
...YOK KOMEN YOK!...
...YOK LIKE-NYA YOK!...
...YOK VOTE YOK!...
...YOK BINTANGNYA YOK!...
...YOK TONTON IKLANNYA YOK! ...
“Dada Abang Sakha!” seru Inayah dan Dinda setelah turun dari mobil.
“Dada Tatak!” balas Sakha melambaikan tangannya.
Kini Sakha sudah berpindah di pangkuan Wardah. Jangan kira setelah kakaknya turun, Sakha akan diam. Ia kembali mengajak Wardah dan Eza berceloteh ria. Lagu latar perjalanan yang biasanya sholawat atau pop kini pun berpindah Haluan menjadi lagu anak-anak. Dengan PD-nya Sakha menirukannya meski ucapannya belum jelas.
Sampai di kantor Sakha digendong oleh Eza dengan tangan sebelahnya menggandeng Wardah seperti biasa. Jika biasanya Eza atau Wardah akan disapa oleh setiap orang yang berpapasan dengan mereka, kini berbeda. Sakha-lah yang lebih sering sapa oleh orang-orang. Sakha yang melihat orang banyak menyapanya lantas tersenyum dan sesekali tertawa saat dilileng/ dikudang (Bahasa Jawa). Dilileng itu bahasa Indonesianya apaan yah? Hahaha, Lhu-Lhu ndak tahu.
Melihat anak seunyu itu tentu membuat Sebagian besar orang terpana melihatnya. Sukses deh buat lu Sakha. Pahala menyenangkan orang boleh juga nih! Bahkan di dalam lift Sakha juga harus meladeni para aunty-aunty yang mengajaknya bermain dengan pembahasan absurd mereka. Keluar dari lift seolah mereka akan berpisah sejauh sungai nill membentang. Drama melambaikaan tangan dimulai pada saat Eza dan Wardah keluar dari pintu lift.
“Abang Sakha sama Buna apa sama Ayah?” tanya Wardah saat tiba di depan ruangannya.
“Tama Yayah du u,” jawab Sakha.
Wardah mengangguk mengerti. Bersalaman dan diakhiri dengan ciuman hangat dari ketiganya barulah Wardah masuk ke ruangannya. Tak lupa dengan makanan Sakha yang masih dibawanya. Eza mengajak Sakha ke ruangannya sebelum bersiap untuk meeting. Sakha yang tak pernah rewel membuat Eza ataupun Wardah tenang meskipun mengajaknya ke tempat kerja.
Wardah disambut oleh wajah-wajah penantian para rekan kerjanya. Pasti mereka menanti kehadiran Sakha. Tampak sekali wajah kecewa mereka saat melihat Wardah hanya membawa badannya sendiri tanpa menggendong si kecil.
“Diajak kok! Lagi sama Mas Eza aja sekarang,” jawab Wardah dengan entengnya.
Melihat jam tangannya sudah menunjukkan waktu siaran, Wardah segera merapikan dirinya dan bergegas ke studio siaran. Para crew sudah siap di posisi masing-masing. Wardah juga sudah siap di tempatnya.
“Siap sagmen 1, and… Yok mulai!” aba-aba dari Pak Didik sebagai pimpinan redaksi.
Siaran kali ini hanya berjumlah 2 segmen. Karena memang hanya sekilah redaksi. Siang nanti baru Wardah kembali hadir untuk 6 segmen atau 1 jam penayangan live.
“Sip! Istirahat lima menit!” ujar Pak Didik kembali setelah menyelesaikan 1 segmen.
“Naa! Bu.. Naa!” panggil Sakha yang ternyata sudah berada di studio bersama Ayahnya.
“Hallo sayang… Sebentar lagi yaa, sebentar lagi Buna selesai,” ujar Wardah menghampiri anaknya.
“Mana Buna mu? Ha? Mana? Sini sama Pak Didik aja!” ujar Pak Didik yang keluar dari ruang oprator hendak menggendong Sakha.
Tapi sang empunya malah menangis kejer. Sama sekali tak mau menyambut uluran tangan Pak Didik. Sepertinya wajah Pak Didik sukses membuat Sakha takut. Para crew yang ada disana pun habis-habisan meledek Pak Didik karena tolakan Sakha.
“Pakai topeng badut dulu Pak biar Sakha-nya nggak takut,” ujar salah satu crew yang lain.
Eza mohon undur diri agar tangisan Sakha tak mengganggu proses syuting. Karena memang sebentar lagi segmen ke dua akan berlangsung. Wardah pun segera kembali ke podiumnya untuk membacakan berita.
...Bersambung...