Bunda ke rumah sakit setelah mengantarkan Mama dan dua bocil tadi.
“Bunda?” sapa Eza menyambut Bunda dan mencium punggung tangannya.
“Kamu istirahat dulu saja Za, pasti kamu capek,” ujar Bunda mengelus Pundak menantunya itu.
“Nggak Bun, saya mau menjaga Wardah saja,” jawab Eza.
Eza menuntun Bunda untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Baru saja tadi Eza mendapatkan informasi dari orang suruhannya untuk menyelidiki laki-laki yang tadi bersama Wardah. Eza meminta maaf kepada Bunda terlebih dahulu karena hendak membahas hal yang sensitive. Takut jika nantinya membuka luka lama yang berangsur pulih itu.
“Bunda, Eza mau tanya, laki-laki yang ada di foto ini apa benar pembunuh Ayah?” lirih Eza menunjukkan foto yang ada di gawainya.
Hufft! Tampak Bunda menghembuskan napas beratnya sejenak sebelum menjawab.
“Dia bilang kepada Bunda bahwa dirinya akan menyerahkan diri kepada pihak berwajib. Tapi sebelum itu ia ingin berbicara dengan Wardah… Bunda takut jika Wardah akan kembali syok, ternyata itu terjadi hari ini Za,” sambung Bunda lagi.
“Bunda tenang yaa, biar urusan ini Eza yang handle. Eza akan usut tuntas semuanya!” ujar Eza menggenggam erat jemari Bundanya.
“Iyaa, Bunda percaya sama kamu Nak,” jawab Bunda.
Setelah puas berbincang dengan Bunda, Eza izin untuk keluar sebentar. Ia harus segera menyelesaikan permasalahan ini. Keluar dari Lorong kamar Wardah, Eza melihat Bapak yang menjadi sumber masalah hari ini. Sontak Eza langsung mengajak Bapak itu untuk berbincang di sebuah gazebo yang ada di taman rumah sakit.
Eza memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada Bapak itu sebelum menginterogasinya dengan berbagai banyak pertanyaan. Pak Bagas Namanya. Tapi Wardah memanggilnya denan sebutan ‘Om’. Jadilah Eza mengikutinya memanggil Om. Melihat dari gerak-gerik Om Bagas, Eza dapat melihat jika ada rasa khawatir, takut, bingung, menjadi satu di sana. Eza memang pernah belajar psikologi sebelumnya, sehingga ia tahu sedikit banyak mengenai kepribadian seseorang dari pandangannya.
Jika Eza lihat, Om Bagas juga bukan orang yang sembrono ataupun bertindak di luar batas. Tapi bagaimana mungkin dia tega ikut berkomplot untuk membunuh Ayah Mertuanya? Ada yang menjanggal di sini.
“Ada yang mau Om sampaikan?” tanya Eza akhirnya.
“Apa Istri almarhum sudah menceritakan pertemuan saya dengannya beberapa hari yang lalu?” tanya Om Bagas lirih.
Eza mengangguk menimpali. Menunggu ujaran dari Om Bagas kembali.
Benar dugaan Eza, dugaan penyidik atas dalang pembunuhan pun juga benar adanya. Tiga orang yang ada di TKP adalah kaki tangan dari seseorang. Seorang anggota dewan yang ada di kota asal keluarga Wardah. Tapi Eza masih belum tahu motif dari pembunuhan itu apa. Ada hubungan apa antara salah satu anggota dewan itu dengan Ayah Wardah?
Om Bagas benar-benar membuka semuanya. Ia berjanji akan menyerahkan diri dan juga menceritakan semuanya di pengadilan. Asalkan ia diberi kesempatan untuk bertemu Wardah. Anak kecil yang sudah ia hancurkan kasih sayangnya dari seorang ayah.
“Saya minta tolong awasi saya! Saya yakin Pak Bowo tidak akan tinggal diam setelah tahu saya akan membongkar semuanya.” Pinta Om Bagas.
“Saya akan meminta kepada orang saya untuk menjaga Bapak dan cucu Bapak saat ini,” ujar Eza.
Tersangka satu sudah ada dipihaknya, itu berarti akan sedikit lebih mudah untuk membuka kembali penyidikan lima belas tahun yang lalu.
...Bersambung ...